Showing posts with label Tafsir Tarbawy. Show all posts
Showing posts with label Tafsir Tarbawy. Show all posts

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat


بسم الله الرحمن الرحيم
Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja)

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم
Segala yg ada dan terjadi di dunia harus menjadikan pujian (pengakuan) terhadap Alloh. Karena tidak ada yg sia2 dari ciptaan Alloh SWT.

مالك يوم الدين
Alloh adalah dzat yg merajai secara halus. Segala yg ada di dunia diciptakan dan milik Alloh maka kita tidak pantas mencaci makinya.

إياك نعبد
Kita tidak berkuasa apa2, oleh sebab itu kita harus pasrah terhadap segala ketentuan Alloh.

إياك نستعين
Pertolongan Alloh dengan sendirinya akan datang tanpa harus diminta, jika kita sudah bisa mengamalkan hal tersebut di atas (ayat 1-4).

إهدنا الصراط المستقيم
Jalan yg lurus adalah pengamalan/praktek dari ayat 1-5.

صراط اللذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Ikutilah orang2 yg sudh bisa mengamalkan jalan tersbut, dan jangan ikuti orng2 yg sesat.

Surat al fatihah menjadi pembuka al quran dan menjadi kunci kehidupan kita dunia dan akhirat. Maka surat ini jangan hanya dibaca ketika hendak wirid, tawasul, dan hadiah untuk orang mati tetapi surat ini merupakan batasan dan pekerjaan yg baik bagi kita yg masih hidup. (di ambil dari Pesan Muallim, Ustdz.Sarohman Asymuni. 23 Jan 16)

TAQDIR DALAM AL-QUR’AN*

Takdir berasal dari bahasa Arab “Qadara” yang berarti ukuran, batas atau kadar. Semua makhluk telah ditentukan takdirnya oleh Allah Swt. dan tidak dapat melampauinya. Allah memberikan tuntunan dan petunjuk arah yang seharusnya manusia tuju. Sebagaimana tersurat dalam (QS. Al A’la: 1-5, Yasin: 38-39, Al Furqon: 2, Al Hijr: 21, Ath Thalaq :3). Namun ada perbedaan mendasar antara takdir manusia dan takdir alam, (QS. Fushsilat: 11). Apa yang membedakannya?, yang membedakannya manusia dianugrahi akal untuk berpikir sehingga bisa memilih takdir baik dan buruk.

Manusia diberikan kebebasan untuk memilih pekerjaan yang dikehendakinya. (QS. Al Kahfi: 29). Allah menciptakan manusia dan apa yang mereka lakukan (QS. Ash Shaffat: 96). Dan apa yang dikehendaki manusia tidak dapat terlaksana kecuali atas kehendak Allah Swt. (QS. Al Insan : 30). Ayat pertama menjelaskan bahwa manusia memiliki kebebasan, sementara kedua ayat berikutnya menegaskan, bahwa Allah-lah yang mempunya keputusan. Lalu pertanyaannya, untuk apa ada takdir ?

Takdir termasuk rukun iman? (QS. Al Baqarah : 285, an Nisa : 136).
Di dalam surat Al Baqarah (285) diterangkan; Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka mengatakan: "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". 

Pada asbabun nuzul ayat sebelumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan lainnya dari Abu Hurairah, berkata, “tatkala turun ayat, Dan jika kamu melahirkan apa yang terdapat dalam dadamu atau menyembunyikannya, pastilah akan dihisab oleh Allah (QS. Al Baqarah 284), sungguh terasa berat oleh para sahabat. Mereka datang kepada Rasulullah, lalu bersimpuh di atas kedua lutut mereka, kata mereka “ayat ini telah diturunkan kepada baginda, tetapi kami tidak sanggup memikulnya”, maka Rasulullah Saw bertanya, “apakah kalian hendak mengatakan seperti yang diucapkan oleh ahli kitab yang sebelum kalian, ‘kami dengar dan kami langgar’? hendaklah kalian ucapkan, kami dengar dan kami patuhi.

