Showing posts with label Sosiologi Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi Pendidikan. Show all posts

The views H.A.R. Tilaar on Multicultural Education in terms of the aspect of the teachings of Islam.

Education is a process for producing output that leads to the development of Human Resources (HR) of high quality. So that people can live maintaining its presence in the growing community. Conditions pluralistic society becomes a challenge for education in the entire accommodate these differences. In this thesis will explore the idea of ​​multicultural education by HAR Tilaar, then viewed from the perspective of Islamic teachings. This thesis is intended to explore the main points of HAR Tilaar thinking about multicultural education. Associated in Islamic doctrine is actually no difference between ethnic, racial, and so on. This study formulates the subject matter, namely; (1). How multicultural education in the view of HAR Tilaar ?, (2). How multicultural education in Islamic perspective ?.

In writing this essay, the author uses descriptive-analytic approach, so that the results are not in the form of numbers, but in the form of interpretation and words. Being data collection was done by using library research (literature review) by making books by HAR Tilaar as the primary data, and literature related to the object of this study as a secondary data. Then the data were analyzed by using content analysis that is by way of sorting the collected data to be analyzed in accordance with the required contents so it can be concluded.

Some basic ideas which can writer formulated after studying the problems are: (1). Social unrest arising in society are the implications of attitude panatisme one group against another group, or a lack of appreciation of all cultural differences (culture) are nearby. Proposed the idea of ​​multicultural education HAR Tilaar This is in order to answer all the problems that often occur in the body of society. H.A.R. Tilaar see the opportunity of an education system, due to the multicultural education, national education is deemed able to introduce the values ​​of cultural diversity. (2). H.A.R. Tilaar view that in multicultural education programs, the focus is no longer directed solely at racial group, religion, and culture of the dominant or mainstream course, which focuses on the increased understanding and tolerance of individuals who come from minority groups against mainstream culture that ultimately minorities integrated. According to him, multicultural education is actually a caring attitude and want to understand (difference), or political recognition of minority groups (Politics of recognition). (3). In fact Islam does not discriminate against ethnic, racial, and others in education. Humans are actually the same, but the difference is ketaqwaannya to God. Multicultural education in Islam the same opportunity to all students to compete in doing good for the sake of high achievement (iman and taqwa). (4). The fundamental difference between multicultural education HAR Tilaar with the teachings of Islam are located on the theological foundation (religion / faith)

Paradigma Pendidikan Multikultural H. A. R. Tilaar*

Henry Alex Rudolf Tilaar, lahir dan dibesarkan dari darah seorang guru yang berjiwa nasionalis dan keluarga yang sederhana di desa yang cukup relatif terpencil di tepi Danau Tondano di Sulawesi Utara. Sebagai  pendidik, orang tua Tilaar selalu memberi dukungan, menyemangati-Nya untuk terus belajar dan terus berproses mengikuti jenjang pendidikan. Namun, apa yang sudah saya capai saat ini, ungkap Tilaar, lebih didasarkan pada dorongan pribadi (kemauan) yang tertanam di jiwa saya untuk fokus dalam mengembangkan studi pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia. Karena itulah saya menempuh studi lebih terkonsentrasi pada bidang pendidikan, berusaha konsekuen terhadap apa yang saya pikirkan, dan kemudian saya letakkan setiap pemikiran saya itu dalam bentuk karya.
Selama menempuh jenjang studi, aktivitas H.A.R. Tilaar semuanya difokuskan untuk mengajar sebagai guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Atas (SMA) hampir 5 tahun di Bandung, dan menjadi dosen di perguruan tinggi sampai saat ini.

Apa yang menjadi motivasi Bapak dalam penulisan karya?
Saat melihat kondisi pendidikan yang terjadi di negeri ini, berdasarkan pada apa yang sudah saya alami saat berproses dalam menempuh jenjang studi, dan yang sudah saya jalani selama menjadi guru, maka ini yang menjadi acuan saya dalam menuliskan karya. Dan ternyata buku-buku saya juga menjadi koleksi dari Life of Congress di Amerika Serikat tentunya menjadi studi tersendiri. Sehingga saya diberikan penghargaan Distinguished Alumni Award dari universitas tempat saya belajar.

