Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat


بسم الله الرحمن الرحيم
Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja)

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم
Segala yg ada dan terjadi di dunia harus menjadikan pujian (pengakuan) terhadap Alloh. Karena tidak ada yg sia2 dari ciptaan Alloh SWT.

مالك يوم الدين
Alloh adalah dzat yg merajai secara halus. Segala yg ada di dunia diciptakan dan milik Alloh maka kita tidak pantas mencaci makinya.

إياك نعبد
Kita tidak berkuasa apa2, oleh sebab itu kita harus pasrah terhadap segala ketentuan Alloh.

إياك نستعين
Pertolongan Alloh dengan sendirinya akan datang tanpa harus diminta, jika kita sudah bisa mengamalkan hal tersebut di atas (ayat 1-4).

إهدنا الصراط المستقيم
Jalan yg lurus adalah pengamalan/praktek dari ayat 1-5.

صراط اللذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Ikutilah orang2 yg sudh bisa mengamalkan jalan tersbut, dan jangan ikuti orng2 yg sesat.

Surat al fatihah menjadi pembuka al quran dan menjadi kunci kehidupan kita dunia dan akhirat. Maka surat ini jangan hanya dibaca ketika hendak wirid, tawasul, dan hadiah untuk orang mati tetapi surat ini merupakan batasan dan pekerjaan yg baik bagi kita yg masih hidup. (di ambil dari Pesan Muallim, Ustdz.Sarohman Asymuni. 23 Jan 16)

Tanamlah Wujud dirimu di dalam Tanah yang Dalam

Tanamlah wujud dirimu di dalam tanah yg dalam, segala yg tumbuh dari yg tidak ditanam, pertumbuhannya tidak akan menjadi sempurna (Syarah Al Hikam).

Rahasiakanlah segala amal perbuatan yg kita lakukan dari pandangan manusia yaitu ingin dipuji, disanjung, diakui, dihormati, merasa berjasa, merasa paling benar, pura-pura tawadhu, pura-pura merendah, ingin terlihat beda dari yg lain, berpakaian yg katanya seperti Nabi supaya disebut sebagai orang alim.

Ingatlah! Segala amal yg kelihatan di permukaan ibarat buih yg akan hilang tak berharga, ibarat fatamorgana yg tak nyata. Ruh dari segala amal adalah ikhlas yg ditanam & dirahasiakan dalam hati. Oleh sebab itu tanamlah niatmu di dalam hati yg paling dalam jangan sampai terlihat oleh pandangan manusia.

Terkadang hati manusia tidak bisa diajak diam ketika kebaikannya dilihat orang. Hati cenderung pengen ngomong "ini karena aku, lihat aku telah menolong, lihat aku nih rajin dzikir, rajin sholat, rajin puasa, ahli ma'rifat, ahli tasawuf, rajin menulis ilmu, rajin ceramah, rajin khotib, aku ga susah-susah dapet rizki, beragama ikutin aku, lihat pakaianku sederhana, aku bulak balik haji & umroh, apa gua kata, lihat aku yg berjasa, kalau bukan karna aku...., dan lain sbagainya". Orang seperti ini akan menguji orang lain supaya ia terlihat lebih dibandingkan yg lain, dia akan kecewa hatinya kalau tidak ada yg memperhatikan amalnya. Karena hatinya sudah kluar dari tempat yg semestinya.

Tanamlah ikhlas dalam hati yg paling dalam sebab itu yg akan bermanfaat di dunia & akhirat. (di ambil dari tulisan ustdz. Sarohman Asmuni, 2 Feb 2016).

Konsep Taubat dalam Persfektif Tasawuf

Peradaban dunia dewasa ini tengah dihadapkan pada kehidupan dunia modern, di mana penekanan individual dan rasionalisme-empiris serta sikapnya yang sangat agresif terhadap kemajuan menjadi salah satu ciri masyarakat yang paling menonjol. Harus diakui bahwa modernisme telah memacu perkembangan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Namun pada saat yang sama, modernisme menggiring manusia memasuki masa-masa krisis bagi kualitas kemanusiaannya.