Ampunilah kami wahai tuhan kami dan kepadamu kami akan kembali. Setelah orang itu berusaha membacanya hingga lidah-lidah merekapun menjadi lunak karenanya, maka Allah pun menurunkan dibelakangnya, “Rasul telah beriman.. (QS. Al Baqarah 285). Sesudah itu, ayat tadi dinashkan oleh Allah dengan menurunkan “Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya (QS. Al Baqarah 286). Muslim dan lain-lain meriwayatkan pula seperti di atas dari Ibnu Abbas. 

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya As-Sa’di menuliskan, dalam ayat ini menuntun manusia agar beriman dengan meniru rasul yang beriman kepada kitab suci al-Qur’an yang telah diturunkanNya, beriman kepada malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya agar kita termasuk golongan orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mempunyai pengaruh positif dalam jiwa, salah satu pengaruh iman dalam jiwa mereka adalah jiwa mereka menjadi bersih, berhati suci, dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Menurut Quraish Shihab, dari sudut pandang study Al Qur’an, kewajiban mempercayai adanya takdir tidak secara otomatis dinyatakan sebagai satu di antara rukun iman yang enam. Al Qur’an tidak menggunakan istilah “rukun” untuk takdir. Bahkan tidak juga nabi Muhammad Saw. Memang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan banyak pakar hadits, melalui sahabat nabi Umar bin Khathab dinyatakan bahwa, “suatu ketika datang seorang yang berpakaian sangat putih, berambut hitam teratur, tetapi tidak nampak pada penampilannya bahwa dia seorang pendatang, namun ‘tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya’. Demikian Umar ra. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta tanda-tandanya, nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kemudian, dan percaya tentang takdirnya yang baik dan yang buruk.” Setelah sang penanya pergi, nabi menjelaskan bahwa : Dia itu Jibril, datanng untuk mengajar kamu, agama kamu. Dari hadits ini banyak ulama yang merumuskan rukun iman.

Seperti dikemukakan di atas, Al Qur’an tidak menggunakan kata rukun, bahkan Al Qur’an tidak pernah menyebutkan kata takdir dalam satu rangkaian ayat yang berbicara tentang kelima perkara lain di atas. Perhatikan firman Allah surat Al Baqarah 285. (baca Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an hal. 65) 

Di dalam Qur’an Surat Annisa [4] : 136 disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. Kedua ayat di atas tidak menyebutkan perkara takdir, bukan berarti takdir tidak wajib dipercayai. Yang ingin dikemukakan ialah Al Qur’an tidak menyebutkannya sebagai rukun, tidak pula merangkainya dengan kelima perkara lain, yang disebut dalam hadits Jibril di atas. (baca Wawasan Al Qur’an hal: 66).

Ketika kita melakukan diskursus tentang takdir, pembahasan ini erat kaitannya (disandingkan) dengan sunatullah. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan sunatullah?. Al Qur’an menjelaskan dalam  (QS. Al Ahzab: 38, 62. Fathir 35, 43. Ghafir 40, 48).

Sunnatullah (Arab:سنة الله) berarti tradisi Allah, dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Secara umum, para ulama membedakan sunnatullah dalam dua bentuk, yaitu sunnah kauniyah (hukum alam) dan sunnah ijtima’iyyah (hukum kemasyarakatan). Sunnah kauniyah adalah hukum Allah yang berlaku di alam semesta, sedangkan sunnah ijtima‘iyyah adalah hukum Allah yang diberlakukan bagi manusia dalam kehidupan sosial. Kedua sunnah ini, menurut sejumlah ulama, memiliki kesamaan karakter, yaitu senantiasa berlaku konsisten dan tidak akan  pernah mengalami penyimpangan, berlaku bagi semua manusia, muslim maupun non-muslim.

Nurcholish Madjid, mendefinisikan bahwa sunnatullah adalah hukum sejarah terkait dengan kehidupan sosial manusia yang tidak akan pernah berubah. Pendapat yang sedikit lebih menukik dikemukakan Mahmud Syaltut. Menurutnya, sunnatullah pada hakikatnya merupakan hukum Allah yang terkait dengan bangkit dan runtuhnya suatu bangsa.