Pemberian penghargaan tersebut sebetulnya sudah di mulai sejak tahun 1977. Pada waktu itu tahun 2009 lalu, ada tiga orang yang dianugerahi penghargaan tersebut, yang pertama itu, Dr. Young Hwan Kim dari Korea Selatan yang dinilai telah membantu pengembangan e-learning melalui televisi di Korea Selatan dan juga di Asia melalui APEC, Kedua Dr. Joseph J. Russell yang telah memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan masyarakat African-American di Amerika Serikat, dan yang ketiga saya dari Indonesia.

Penghargaan yang diberikan ketika saya sudah 40 tahun tamat dari sekolah tersebut. Yang katanya mereka juga mengikuti pemikiran-pemikiran saya melalui internet. Lalu pertanyaannya, kenapa saya mendapatkan penghargaan tersebut? Karena saya meletakkan prinsip pendidikan nasional itu pada kebutuhan anak Indonesia, bukan kebutuhan yang lain. Oleh karenanya, saya menentang sekolah yang bertaraf Internasional yang menggunakan kurikulum asing yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia. Hal ini hanya buang-buang uang tanpa konsep. 
Kritik ini juga saya lontarkan pada saat dikeluarkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 2003 (UU SISDIKNAS), dengan mengadakan seminar di Harvard University yang mengupas tentang bagaimana membangun satu pendidikan nasional, tapi hal ini tidak diperhatikan oleh bangsa kita, akan tetapi saat salah satu konsultan pendidikan dari Inggris mengeluarkan kritik terhadap masalah ini, seolah menjadi heboh. Nah, pertanyaannya adalah apakah ini yang menjadi mentalitas bangsa kita? Kalau orang Indonesia yang berbicara itu tidak didengar tapi saat orang bule (asing) yang memberikan opsi ini baru didengar, aneh bin ajaib inilah mentalitas bangsa ini. Lima tahun yang lalu sudah saya peringatkan, kaji kembali apakah sudah benar jalan pendidikan bangsa ini.
Sebagai seorang pendidik, kebijakan apa yang telah Bapak tekankan? (Ketika menjabat sebagai guru, dosen, dekan, dan birokrasi pemerintahan).

Melakukan reorientasi dari pendidikan nasional itu sendiri yang kita terapkan, yaitu dengan tetap mengacu pada desentralisasi, tetapi ada peran terbatas mengenai biaya dan lain-lain. Dalam konteks kekinian, bagaimana memberdayakan sekolah-sekolah dengan aturan bagus yang disebut dengan KTSP yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Seharusnya sekolahlah yang mengembangkan KTSP dan hal inilah juga yang disebut dengan manajemen berbasis sekolah. Begitu juga dengan peran perguruan tinggi baik di kota-kota maupun di daerah. Sedangkan kuncinya adalah guru. Bagaimana guru membuat kurikulum yang cocok dengan daerahnya (potensi daerah), bukan diarahkan untuk bisa berbahasa Mandarin, Jepang, dan sebagainya. Jadi, pendidikan kita ini sebenarnya adalah proses pembodohan rakyat, bukan mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

Inovasi pendidikan yang Bapak inginkan?
Membangun sebuah bangsa Indonesia yang besar seperti yang dicita-citakan dalam Revolusi 1945 dan yang sudah kita sepakati dalam Sumpah Pemuda 1928. Bangsa ini yang dibangun dengan darah dan air mata dari pemuda-pemudi kita sejak tahun-tahun permulaan abad 20. Kebangkitan nasional Indonesia yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo, gerakan taman siswa yang dipelopori Ki Hajar Dewantara, serta Sumpah Pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa Indonesia. Sudah selayaknya kita selaku generasi bangsa ini, meneruskan jejak perjuangan mereka untuk membangun kembali bangsa Indonesia yang cerdas bukan yang cerdik sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Mohammad Hatta.