Hal ini, ditandai dengan fenomena perilaku dan pola pikir manusia yang semakin menjauh dari eksistensi kemanusiaannya. Nilai-nilai kemanusiaan telah banyak diabdikan dan dikorbankan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Supremasi rasionalisme, empirisme, positivisme dan pragmatisme tampil dengan gagahnya, seraya dianggap telah berhasil menggeser dogma agama. (Nurcholis Madjid, 2000. 97)

Abdul Karim bin Muhammad al-Jilli

Al Jilli lahir pada tahun 1365 M, di Jilan (Gilan). Sebuah provinsi di sebelah selatan kasfia dan wafat pada tahun 1417 M. Sedangkan nama Jilli di ambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Al Jilli adalah seorang sufi yang terkenal di Baghdad. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui oleh para ahli sejarah, tapi sebuah sumber pernah menyatakan bahwa ia telah melakukan perjalanan ke India pada tahun 1387 M, kemudian belajar tasawuf di bawah bimbingan Syaikh Abdul Qodir al Jailany. Selain itu al Jilli juga berguru pada Syaikh Syafaruddin Isma’il bin Ibrahim al Jabiri di Zabid (Yaman) pada tahun 1393-1403 (Rosihin Anwar. 253, 2007).

Abdul Karim bin Muhammad al Jilli merupakan sufi kreatif, ia banyak menulis tentang tasawuf sekitar dua puluh buku,  di antara karangannya yang terkenal adalah: 1. Al Insan al Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awa’il, 2. Al Kahf war Raqim fi Syarhi Bismillahirrohmanirrohim. Al Insan al Kamil adalah sebuah buku yang pernah menggemparkan ulama-ulama sunnah dan fiqih pada masa itu, padahal isinya hanya sekedar menjelaskan buah fikiran Ibnu Arabi dan Jalaluddin ar Rumi (Proyek Pembinaan PTAIN. 86, 1982).

Tokoh Nusantara

Abdul Rauf Singkel

Islam sebagai gagasan dan menjadi agama mayoritas di Nusantara menggunakan Aceh sebagai pintu gerbangnya. Banyak perdebatan mengenai kedatangan awal Islam di nusantara, akan tetapi itu semua mengkristal bahwa Aceh adalah daerah pertama di Nusantara yang menerima Islam. banyak pengamat mengatakan bahwa Islam sudah disebarkan di Aceh pada abad pertama Hijriah. Dan menjadi “resmi’ pada abad 12-13 Masehi. 

Ini ditandai dengan adanya makam Sultan Kerajaan Pasai.  Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh Darussalam sedang berada dalam puncak keemasannya. Demikian pula dengan kegiatan keagamaaannya dipimpin oleh tokoh tasawwuf wujudiyah Syamsuddin Pasai, seorang pengikut Hamzah Fansuri. Dengan kondisi pemerintahan dan keagamaan seperti ini, Aceh menjadi tumpuan para ulama dari Timur Tengah di Asia Tenggara. Termasuk Nuruddin Ar-Raniry dan Abdurrauf Singkel.

Biografi Abdurrauf
Nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi. Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barus, sebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu.

Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin as-Sumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia.
 
Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurrauf kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. (lkara.wordpress.com)

Beliau wafat 1693 dan dimakamkan disamping makam Teungku Anjong yang dianggap paling keramat di Aceh, dekat kuala sungai Aceh. Oleh karena itulah beliau dikenal dengan sebutan Teungku di Kuala, hingga kini makamnya menjadi tempat ziarah berbagai lapisan masyarakat, baik dari Aceh sendiri maupun dari luar Aceh. Berkat kemasyhurannya, nama al-Singkily diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh yaitu Universitas Syiah Kula. (darisrajih.worspress.com).

Karya-karyanya
Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu sastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain;

‘Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin; dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab.

Mir’at al-Tullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyah li’l-Malik al-Wahab. Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafi’i. Ilmu mu’amalat yang tidak dibicarakan dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini.

Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin. Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf.

Mau’izat al-Badi’ atau al-Mawa’ith al-Badi’ah. Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Qur’an, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulama-ulama besar.
Tafsif al-Jalalain. Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10.

Tarjuman al-Mustafiq. Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid).

Syair Ma’rifat. Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi(lkara.wordpress.com).