Disamping itu, pemaknaan terhadap takdir dan sunatullah, juga harus selaras dengan memahami Qodo. Apa yang dimaksud dengan qodho?, mengenai qodho, Al Qur’an menjelaskan dalam (QS. Al Baqarah, 117, Ali Imron 47, Al An’am 2, Al Is’ra 23, Maryam 35, Al Qoshosh 15, 29, Al Ahzab, 23, 36, 37, Az Zumar 42, Ghofir, 68).

Selanjutnya, takdir bisa di tolak dengan takdir, maka dalam hadits disebutkan “khoiri wasyarrihi”, manusia dianugrahi pikiran supaya bisa memilih takdir. Sementara qodho ketentuan Allah yang sudah pasti tidak bisa di rubah. Kemudian, jika ajal seseorang, apakah proses kematiannya itu disebut takdir /nasib?. Mengingat ada keterangan yang mengatakan saat masih di kandungan, umur, rezeki, jodoh sudah ditentukan. 

Ajal makhluk itu merupakan qodho, sebagaimana diterangkan, sudah pasti setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran: 185). Di dalam usia kandungan 4 bulan, jasad sudah sempurna dan sudah bernyawa, maka otomatis segala hal yang berkaitan dengan makhluk hidup sudah ditentukan secara umum.

Ketentuan Allah secara umum di dalam ayat Quran banyak  dijelaskan tentang setiap makhluk hidup pasti diberikan rezeki, jodoh, dan ajal. Contohnya, surat Hud : 6, An Nisa :1, Al Munafiqun: 11. Itu semua disebut qodho dan qodar, nanti manusia dianugrahi kemampuan untuk mencari rezeki, jodoh dan sampai kepada ajal. Pertanyaannya kemudian, kenapa qodho dan qodar tidak diperlihatkan ?, supaya manusia berusaha atau berlomba, kalau sudah diperlihatkan semua, manusia akan berlaku seenaknya.



** tulisan ini disarikan dari diskusi forum indahnya berbagi; semoga bermanfaat bimbingan ustd Syarohman Asymuni.


Sakit dan Sehat; Nikmat Tuhan dengan Rasa Jiwa Berbeda




Bismillahirrahmanirrahiem., Segala Puji bagi Allah yang dengannya kita memohon bantuan pada setiap saat, dalam hidup ini. Sungguh, “tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah” (Q.S. Ath Taghaabun: 11)., Serta, tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S. Al Hadid: 22).

Sesungguhnya menyendiri dengan diri sendiri dan larut pada sudut ketersendirian merupakan nikmat dan cara yang ditempuh guna menghindari hiruk-pikuk kehidupan. Mengenyahkan kegelisahan, melumat waktu guna merenung dan membaca diri. Kepada sang pemilik raga-penggerak jiwa, ku bawa permohonan ampunan kepada-Mu, atas segala kekeliruan, kesalahan, kekhilafan menjalani firman-Mu dalam bentuk tindakan.  Sehingga, dengan sangat begitu cepatnya (Wallahu syari’ul hisab) Kau baringkan aku dalam beberapa pekan ini. 

Allah, malikin naas. Atas ke-Maha Kuasa-annya mengistirahatkanku sejenak dari rutinitas dunia. Dalam larut, kucoba kembali mengumpulkan kepingan-kepingan kesadaranku, rupanya Dia sedang mengingatkanku karena telah abai dengan sifat ar-Rahim-nya, dengan ayat-ayatnya tentang kesehatan. Kenyataan ini juga, mengingatkanku dari nasehat Jim Rohn yang menuturkan “Jagalah tubuhmu dengan baik, karena itu satu-satunya tempatmu hidup”. Seraya Qalbu terus meminta petunjuk (hikmah) atas kejadian ini, ternyata memang tiada yang sia-sia dalam hidup ini, Allah memberikan nikmat sehat dan sakit kepada manusia sebagai siklus hidup yang pasti akan dilaluinya. Ya, sehat dan sakit bagai dua sisi mata uang, merupakan nikmat Tuhan dengan rasa jiwa yang berbeda. Dengan adanya nikmat sakit, mengajak kesadaran kita untuk mengamini bahwa begitu berharganya nikmat Tuhan yang berbentuk kesehatan, yang tentunya harus di rawat dengan menjalani kehidupan yang terpola. 