Makna pendidikan multikultural menurut Bapak ?
Manusia itu lahir dalam lingkungan dan kebudayaannya sendiri, dan tidak bisa dia menghilangkannya, karena itulah budaya manusia sendiri itu harus dirawat, bukan berarti nasionalisme menjadi hilang karenanya, tapi ternyata manusia ketika pada kebudayaannya, akan terus menapaki orientasinya yang lebih luas mengikuti perkembangannya secara dinamis. Seperti ilustrasi, Anda lahir di bogor berarti orang Sunda, orang Sunda ini lahir dengan budaya Sundanya, bukan budaya Jawa dan bukan budaya Manado. Tetapi budaya Sunda ini diarahkan pada budaya yang lebih abstrak dalam buku saya dijelaskan seakan-akan berbentuk piramida terbalik, kalau mula-mula diturunkan urutannya adalah kekeluargaan, kultur (suku sendiri), lama-kelamaan naik tingkat dan orientasinya menjadi lebih tinggi, lebih luas, yang lebih tinggi itu adalah ke-Indonesia-an. Dari kesundaan itu Anda hanya akan mengetahui akan Bogor saja dan terikat pada kesundaannya. Tetapi, kita sepakat dengan Sumpah Pemuda bahwa kita itu adalah Indonesia. Indonesia yang berakar pada sub-budaya yang ada, itulah keindahan dari Indonesia.

Lalu, bagaimana kita menaiki orientasi yang lebih luas itu ?
Melalui pendidikan multikultural. Dengan menaiki tingkat yang lebih tinggi maka kita akan mempunyai orientasi yang lebih luas yaitu ke-Indonesia-an. Untuk itu multikulturalisme harus dilengkapi dengan apa yang saya sebut dengan meng-Indonesia, sebab menurut saya Indonesia itu adalah suatu proses. Itu harus kita peroleh melalui pendidikan nasional, pendidikan rakyat, untuk menjadi bangsa Indonesia, bukan sudah jadi.

Pada tahun 2007 ada tiga buku yang terbit, pertama yang dieditori oleh Komaruddin Hidayat mengenai Islam bagaimana Indonesia menjadi satu pada zamannya, kedua mengenai sejarah timbulnya Indonesia oleh simbolon dan yang ketiga Tilaar dengan melalui proses pendidikan untuk menjadi Indonesia. Misalnya: bagaimana meninggalkan rasa kesukuan yang sempit menjadi ke-Indonesia-an, maksud dari buku “meng-Indonesia yang saya tulis. 
Kalau saya berpendapat dalam buku itu, tidak menghilangkan identitas suku, karena bagaimanapun orang Sunda sifat kesukuan (kesundaannya) akan tetap melekat, akan tetapi semakin diperhalus karena adanya suku-suku yang lain.  Jadi dengan adanya suku-suku yang lain akan memberikan indeks terhadap pembentukan pribadi kita sebagai identitas suku.
Oleh karena itu, multikulturalisme merupakan sesuatu yang indah untuk Indonesia. Kalau kita berhasil maka kita akan menjadi contoh dunia, antara lain kita bisa melawan apa yang disebut globalisasi tanpa arah, globalisasi yang banyak dikupas oleh para ahli mengenai polemiknya.
Globalisasi antara lain yang dikendalikan oleh modal-modal usaha. Contoh: di mall-mall sekarang banyak terlihat toko-toko yang merupakan cabang-cabang dari negara lain, seperti: Paris, New York, Tokyo. Mengapa demikian itulah yang disebut dengan modal multinasional yang mendikte kita.
Perdagangan bebas yang dimotori WTO pada tahun 2015 nanti, akan diberlakukannya perdagangan bebas ASEAN. Kalau kita tidak siap dan kuat bersaing maka kita akan tergilas oleh negara-negara kuat. Inilah nasib bangsa kita yang dikendalikan oleh Multinational Corporation, korporasi internasional yang memiliki modal besar.
Bagaimana penerepan pendidikan multikultural di Indonesia ?
Implementasi pendidikan multikultural haruslah menyangkut ke dalam semua aspek kehidupan termasuk agama dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap suku bangsa mempunyai keunggulan masing-masing untuk dikembangkan kemudian disumbangkan pada bangsa Indonesia. Seperti budaya sunda mempunyai cara-cara yang halus yang kemudian bisa disumbangkan untuk ke-Indonesia-an, begitu juga dengan agama bukan untuk gontok-gontokan, tetapi saling menghargai keyakinan yang berbeda. Semua aspek itulah yang harus kita kembangkan untuk ke-Indonesia-an. Begitu juga dengan 4 pilar kehidupan nasional kita, yaitu: Pancasila, UUD 45, NKRI & Kebhinekaan yang harus ditanamkan sejak muda.