Pemikirannya
Dalam seluruh tulisannya, seperti gurunya al Kurani, menunjukkan bahwa perhatian utamanya adalah rekonsiliasi antara syariat dan tasawuf, atau dalam istilah sendiri, antara ilmu zhahir dan ilmu batin. Karena itu ajaran-ajaran yang diusahakannya untuk disebarkan di wilayah melayu –Indonesia adalah ajaran-ajaran yang termasuk ke dalam Neo-Sufisme. Hal ini dapat dilihat dari karya-karyanya yang menekankan bahwa tasawuf harus berjalan seiring dengan syariat. Menurutnya, hanya dalam kepatuhan mutlak pada syariat para penganut jalan mistis dapat memperoleh pengalaman haqiqah (realitas) sejati. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama..1999. 208)

Al Singkili merupakan ulama pertama di wilayah Melayu-Indonesia yang menulis fiqh muamalat. Melalui kitab Mir’at al Thullab yang menunjukkan kepada kaum Muslim Melayu bahwa doktrin-doktrin hukum islam tidak terbatas pada ibadah saja tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari mereka.

Al Singkili menulis bukan hanya untuk kaum muslim awwam tetapi juga untuk kalangan elit (al khawwas) mengenai topik-topik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu batin seperti kalam dan tasawuf. Al Singkili dalam karyanya Kifayat al-Muhtajin ila Masyrah al-Muwahhidin al-qa’ilin bi Wahdah al-Wujud, mempertahankan transedensi Tuhan atas ciptaan-Nya. Dia menolak pendapat wujudiah yang menekankan emanasi Tuhan atas ciptaan-Nya. Al Singkili berargumen sebelum Tuhan menciptakan alam raya, Dia selalu memikirkan tentang dirinya sendiri, yang mengakibatkan terciptanya nur Muhammad (cahaya Muhammad). Dari Nur Muhammad itu Tuhan menciptakan pola-pola dasar permanen yaitu potensi alam raya yang menjadi sumber dari pola-pola dasar luar, ciptaan dalam bentuk kongkritnya. Al Singkili menyimpulkan meski pola-pola dasar luar merupakan emanasi dari wujud mutlak, mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri. Hubungan keduanya seperti tangan dan bayangannya. Meski tangan hampir tidak bisa dipisahkan dari bayangannya, yang terakhir itu tidak sama dengan yang pertama. (Azyumardi Azra,1999. 206).

Tetapi perlu diingat, pendekatan al Singkili pada pembaruan berbeda dari pendekatan ar-Raniry: dia adalah mujaddid bergaya revolusioner bukan radikal. Oleh karena itu, seperti Ibrahim al Kurani, dia lebih suka mendamaikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan daripada menolak salah satu diantaranya.

Dari beberapa pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa kedua tokoh tersebut, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf Singkel  termasuk dalam kategori Neo-Sufisme, yaitu pembaharuan dalam ajaran tasawuf, karena beliau telah merubah cara pandang ajaran kaum sufi yang telah lama berkembang di Aceh, yang sangat mempercayai atau mengagung-agungkan faham “wujudiyah”.   Meskipun keduanya sama-sama menolak paham “wujudiyah”, tetapi  mereka berbeda dalam hal cara/metode yang digunakan. Abdurrauf tidak begitu keras, Walaupun beliau termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri.

MAQAMAT


(Zuhud, Taubah, Wara', Faqr, Sabar, Tawakal & Ridha)
Maqamat secara harfiah berasal dari bahasa Arab, yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah Swt. (Abuddin Nata, 2003. 193). Istilah maqamat (jamak: maqamat), di pahami secara berbeda dikalangan para sufi sendiri. Meski demikian, semuanya sepakat memahami maqamat bermakna kedudukan seorang pengembara spiritual di hadapan Allah Swt., yang diperoleh melalui kerja keras dalam beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadah) serta latihan-latihan keruhanian budi pekerti yang menjadikannya mampu untuk memiliki persyaratan-persyaratan dan melakukan upaya-upaya untuk menjalankan kewajiban sebaik-baiknya.

Muhammad al Kalabazy dalam kitabnya Al Ta'arruf li Madzhab ahl at Tasawuf, menuliskan 10 maqamat yang harus difahami oleh para pencari tuhan, sepuluh maqamat itu adalah at taubah, al zuhud, as shabr, al faqr, al tawadhu, al taqwa, al tawakal, ar ridha, al mahabbah, dan al ma'rifah.
Sementara Abu Nasr al Shirraj al Thusi dalam kitabnya al Luma', hanya menjelaskan enam maqamat yang harus ditempuh para sufi, diantaranya; al taubah,  al zuhud, al faqr, al tawakal, al ridla. Imam Ghazali dalam Ihya Ulummuddinnya, menyebutkan tujuh maqamat yaitu, at atubah, as shabr, al zuhud, al tawakal, al mahabbah, al ma'rifah, al ridha.