Selain itu, ada hal menarik dari tulisan M. Quraish Shihab yang mengganggu nalarku malam ini, dia menuturkan bahwa di dalam Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali ditemukan teks yang berbicara tentang penyakit dan cara mengobatinya. Yang sangat populer adalah firmanNya, yang membenarkan ucapan nabi Ibrahim as; “Wa Idza Maridtu Fahuwa Yasyfin”, Bila aku sakit, maka Allah yang menyembuhkanku. (Q.S. Asy Syu’ara [26]:80). Dari firmanNya ini, menurut Quraish Shihab mengisyaratkan dua hal.

Pertama, “bila aku sakit” mengandung makna bahwa penyakit yang diderita terjadi karena kesalahan manusia, baik langsung maupun tidak. Kesalahan itu antara lain karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan sistem yang ditetapkanNya. Dari sini, ditemukan tuntunan yang berkaitan dengan aneka kegiatan yang fungsinya pencegahan. Misalnya pemeliharan kebersihan, memasak air yang akan di minum, kadar makanan yang dikonsumsi serta perlunya makanan secara proporsional dan bergizi.

Kedua, “Allah yang menyembuhkan”, menunjuk penyembuh yang sebenarnya. Tangan dokter, obat atau aneka cara penyembuhan, hanyalah satu dari sekian sebab. Allah adalah pencipta aneka sebab dan yang Maha Kuasa menghimpunnya, bahwa Allah penyembuh bukan berarti manusia boleh berpangku tangan. Manusia harus berusaha menemukan sebab-sebab penyembuhan. Nabi SAW, berkali-kali memerintahkan berobat dan mencari cara pengobatan yang tepat. Sabda beliau :  “Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan obatnya. Obat itu diketahui yang ‘berhasil’ mengetahuinya, dan tidak diketahui oleh yang gagal menemukannya.” Bentuk pengobatannya, dari zaman Rasul SAW, tidak baku atau mutlak harus di ikuti sepenuhnya pada zaman sekarang, karena dapat berkembang seiring pengalaman baru dan penelitian. Selain itu, perkembangan modern dalam pengobatan selama tujuannya adalah memelihara kehidupan, adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, Allah memerintahkan kita untuk tolong menolong dalam kebaikan. (Q.S. Al Maidah [5]: 2)

KUMPULAN TAFSIR TARBAWI

BAGIAN I (Al-Alaq: 1-5. Al-Ghasyiyah: 17-20)
Pada surat al-Alaq ayat1-5 merupakan ayat yang pertama diturunkan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw, merupakan ayat yang berisi kewajiban belajar bagi manusia sebagai makhluk ciptaannya yang mulia dikarenakan diberikannya akal dan juga hina jikalau tidak berilmu oleh karena itu dalam ayat ini Allah menyuruh Muhammad sebagai utusannya untuk membaca, membaca dan membaca sehingga mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka dengan membaca manusia dapat mengasah otak dan menjadikannya manusia yang pandai dan mampu mengoptimalkan akalnya yang telah diberikan kepadanya, oleh karena itu manusia wajib belajar untuk mengoptimalkan fungsi akalnya.