Bagaimana gagasan Bapak tentang kurikulum pendidikan multikultural ?
Kurikulum pendidikan multikultural itu berisikan ajaran bagaimana menumbuhkan sikap toleran dari warga masyarakat agar supaya mengakui akan pluralisme dalam masyarakatnya, antara lain dalam rangka upaya untuk mengurangi gesekan-gesekan atau ketegangan yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan di dalam masyarakat. Dan bagaimana mereduksi berbagai jenis prasangka negatif yang secara potensial hidup dalam masyarakat plural.

Mengenai rancangan kurikulum pendidikan multikultural, kita juga harus melihat otonomi pendidikan yang diberikan kepada daerah, sejalan dengan otonomi daerah yang sekarang sedang berlangsung, maka daerah masing-masinglah yang mempunyai kewenangan menyusun kurikulum pendidikan multikultural yang dibutuhkan oleh masyarakatnya, karena kondisi sosial dan budaya di masing-masing daerah tentunya berbeda. Untuk itu, kurikulum multikultural harus didesain sesuai budaya daerahnya dan diarahkan pada budaya nasional. KTSP yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat bisa kita jadikan pegangan dalam merancang kurikulum pendidikan multikultural yang sesuai dengan daerahnya masing-masing. Yang harus kita pahami pendidikan multikultural bukan berarti disusunnya mata pelajaran pendidikan multikultural, melainkan kurikulum pendidikan multikultural harus menjiwai semua mata pelajaran dalam lembaga pendidikan baik formal maupun informal.
Bagaimana pandangan Bapak tentang sistem pendidikan nasional ?
Mengenai sistem, jika kita lihat SISDIKNAS sudah nyelonong terkesan tidak mempunyai arah untuk dibawa ke mana pendidikan nasional bangsa kita ini. Contoh saja: Sejak reformasi orang tidak lagi berbicara mengenai pancasila, sejarah nasional, akan tetapi orang lebih banyak berbicara mengenai ujian nasional dengan beberapa mata pelajaran yang menentukan nasib anak. Hal ini yang saya kritik dalam buku yang saya tulis Standarisasi Pendidikan Nasional, ini jelas menghancurkan kepribadian anak. Karena arahannya hanya terorientasi pada fulus saja. Kita menggunakan standarisasi tapi rakyat tidak dijelaskan apa itu standar, yaitu standar yang kita gunakan adalah standar negara-negara maju. Bambang Sudibyo (Mantan Menteri Pendidikan) mengatakan bahwa standar yang dipakai adalah mengikuti negara-negara maju, standar Organization Economic Development (OECD).

Bagaimana kita membangun pendidikan bangsa ini dengan mengikuti standar tersebut, kenapa tidak melihat dari bawah, coba lihat pendidikan pedalaman Kalimantan sana atau di daerah-daerah pedalaman bagian selatan, apakah perangkat-perangkat di sana sudah bisa berjalan untuk menjalankan standar tersebut.
Apa harapan Bapak untuk pendidikan nasional Indonesia  ke depan?
Memiliki tujuan dan arah yang jelas, mempunyai konsep serta mempunyai pemimpin yang tegas. Saya pribadi sekarang merasa tidak memiliki pemimpin yang tegas sehingga menimbulkan kesan tidak memiliki arah yang jelas, yang menurut Gus Solah (KH Sholahuddin Wahid) adanya pemerintah atau tidak itu sama saja, bahkan  Syafii Ma’arif lebih pedas mengeluarkan kritiknya bahwa kita tidak mempunyai presiden lagi.