Melihat versi maqamat yang telah di kutip diatas, itu memperlihatkan  perbedaan versi penyebutan maqam. Adapun beberapa maqam yang sudah menjadi kesepakatan bersama dikalangan ulama sufi ialah at taubah, al zuhud, al wara, al faqr, as shabr, at tawakal dan ridha
.
Al Zuhud. Berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Menurut Harun Nasution zuhud berarti meninggalkan keadaan dunia dan hidup kematerian. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang paling urgen dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh dunia. Para muzahid lebih mengutamakan mengejar kehidupan akhirat dari pada dunia, hal ini dapat di sandarkan pada firman Allah Swt;

"Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan di aniaya sedikitpun. (QS. aN Nisa 4:77).

Kemudian dalam surah lain (QS. Al An'am 6: 32) juga dapat dilihat,  "Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya. Ayat ini memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia sementara, di bandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi. (Abuddin Nata, 2003. 194-195).

Secara hakikat zuhud dapat di bagi ke dalam tiga derajat zuhud, Pertama. Memaksakan zuhud terhadap dunia dan memerangi nafsunya dalam usaha meninggalkannya walaupun disukanya. Kedua. Zuhud terhadap dunia secara sukarela karena meremehkannya di samping apa yang di harapkannya. Semisal memberi tidak untuk meminta balasan. Walau is berada dalam posisi kekurangan.

Ketiga. Puncak kapasitas zuhud tertinggi yaitu bersikap zuhud dengan sukarela dan tidak merasakan zuhudnya, karena ia tidak menganggap bahwa ia meninggalkan sesuatu,karena mengetahui bahwa dunia bukan apa-apa. Maka janganlah mengandalkan  makan, minum, nikah, tempat tinggal, dan segala kebutuhanmu, kecuali sekedar yang engkau perlakukan untuk menegakkan badan dan menghidupi dirimu, inilah zuhud yang hakiki. (Imam al Ghazali, 1995. 277-278).

At Taubah. Secara etimologi kata ini berasal dari bahasa Arab (toba, yatubu, taubat, yaubatan yang artinya kembali.) Tobat yang di persepsikan para pengikut tasawuf adalah permohonan ampunan atas segala dosa, kesalahan, disertai janji sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan dosa itu dan disertai dengan melakukan aksi kebaikan. (Abuddin nata, 2003. 197-198).

Al Qur'an sebagai dasar konstitusi kehidupan manusia juga menganjurkan manusia agar bertaubat, hal ini dapat di lihat dalam firmannya:

" Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (Qs. Ali Imran, 3: 135).

Tobat pada kapasitasnya dalam tingkatan terendah adalah menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota badan. Naik ke level menengah, tobat menyangkut juga pangkal dosa-dosa, (dengki, sombong dan riya). Selanjutnya masuk ke level tertinggi tobat adalah menyangkut usaha menjauhkan bujukan syetan dan menyadarkan jiwa dari rasa bersalah. Pada tingkatan ini, tobat berarti penyesalan atas kelengahan dalam mengingat Allah Swt. Tobat pada tingkat ini merupakan penolakan terhadap sesuatu selain yang dapat memalingkan dari Allah Swt. (Rosihin Anwar, 2000. 71-72).

Al Wara'. Secara harfiah artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata ini kemudian megandung pengertian menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dalam terminology kaum sufi, wara' adalah meninggalkan segala yang di dalamnya terdapat keraguan antara halal dan haram.
Sikap menjauhi diri dari yang syubhat ini sejalan dengan hadist nabi yang berbunyi: "Baang siapa yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram.(HR. Bukhori).
Bagi kaum sufi pentingnya bersifat wara' menjaga diri dari yang syubhat merupakan sebuah sikap yang harus dilakukan untuk menjaga hati agar tidak ternoda dengan sesuatu yang belum jelas, karena dalam pandangan mereka sesuatu yang subhat itu lebih dekat kepada yang haram.