Subjek Pendidikan


  Ar-Rahman. Dialah yang telah mengajarkan al-Qur’an”. (Ar-Rahman:1-4)
Surah ini dimulai dengan menyebut sifat rahmat-Nya yang menyeluruh, yakni Allah  Swt mencurahkan rahmat (ar-Rahman) kepada seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini, baik manusia atau jin baik yang taat dan durhaka dan lain sebagainya. Setelah menyebutkan rahmat dan nikmatNya secara umum, Allah Swt juga menunjukkan kuasa-Nya melimpahkan sekelumit dari sifat-Nya kepada Hamba-hambaNya agar mereka Meneladani-Nya yakni dengan Menyatakan Dialah yang telah mengajakan al-Qur’an kepada siapa saja yang dia kehendaki.  Dan unsur pendidikan yang ada dalam ayat ini ialah yaitu Allah Swt. Menunjukan keMahakuasaan dan Maha pengasih-Nya yaitu dengan memberikan Rahmat kepada seluruh alam tanpa memandang bagaimana keadaan makhluk beriman atau tidak, binatang maupun tumbuhan. Dan selanjunya Allah Swt Juga memberikan pengetahuan kepada manusia tentang Al-Qur’an yang dibawa oleh Malaikat Jibril yang Diajarkan Kepada Nabi Muhammad sebagai Manusia Utusan Allah Dimuka bumi yang tujuannya sebagai pedoman untuk seluruh manusia yang ada dimuka Bumi.
  “Dialah Yang menciptakan manusia, mengajarkan ekspresi”.
 Allah ar-Rahman yang mengajarkan al-Qur’an  itu Dialah yang Menciptakan Manusia makhluk yang paling membutuhkan tuntunan-Nya dan yang paling berpotensi memanfaatkan tuntunan itu dan mengajarnya ekspresi yaitu kemampuan menjelaskan apa yang ada dalam benaknya, dengan berbagai cara utamanya adalah bercakap (berbicara) dengan baik dan benar. Dalam arti lain kata bercakap dengan baik dan benar yang dipahami Thabathaba’i dalam arti “potensi mengungkap” yakni ucapan yang dengannya dapat terungkap apa yang terdapat dalam benak. Dan pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini ialah yaitu Allah Swt menciptakan manusia yang juga mengajarkannya ekspresi (bercakap)  itu manusia harus mengilhami apa yang ada di dalam benaknya dalam arti manusia harus menggali potensi yang dimiliki yang harus selalu diasah potensi tersebut akan dapat melahirkan aneka pengetahuan.
Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan. (Q.S. An-Najm; 43-44)
            Surah ini dimulai dengan anjuran mengikuti tuntunan Nabi Saw. Yang membawa al-Qur’an. Pada ayat diatas Allah Swt berfirman: Demi bintang ketika hendak terbenam atau turun guna melontar jin dan setan-setan, tidaklah sesat yakni keliru dalam menempuh jalan kebenaran dan menyampaikannya Nabi Muhammad Saw, yang merupakan sahabatmu yakni orang yang sangat kamu kenal bagaikan sahabat yang selalu menyertai kamu dan tidak pula ia melenceng dari kebenaran dan tiadalah ia berucap menyangkut al-Qur’an dan penjelasan yang disampaikannya menurut kemauan hawa nafsunya, yakni yang disampaikannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
            Kata [النجم] dipahami oleh mayoritas ulama dalam arti bintang secara umum, yakni yang memiliki cahaya dan Nampak bagi penghuni bumi. Kata [هوى]  ada yang memahami dalam arti terbenam yakni tidak terlihat kecemerlangan cahayanya.
            Melalui ayat diatas, Allah secara langsung yang menafikan kesesatan Nabi Muhammad saw. Kata [غوى] yaitu penyimpangan dari jalan yang benar. Kata [ما ينطق] tiadalah ia berucap dari segi redaksional mencakup ucapan apaun yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. Kata [الهوى]  berarti kecenderungan hati kepada sesuatu tanpa pertimbangan akal yang sehat. Thabathaba’I berpendapat bahwa karena ayat ini ditujukan kepada kaum musyrikin yang menuduh al-Qur’an dan risalah yang beliau sampaikan adalah bohong, maka yang dimaksud dengan apa yang dia ucapkan itu adalah al-Qur’an dan ajaran keagamaan yang beliau sampaikan.
Kata [وحي] isyarat yang cepat, banyak ulama mendefinisikannya dengan : “informasi yang disampaikan Allah Swt kepada seorang Nabi Saw tentang ajaran agama atau semacamnya, baik secara langsung maupun tidak.” Kata [هوى] hawa pada ayat diatas oleh sementara ulama difahami sebagai mencakup al-Qur’an dan hadist. Sumpah pada awal surah ini menunjukkan kejujuran Rasulullah Saw mengenai kabar wahyu yang beliau ucapkan dan sampaikan. Beliau tidak sesat maupun salah dalam menyampaikan wahyu itu.