Mengenai struktur Kemendiknas harus direorientasi meski hal ini sensitif, saya melihatnya terlalu banyak dimasuki oleh politik. bahkan ada NGO yang mempersoalkan akan performance beberapa kementerian seperti; (Keuangan, BUMN, Kemendiknas, dan Kemenag) mengenai kegagalan pengelolaan departemen tersebut. Kalau saya melihat birokrasi itu terlalu banyak dicekcoki oleh partai-partai jadi meskipun tidak mempunyai kemampuan dalam bidangnya, dia dapat menempati posisi strategis. Misalnya saja latar belakang mantan menteri dan menteri pendidikan sekarang, saya tahu betul bagaimana backround pendidikannya, tapi karena support dari partai dia dapat menduduki posisi jabatan tersebut. Ini juga terkait dengan masalah profesionalisme yang harus ditegakkan dalam struktur Kementerian Pendidikan Nasional, kalau kita lihat kenapa bukannya Prof. Azra yang menjadi menteri padahal beliau selain sebagai dosen tamu di Australia juga sudah diakui kapasitasnya secara Internasional. Secara kasat mata, dari hal ini bisa kita lihat bahwa profesionalisme sangatlah kurang ditegakkan. Terkait masalah kebohongan terjadinya banyak korupsi, itu karena profesionalisme yang masih sempit. Salah satu contoh lainnya mengenai PP 19 dalam UU SISDIKNAS mengenai Badan Standar Nasional Pendidikan, salah satu anggotanya ada yang diambil dari pendeta. Lalu, pertanyaannya apakah pendeta tersebut mampunyai konsep untuk pengembangan pendidikan. Inilah salah satu bentuk terlalu besarnya peranan politik sehingga mengesampingkan profesionalisme dengan tidak menempatkan seseorang pada tempatnya.  


*Hasil Wawancara Penulis, Jakarta “Lembaga Manajeman UNJ” 24-Maret-2011


Studi Agama-Agama

 Konghuchu

China memiliki sejarah yang panjang dan mulia tiada tandingan. Ketika sejarah mereka dimulai sekitar 2700 SM, watak, sifat, dan lembaga-lembaga di China telah mapan. Mereka telah berbudaya dan telah mempunyai agama yang terorganisir. Sekitar abad ke 6 SM tampak ada keadaan tanpa hukum yang besar pengaruhnya di China. Baik kehidupan politik, maupun keagamaan menjadi rusak dan merosot dari kemuliaan yang semula. Peradaban besar yang ditegakan di China oleh penguasa dinasti Chou hanya tinggal bayangan saja.

Dalam keadaan semacam inilah dua agama China yang besar, yakni Kong Hu Chu dan Tao lahir. Dari segenap agama-agama di China, maka Kong Hu Chu telah meninggalkan kesan yang kuat dalam kehidupan dan kebudayaan di China. Untuk hampir 25 abad Kong Hu Chu dianggap oleh China sebagai guru yang pertama tidak karena ketiadaan guru sebelum beliau, tetapi karena beliau mengatasi mereka dalam derajatnya.

Kehidupan Kong Hu Chu
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Chu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao (儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Kong Hu Chu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa Kong Hu Chu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia.

Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Kong Hu Chu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Kong Hu Chu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Kong Hu Chu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".[1]
Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.

Confusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral. Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mensius ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Chu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Chu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Chu.

Confucius adalah nama latin dari nama K’ungfu-tzu atau Tuan K’ung. Beliau dilahirkan pada tahun 551 SM di daerah Lu yang sekarang dikenal sebagai propinsi Shantung. Beberapa[2] peristiwa mu’jizat, impian-impian, dan kejadian lainnya dihubungkan denga peristiwa kelahirannya seperti halnya dengan guru-guru agama lain. Beliau dilahirkan dari keluarga terpandang tetapi miskin dan memperoleh sukses atas hasil usahanya sendiri. Sejak muda dia bercita-cita untuk bekerja di pemerintahan, tetapi dia tidak mendapatkannya segera pada massa pergolakan tersebut. Dia memulai karirnya sebagai pegawai gudang gandum di daerah kelahirannya dan seringkali ditempatkan untuk melayani rakyat.

Pada tahun 528 SM, Kong Hu Chu melepaskan jabatannya di pemerintahan karena berkabung atas kematian ibunya. Selama berduka dalam jangka tiga tahun dia mengabdikan diri dengan belajar dan bermeditaasi. Kadang-kadang ia muncul dari pengasingannya sebagai guru dimasyarakat dan cepat menarik segolongan besar murid-muridnya yang berbakti. Beliau ditunjuk sebagai hakim ketua dari kota Chung-tu dan segara dipromosikan pada kedudukan mentri tenaga kerja dan kehakiman. Jadi dia mendapatkan kesempatan untuk memperaktekan ajaran- ajarannya dan membangun suatu model administrasi.