Al Faqr (Kefakiran).  Faqir biasanya di artikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Kaum sufi memandang faqir adalah tidak meminta-minta lebih dari apa yang telah ada pada kita. Tidak meminta sesuatu melainkan hanya untuk menjalankan keawjiban. (Abuddin nata, 2003. 197-198).

As Shabr (Sabar). Sabar adalah menahan diri dari melampiaskan syahwat dan berlarut-larut dalam melakukannya. Seseorang juga harus sabar bila di ganggu orang lain dengan perkataan dan perbuatan. Seorang sahabat nabi pernah berkata " Kami tidak menganggap iman seseorang sebagai iman bila tidak sabar di kala menghadapi gangguan".  Dalam al Qur'an Allah Swt juga berfirman: "Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada Kami, dan Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri".(Qs, Ibrahim 14: 12).

Sementara menurut Ibn Abbas kesabaran dalam al Qur'an terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu: kesabaran untuk menunaikan kewajiban-kewajiban karena Allah Swt dan ia mempunyai tiga ratus derajat, kesabaran untuk tidak melanggar larangan-larangan Allah Swt dan ia mempunyai enam ratus derajat, dan kesabaran dalam menanggapi musibah pada pukulan pertama ia mendapatkan Sembilan ratus derajat.

Tawakal. Merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan dirinya hanya kepada Allah Swt. Dalam hal ini al Ghazali mengaitkan tawakal dengan tauhid, dengan penekanan tauhid sebagai landasan tawakal. Menurut al Ghazali tingkatan tawakal dapat di persepsikan dengan; 1. Keyakinannya kepada Allah Swt. 2. Keadaannya kepada Allah seperti keadaan anak kecil terhadap ibunya. 3. Seperti pucatnya orang sakit yang bisa terus berlangsung dan terkadang lenyap. Lebih lanjut al Ghazali mengatakan kedudukan ketiga menolak perencanaan secara langsung selama ia tetap dalam keadaan itu. Kedudukan kedua menolak perencanaan, kecuali dari segi pegandalan kepada Allah Ta'ala dengan berdoa dan merengek seperti anak kecil memanggil ibunya. (Imam al Ghazali, 1995. 256-257).

Ridha (Kerelaan). Berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang di anugrahkan oleh Allah Swt.  Ridha juga rela melihat hikmah dan kebaikan  dai balik cobaan yang diberikan Allah dan tidak berburuk sangka kepadanya. Menurut Abdul Halim Mahmud Ridha mendorong manusia untuk berusaha sekuat tenaga mencapai apa yan dicintai Allah Swt dan Rasul Saw. Namun sebelum mencapainya harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apapun yang di sukai Allah Swt. (Rosihin Anwar, 2000. 73).

DAFTAR BACAAN
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003).
Imam al Ghazali, Mukhtasyar Ihya Ulumuddin, (Jakarta: Pustaka AMANI, 1995).
Rosihin Anwar, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka setia,2000).  
  