Allah Swt berfirman bahwa: ia yakni wahyu yang diterimanya itu diajarkan kepadanya yakni kepada Nabi Muhammad Saw oleh malikat Jibril yang sangat kuat, pemilik potensi akliah yang sangat hebat, lalu malaikat Jibril itu tampil sempurna dan menampakan diri dengan rupanya yang asli. Sedang dia yakni malaikat itu berada di ufuk langit yang tinggi berhadapan dengan orang yang menengadah kepadanya. Kata [علمه] diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Menyampaikan atau menjelaskan sesuatu secara baik dan benar adalah salah satu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menyampaiknnya secara baik dan benar kepada Nabi Saw, dan itulah yang dimaksud dengan pengajarannya disini. Ada lagi ulama yang memahami ayat diatas sebagai berbicara tentang Nabi Muhammad Saw, yakni Nabi agung itu adalah seorang tokoh yang kuat kepribadiannya serta matang pikiran dan akalnya lagi sangat tegas dalam membela agama Allah.
Allah Swt berfirman: Kemudian dia yakni malaikat Jibril itu mendekat lalu turun sehingga bertambah mendekat lagi, maka jadilah dia karena demikian dekatnya kepada Nabi Muhammad Saw sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi dari itu. Lalu dia yakni malaikat itu mewahyukan yakni menyampaikan secara cepat dan rahasia kepada hambanya yakni nabi Muhammad Saw apa yang telah dia yakini Allah wahyukan. Al-Biqa’I menggarisbawahi bahwa kedekatan dimaksud harus dipahami sesuai dengan kewajaran alam kudus. Kedekatan dan turun tersebut dapat diartikan sebagai gambaran tentang betapa mudah dan lancarnya komunikasi itu.
Allah Swt. Tentulah Maha Mengetahui secara pasti dan akurat jarak antara Nabi Saw dengan malaikat Jibril as. Atau ia difahami dalam arti seandainya ada yang melihat mereka itu, maka dia akan berkata bahwa kedekatan Nabi Saw. dengan Jibril adalah sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat. Umar r.a pernah menguraikan kedatangan Jibril menanyakan tentang Islam, Iman dan Ihsan, malaikat Jibril ketika itu begitu dekat, sehingga menyandarkan kedua lututnya ke kedua lututnya. Begitulah dalam mencari ilmu kita harus mau berdekatan dengan guru. firmanNya [ما أوحي] mengisyaratkan bahwa wahyu yang disampaikan itu adalah sesuatu yang sangat agung, yang dampaknya terhadap umat manusia bahkan alam semesta amatlah besar.
·         Surat an-Nahl 43-44
Artinya: dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,
            Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kepada umat manusia kapan dan di mana pun, kecuali orang-orang lelaki, yakni jenis manusia pilihan, bukan malaikat yang kami beri wahyu kepada mereka antara lain melalui malaikat Jibril maka wahai orang-orang yang ragu atau tidak tahu bertanyalah kepada ahl adz-Dzikr, yakni orang-orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Para ulama menjadikan kata [رجال] pada ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa semua manusia yang diangkat Allah sebagai rasul adalah pria, dan tidak satu pun yang wanita.
            Kata [أهل الذّكر] pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti para pemuka agama Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para rasul yang diutus Allah Swt. Ada juga yang memahami istilah ini dalam arti sejarawan, baik muslim maupun non-muslim.
            Kata  in/ jika  pada ayat diatas yang biasanya digunakan menyangkut  sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan yang dipaparkan oleh Nabi saw. Dan Al-Quran sudah demikian jelas, sehingga diagukan adanya ketidaktahuan, dan dengan demikian penolakan yang dilakukan kaum musryikin itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tapi sikap keras kepala.
            Di sisi lain,perintah untuk bertanya kepada Ahl al-Kitab yang dalam  ayat ini mereka digelari ahl adz-Dzikr menyangkut apa yang tidak  diketahui, selama mereka  dinilai berpengetahuan  dan objektif, menunjukan betapa Islam sangat terbuka dalam perolehan pengetahuan, seperti sabda Nabi Saw. : “Hikmah adalah sesuatu yang didambakan seorang mukmin, dimanapun dia menemukannya, maka dia yang lebih wajar mengambilnya.” Demikian juga dengan ungkapan yang popular dinilai sebagai sabda Nabi Saw. walaupun bukan, yaitu “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri cina.” itu semua merupakan landasan untuk menyatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam bersifat universal, terbuka, serta manusiawi dalam arti harus dimanfaatkan oleh dan untuk kemaslahatan seluruh  manusia.