Kong Hu Chu mendakwahkan “pada usia 50 tahun saya menerima risalah tuhan”. Maka pada tahun 497 SM dengan segera ia mengikuti panggilan ilahi, dan selama 14 tahun bersama sekelompok kecil muridnya yang berbakti ia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, sering kali dalam ancaman bahaya maut, diremehkan, dan kesengsaraan. Akhirnya ia diijinkan untuk kembali ke tanah kelahirannya, yakni Lu, ia sudah berusia lanjut 68 tahun. Beliau menghabiskan sisa akhir hayatnya dalam menyiarkan risalah-risalah wahyunya, dan menerbitkan buku-buku klasik Cina. Dia menyadari bahwa gagasan-gagasanya jauh lebih penting daripada langsung dicobakan secara mendadak dalam praktek. Beliau wafat pada tahun 479 SM.

Ajaran Kong Hu Chu
Kong Hu Chu menghindarkan diskusi mengenai hal-hal yang metafisik dan abstrak. Seorang muridnya, Chung Yun, suatu kali bertanya kepada tuannya tentang roh. Kong Hu Chu menjawab: “Bilamana engkau tidak dapat mengenal manusia, bagaimana engkau mengenal roh?” ketika beliau ditanya mengenai kematian, jawabnya: “Bilamana engkau tidak mengenal kehidupan, bagaimana engkau bisa mengetahui kematian?” juga dikatakan tentang beliau: “tuan tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang menyimpang dari hukum, adu kekuatan, pemberontakan, ataupun dewa-dewa”.[3]

Meskipun demikian tidak dapat disangsikan lagi akan kenyataan bahwa Kong Hu Chu percaya kepada Tuhan dan seorang yang ketat bertauhid. Beliau mendakwahkan bahwa kehendak Tuhan telah diwahyukan kepadanya adalah misinnya agar kehendaknya itu unggul di muka bumi. Kong Hu Chu percaya bahwa dunia ini dibangun berdasarkan landasan moral. Bilamana manusia dan Negara menjadi rusak akhlaknya, maka tata susunan alam akan terganggu akan ada bencana peperangan banjir, gempa bumi, paceklik yang panjang, dan wabah penyakit.
Dari segi etika, Kong Hu Chu menekankan pada senasib sepenanggungan, atau timbal balik menyuburkan simpati dan kerja sama yang harus dimulai dalam keluarga, kemudian diperluas secara bertahap ke perkumpulan. Adapun intisari dari ajaran Kong Hu Chu antara lain :
1.       Penguasa dengan rakyatnya
2.       Ayah dengan anaknya
3.       Saudara tua dengan adiknya
4.       Suami dengan istrinya
5.       Sahabat dengan temannya.

  1. Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Kong Hu Chu:
a.       Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
b.       Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
c.       Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
d.       Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
e.       Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
f.        Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
g.       Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
h.       Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
  1. Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):
a.       Ren - Cintakasih
b.       Yi - Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
c.       Li - Kesusilaan, Kepantasan
d.       Zhi - Bijaksana
e.       Xin - Dapat dipercaya
  1. Delapan Kebajikan (Ba De):
a.         Xiao - Laku Bakti
b.         Ti - Rendah Hati
c.         Zhong - Satya
d.         Xin - Dapat Dipercaya
e.       Li - Susila
f.        Yi - Bijaksana
g.       Lian - Suci Hati
h.       Chi - Tahu Malu
  1. Zhong Shu = Satya dan Tepa selira/Tahu Menimbang:
"Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan terhadap orang lain" (Lunyu)[4]
Kong Hu Chu melihat bahwa kekacauan yang timbul di China ketika raja tidak bertingkah laku sebagai raja, rakyat tidak bertindak sebagai rakyat, bapak tidak berbuat sebagai bapak dan seterusnya. Maka ia merasa bahwa langkah pertama ke arah perombakan dunia yang kacau ialah dengan cara setiap orang harus menyadari dan memenuhi kewajibannya sendiri dengan tepat.