Dunia Sufisme

Konsep Cinta Sang Sufi Legendaris

RABIATUL ADAWIYAH



Biografi Spiritual Rabi'ah Adawiyah
Nama lengkap Rabi'ah adalah Rabi'a bin Ismail al Adawiyah al Bashriyah al Qaisiyah. Rabi'ah diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717M di perkampungan kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu tahun 185 H/ 801 M. Rabi'ah dilahirkan sebagai puteri keempat dari keluarga yang sangat miskin. Itulah yang menjadi alasan ia dinamakan rabi'ah.
Membaca perjalanan hidupnya, Sejak kecil Rabi'a adawiya dikenal sangat senang belajar menghafal al Qur'an, bila telah berhasil menghafalnya, Rabi'a duduk dan menghafalnya kembali dengan perasaan yang penuh khusu, iman yang mendalam dan pemahaman yang sempurna, yang menyebabkan ayahnya tak kuasa menahan air mata.
Bahkan tidak jarang pula ayah rabi'a melihat dirinya mengasingkan diri, bermuka muram dan sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadat kepada Allah swt, tak ubahnya sebagai tokoh-tokoh sufi yang telah mengemuka. Diceritakan pada suatu malam, ayahnya meninggalkan dirinya yang sedang membaca al Qur'an, menghadap kiblat sambil berdoa menengadahkan tangannya lalu menyapu mukannya dengan kedua tangannya setelah  berdoa. Dalam keadaan seperti itu, Rabi'a hidup dalam suatu keimanan, peribadatan dan zuhud, Rabi'ah seolah-olah telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan zaman. Dalam usianya yang terbilang muda, ia ditinggalkan ayahnya pulang ke rahmatullah yang tak lama setelah itu disusul oleh ibunya. Dengan demikian sejak kecil ia kehilangan kasih sayang dari orang tua, dan merasakan hidup sebagai anak yatim dalam kemiskinan (M. Athiyah Kamis. 09).
Dalam keadaan yang cukup memprihatinkan tersebut, Rabi'ah terus mencoba survive dengan meneruskan pekerjaan ayahnya menyebrangkan orang dari sungai dajlah ketepi sungai yang lain. Hal ini dilakukannya untuk mempertahankan hidupnya dan ketiga saudaranya. Perjalan spiritual Rabi'a mulai dirasakannya ketika pada suatu hari rabi'ah pulang ke gubugNya ia tertidur dengan nyenyaknya dan bermimpi sesuatu yang mengejutkan, dan mimpi itu terus berulang-ulang setiap malam. Dalam mimpinya ia melihat cahaya yang sangat cemerlang yang menerangi benda-benda disekitarnya. Menerobos hingga hati dan jiwanya seolah-olah bermandikan cahaya, mimpi itu terus menerus terulang pada setiap malamnya.
Bahkan pada suatu ketika rabi'ah berada dalam perahunya, ia mendengar suara-suara yang amat merdu, adapun suara-suara yang didengar rabi'a itu ialah:
Lebih indah dari senandung serunai yang merdu dikegelapan malam terdengar bacaan al-Qur'an.
Alangkah bahagianya karena Tuhan mendengarnya suara yang merdu membangkitkan keharuan dan air mata bercucuran.
Pipinya sujud menyentuh tanah bergelimang debu, sedangkan hatinya penuh cinta Illahi.
Ia berkata, Tuhan, Tuhanku, Ibadah padamu meringankan deritaku.
Bukan main terperanjatnya Rabi'a mendengar suara yang tidak terduga-duga itu. Rabi'a beruaha mencari-cari sumber suara itu, lebih-lebih tatkala ia mendengar bait-bait:
Ia Berkata, Tuhanku….Tuhanku….Ibadahku padaMu meringankan deritaku
Dalam sausana hati yang kebingungan, Rabi'a pulang kegubuknya, saat kondisinya yang mengantuk Rabi'a terperanjat karena melihat malaikat berupa cahaya mengelilingi tempat tidurnya, sambil bersenandung lagu yang pernah didengarnya. Dari pengalaman-pengalaman yang dialaminya Rabi'a memusatkan segala perhatiannya dalam pengabdian kepada Allah Swt.
Allah telah menerangi hati Rabi'a dengan nur Illahi, sehingga ia tenggelam dalam keasyikan cintanya terhadap Allah Swt. Lidah yang tak pernah putus-putusnya menyebut asmaNya. Sedemikian asyiknya dalam pengembaraan jiwanya mencari Tuhan, Rabi'a tidak lagi merasakan orang-orang disekitarnya. Bahkan orang-orang yang menaiki perahuNya mengira bahwa gadis ini sedang dilanda cinta mengenang kekasihnya.
Pada perjalanan hidupnya Rabi'a pernah tertangkap oleh penyamun dan dijual sebagai sebagai hamba sahaya dengan harga 6 dirham. Rabi'ah diperlakukan secara kasar dalam kesengsaraan, namun ia tidak pernah berkeluh kesah terhadap apa yang menimpanya. Ditengah kondisi yang menimpanya Rabi'a selalu memanjatkan do'a, dan salah satu do'a yang dipanjatkannya ialah mencari jawaban atas pertanyaan yang mengusik hatinya, apakah Tuhan ridha terhadap segala usaha dan amal perbuatannya.