            Ayat diatas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi persona kedua yang ditunjukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw. agaknya hal ini mengisyaratkan penghormatan kepada beliau dan bahwa beliau termasuk dalam kelompok para rasul yang diutus Allah, bahkan kedudukan beliau tidak kurang jika enggan berkata lebih tinggi dari mereka sebagaimana dikesankan oleh ayat berikut.
Artinya : Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu alQuran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,
            Para rasul yang kami utus sebelummu itu semua membawa keterangan-keterangan, yakni mukjizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul, dan sebagian membawa pula kitab-kitab , yakni kitab yang mengandung ketetapan hukum dan nasihat yang seharusnya menyentuh hati ,dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, yakni al-Quran, agar engkau menerangkan kepada seluruh manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka yakni al-Quran  itu, semoga dengan penjelasanmu mereka mengetahui dan sadar dan supaya mereka senantiasa  berpikir lalu menarik pelajaran utuk kemaslahatan hidup duniawi dan uhkrawi mereka.
            Salah satu nama al-Quran adalah adz-Dzikr yang dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. al-Quran dinamai demikian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia apa yang dia berpotensi melupakannya dari kewajiban, tuntunan an peringatan yang seharusnya dia selalu ingat, laksanakan dan indahkan. Di sisi lain, tuntunan dan petunjuk-petunjuknya harus pula selau ingat dan dicamkan.
            Ayat diatas menggunakan dua patron yang berbeda menyangkut turunnya al-Quran. Terhadap Nabi Saw. digunakan kata anzalna yang menurut beberapa ulama mengandung makna turun sekigus, sedang kata turun yang digunakan untuk manusia adalah nuzilla yang mengandung makna turun berangsur-angsur. Hal ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa manusia secara umum mempelajari dan melaksanakan tuntunan al-Quran secara bertahap sedikit demi sedikit dan dari saat ke saat.
·         Al-Kahfi 65-70
Artinya : Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?. "Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?". Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".
            Setelah sebelumnya Nabi Musa diperintahkan oleh Allah Swt untuk mencari hambaNya yang lebih pandai dari dirinya (Nabi Khidir a.s) di tempat bertemunya 2 buah lautan bersama muridnya Yusa bin Yusya bin Nun a.s. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diatara hamba-hambaku Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Orang ini adalah Khidir a.s sebagaimana ditunjukkan oleh hadist-hadist shohih dari Nabi Saw.
            Allah Ta’ala memberitahukan perkataan Musa kepada Khidir yang diberi ilmu tertentu oleh Allah, ilmu yang tidak deberikan kepada Musa, sebagaimana Allah pun memberi Musa ilmu yang tidak diberikan kepada Khidir. “Musa berkata kepada Khidir ‘Bolehkah aku mengikutimu?’sebagai permintaaan belas kasihan, bukan untuk memaksa. Inilah adab seorang pelajar terhadap gurunya. Adapun ucapan Musa, ”Agar engkau mengajariku sebagaian ilmu yang benar di antar ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” merupakan permintaaan bimbingan terhadap ilmu bermanfaat dan amal sholeh yang telah diajarkan Allah kepada Khidir. Pada saat itulah Khidir menjawab kepada Musa, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” Maksudnya, kamu tidak akan sanggup menyertaiku lantaran kamu akan melihat tindakan-tindakanku yang bertentangan dengan syariatmu. Masing-masing kita memiliki ilmu Allah yang tidak saling kita kuasai. “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” kamu tidak akan menyukaiku lantaran apa yang tidak kamu ketahui. Sebenarnya apa yang aku perlihatkan itu adalah sesuai dengan hikmah dan kemaslahatan dari Allah. Namun, hal itu hanya diketahui oleh aku.
“Musa berkata, Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar” terhadap tindakan-tindakanmu. Dan aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apa pun. Pada saat itulah, Khidir member syarat kepada Musa, “Khidir berkata, Jika kamu mengikuti aku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang apa pun sampai aku sendiri menerangkaannya kepadamu, yakni sebelum aku menjelaskan tindakanku jangan kamu bertanya kepadaku.”

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...