Menurut Kong Hu Chu, kemuliaan yang harus disuburkan di atas segalanya ialah kasih antara sesama manusia. Etikanya, kebijakannya, cita-cita hidupnya semuanya mengalir dari kemuliaan yang utama ini. Kong Hu Chu menginginkan kemajuan manusia sepanjang jalan peradaban yang benar, yang dijamin penguasa yang baik, yang memimpin di depan dan menegakan suatu contoh teladan, serta para pembantunya yang baik menjalankan hukum sesuai kerangka agama yang tertulis. Dia menginginkan agar seluruh negeri disusun sebagai suatu lembaga pendidikan, kerja keras harus dimulai, dan atau dengan para penguasa terlebih dahulu, sebab bilamana penguasa memberi contoh buruk maka ia akan menjerumuskan seluruh rakyat dalam kesengsaraan. Menurut ajaran Kong Hu Chu tiada sedikitpun diragukan bahwa tujuan satu-satunya dari suatu Negara adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai dengan hukum Tuhan.

Konsep Ketuhanan Dalam Agama Kong Hu Chu
Ru Jiao atau agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Kong Hu Chu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.[5] Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan); Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng); Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).

Kitab Suci Agama Kong Hu Chu
Kitab yang paling penting untuk memahami Kong Hu Chu pribadi dan ajarannya, yakni Lun Yu (kumpulan literatur Kong Hu Chu). Ini adalah himpunan dari ucapan-ucapan Kong Hu Chu yang disusun oleh murid-muridnya beberapa waktu setelah wafatnya junjungan mereka. Ada tiga versi dari buku ini :
Versi Lu, Versi Sh’I, dan versi Skripsi kuno. Ketiga versi ini tidak seluruhnya sejalan, baik dalam lingkup isinya maupun susunannya dari teks tersebut. Versi yang terkenal pada saat ini ialah versi Lu yang dibagi dalam dua puluh bab.
Sesudah kitab himpunan ini, maka kita menemukan 6 kitab klasik kaum Kong Hu Chu yang ditulis atau disunting oleh Kong Hu Chu. Kitab-kitab itu adalah :
1.       Shu Ching (kitab sejarah). Aslinya berisi 100 dokumen sejarah dari para dinasti kuno China dan meliputi suatu periode panjang antara abad 24 hingga abad ke 8 SM.
2.       Shih Ching (buku sya’ir) ini adalah kumpulan sajak-sajak yang popular dan ditulis selama 500 tahun pertama dari dinasti Chou.
3.       Yi Ching (kitab perobahan). Buku ini menawarkan suatu sistem filsafat yang sangat menarik. Kitab ini menerangi apa yang disebut prinsip-prinsip dalam Yin (lelaki) Yang (wanita).
4.       Li Chi (kitab upacara). Kong hu chu menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan akan membawa perbaikan, kemuliaan, serta kekayaan terhadap sikap sosial mereka.
5.       Yeo (kitab musik) pada massa Kong Hu Chu musik sangat erat sangkut pautnya dengan sajak. Maka ketika beliau menyunting puisi-puisi lama, beliau meyusun suatu pengaturan musik yang mengiringi setiap  sajak-sajaknya.
6.       Ch’un Ch’iu (kitab bersambungnya musim semi dan musim gugur)
Penting pula untuk memahami agama Kong Hu Chu, yakni 3 kitab lainnya yang berisi penyajian yang sangat awal dari doktrin agama Kong Hu Chu ini adalah :
1.       Ta Hsueh ( pelajaran besar )
2.       Chung Yung ( doktrin jalan tengah)
3.       Hsiau Ching ( buku klasik tentang kewajiban untuk taat )
Untuk penyajian agama Kong Hu Chu yang belakangan, marilah kita tengok 3 kitabnya yang lain:
1.       Kitab Mencius
2.       Buku dari hsun tzu
3.       Ch’un Ch’iu Fan – Lu ( aneka ragam embun di musim semi dan gugur.)[6]


DAFTAR BACAAN

      Ulfat Azis-Us-Samad, Agama – agama Besar Dunia, Jakarta : Daarul Kutubil Islamiyah, 2002




[2] Ulfat Azis-Us-Samad, Agama – agama Besar Dunia ( Jakarta : Daarul Kutubil Islamiyah, 2002 ) hal.122-123.
[3] Ulfat Azis-Us-Samad, Agama – agama Besar Dunia…. Hal. 124-125
[6] Ulfat Azis-us-samad, Agama – agama Besar Dunia…. Hal. 140-142.

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...