Setelah menerima kemerdekaan dari Tuannya, Rabi'a hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai seorang zahidah sufiah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah sebagai kekasihnya. Rabi'a memperbanyak tobat dengan menjauhi duniawi, hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Dalam do'anya Rabi'a tidak pernah meminta hal yang bersifat materi kepada tuhanNya.
Pernyataan ini ternyata dipersoalkan oleh Badawi (Rosihin Anwar, 2000. 120) menurutnya Rabi'a sebelum bertobat pernah menjalani kehidupan duniawi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rabi'a tidak mendapat jalan lain kecuali menjadi penyanyi dan penari sehingga terbenam dalam kehidupan dunia. Argumentasi yang digunakan Badawi untuk menguatkan pendapatnya ialah intensitas Rabi'a itu sendiri, menurutnya keimanan dan kecintaan yang begitu ekstreemnya tidak mungkin dijalaninya tanpa ada sebab sebelumnya.
Hakikat Mahabbah Illahiyah
Rabi'a adalah seorang sufi yang meletakkan doktrin cinta tanpa pamrih terhadap Allah Swt. Suatu konsep yang terbilang baru dikalangan para sufi pada zaman itu. Menurut Rabi'a cinta berasal dari keazalian dan menuju kepada keabadian, serta tiada seorangpun dalam tujuh puluh ribu dunia ini yang mampu meminum setetespun dari cinta itu hingga akhirnya ia menyatu dalam allah. Dari situ maka berlakulah dalil ’’Dia mencintai mereka dan mereka mencintainya.(QS. 5: 59).
Secara singkat, definisi cinta menurut Rabi'a yang sering diajarkan adalah cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Rabi'a mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup yang lain selain kekasih yang dicinta. Ia harus memisahkan dirinya dari sesame makhluk ciptannya. Seorang sufi harus memalingkan punggungnya dari dunia dan dari segala daya tariknya. Manusia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak member ruang adanya kesenangan dan tidak juga kesengsaraan yang dapat mengganggu perenungan pada yang kudus. Dan Rabi'a mengajarkan cinta tanpa mengharap pamrih dari Tuhan yang maha kuasa. (Margaret Smith. 122-123).
Untuk memperjelas pengertian al Hubb yang diajukan Rabi'a yaitu hub al Hawa dan hub anta ahl lahu, penting melihat pandangan Abu Thalib al Makiy dalam Qut al Qulub sebagaimana dijelaskan Badawi yang menafsirkan bahwa makna Hubb al Hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah Swt. Adapun yang dimaksud nikmat-nikmat adalah nikmat materi, tidak spiritual, karena hubb disini bersifat hub inderawi. Adapun hub anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan inderawi, tanpa didorong dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa, keawjiban-kewajiban yang dijalankan Rabi'ah timbul karena perasaan cinta kepada dzat yang dicintainya (Rosihin Anwar. 120).
Mengenai konsep Ridha, diceritakan oleh Abu Thalib saat Rabi'a bersama Sufyan ats-Tsauri yang memanjatkan doa Ya Allah Illahi Rabbi, semoga engkau ridha dengan kita semua. Kemudian Robi'a mengomentarinya dengan Tak malukah engkau memohon ridha kepada Allah ta'ala sementara engkau sendiri masih belum ridha kepadanya. Mendengar ucapan Rabi'a demikian, akhirnya disambut kembali oleh sufyan Aku memohon ampun kepadaMu ya allah.
Tentang Syauq Rabi'a mengatakan rintihan dan kerinduan seorang pecinta pada kekasih yang tiada akan henti-hentinya hingga sang kekasih itu akan meridhoinya. Rabi'a lebih jauh juga mengatakan tentang Uns "bagi seorang yang taat, yaitu pecinta sejati akan mencari keintiman" (Margaret Smith. 112).
Ajaran tasawuf yang dibawa Rabi'a adawia dikenal dengan istilah Mahabbah. Paham ini merupakan kelanjutan dari tingkat kehidupan zuhud yang dikembangkan oleh Hasan Basri, yaitu takut dan pengharapan dinaikan oleh Rabi'a menjadi zuhud karena cinta. Cinta yang suci murni itu lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Rabi'a betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Allah Ta'ala (Abuddin Nata, 170).
Rabi'ah Adawiyah dalam perkembangan mistisisme Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah Swt. Dikarenakan generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Sikap dan pandangan Rabi'a tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Al Qusairy meriwayatkan bahwa ketika bermunajat Rabi'a menyatakan do'anya: "Tuhanku, akankah kau bakar kalbu yang mencarimu oleh api neraka", tiba-tiba terdengar suara "Kami tidak akan melakukan itu, janganlah engkau berburuk sangka kepada kami".
Pemikiran dan Syair-Syair Mahabbah Illahiyah Rabi'ah Adawiyah
Diantara do'a-do'anya yang indah diantaranya "Aththar" yang menunjukkan bagaimana arti do'a yang sebenarnya baginya. Yaitu bagaikan percakapan cinta dengan TuhanNya. Bukan permohonan atas nama dirinya atau yang lainnya. Tetapi lebih merupakan suatu percakapn sederhana dengan sahabat suciNya dan suatu keridhoan sempurna dengan kehadiranNya. Kecintaan Rabi'a kepada Tuhannya, diekspresikannya dalam untaian-untaian syair sebagai berikut:
"Ya Tuhan Bintang dilangit telah gemerlapan, mata telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintainya dan inilah aku berada dihadiratMu".
"Buah hatiku, hanya engkaulah yang kukasihi, Beri ampulah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu, Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain dari engkau".
Beberapa bait syair diatas menggambarkan rasa cinta Rabi'ah kepada Allah Swt, ia selalu memupuk kecintaannya kepada Allah Swt. Pernah ia berkata:
Ketika kudengar suara adzan, yang kudengar hanyalah panggilan kiamat, ketika kulihat salju, yang kulihat hanyalah bulu beterbangan, ketika kulihat belalang, yang teringat hanyalah hari perhitungan.
Akal dan pikiran Rabi'ah telah terpaut pada akhirat saja untuk menghadap Allah Swt. Rabi'ah merasa bahwa cinta kepada Allah Swt, haruslah merasuk dalam hati dan mengesampingkan semua selain kepadaNya. Sebagaimana dikisahkan Abu Said bin al Khayr bahwa ia mendengar hal itu dari Abu Ali sang ahli hukum. Rabi'ah ditanya dengan cara bagaimanakah ia mencapai keunggulan semacam itu dan ia menjawab, "dengan selalu mengucapkan, Aku berlindung kepadamu dari segala sesuatu yang menarikku dari diriMu, dan dari setiap rintangan yang dapat menghalangiku dariMu (Margareth Smith, 115).
Kompetebelitas Ajaran Rabi'ah dalam Konteks Kekinian
Ajaran-ajaran Rabi'ah tentang tasawuf dan sumbangsihNya dalam dunia sufi terbilang memiliki andil besar. Sebagai seorang guru dan penuntun kehidupan sufi, Rabi'ah banyak dijadikan rujukan oleh para pengikut madzhab sufistis, dan secara praktis penulis-penulis besar banyak yang menuliskan ajaran-ajaranNya sebagai kapasitas maqom tertinggi.
Untuk memahami ajaran-ajaran Rabi'ah penting sekali memahami gambaran secara singkat tentang doktrin sufi, dengan tujuan agar dapat memahami seberapa besar dan hakikat sumbangan Rabi'ah dalam perkembangan ajaran tasawuf modern. Diantara pandangan kaum sufi itu diantaranya:
Urusan manusia adalah menghapus sejauh mungkin elemen atau partikel-partikel yang bukan Allah untuk dapat menyatu dengan Allah Swt. Penggabungan dengan yang suci itu akan dapat dicapai pada saat kematian meskipun sebenarnya memungkinkan untuk dicapai pada saat hidup walau dalam tahap tertentu.
Maka pertanyaannya adalah bagaimana seseorang dapat menguasai elemen bukan Allah ?, prosesi itu dapat dilakukan dengan menaklukan diri dengan menanan cinta dan menyingkirkan bayangan gelap dari selain Allah Swt. Karena dengan konsep cinta seperti itu, akan tertanam pada jiwa manusia untuk menenangkan kembali sumber kesucian itu dan menemukan tujuan utama dari penyatuan kembali dengan kebenaran.
Adapun hal-hal yang kita dapat terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks masa kini, adalah membangun kebiasaan sikap tobat, menanamkan sifat sabar, selalu bersyukur kepada allah Swt, mengharap (Raja), rasa takut yang suci, faqir, zuhud mensucikan diri dari keramaian dunia dan hal-hal yang bisa mempengaruhi dan memberikan dampak buruk bagi kita.

Daftar Bacaan
Abuddun Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
Rasihin Anwar, Ilmu Tasawuf  
Muhammad Athiyah Khamis, Penyair Wanita Sufi Rabi'ah Adawiyah
Margareth Smith, Rabi'ah Pergulatan Spiritual Perempuan



Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...