Showing posts with label Ilmu Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pendidikan. Show all posts

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat


بسم الله الرحمن الرحيم
Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja)

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم
Segala yg ada dan terjadi di dunia harus menjadikan pujian (pengakuan) terhadap Alloh. Karena tidak ada yg sia2 dari ciptaan Alloh SWT.

مالك يوم الدين
Alloh adalah dzat yg merajai secara halus. Segala yg ada di dunia diciptakan dan milik Alloh maka kita tidak pantas mencaci makinya.

إياك نعبد
Kita tidak berkuasa apa2, oleh sebab itu kita harus pasrah terhadap segala ketentuan Alloh.

إياك نستعين
Pertolongan Alloh dengan sendirinya akan datang tanpa harus diminta, jika kita sudah bisa mengamalkan hal tersebut di atas (ayat 1-4).

إهدنا الصراط المستقيم
Jalan yg lurus adalah pengamalan/praktek dari ayat 1-5.

صراط اللذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Ikutilah orang2 yg sudh bisa mengamalkan jalan tersbut, dan jangan ikuti orng2 yg sesat.

Surat al fatihah menjadi pembuka al quran dan menjadi kunci kehidupan kita dunia dan akhirat. Maka surat ini jangan hanya dibaca ketika hendak wirid, tawasul, dan hadiah untuk orang mati tetapi surat ini merupakan batasan dan pekerjaan yg baik bagi kita yg masih hidup. (di ambil dari Pesan Muallim, Ustdz.Sarohman Asymuni. 23 Jan 16)

Tanamlah Wujud dirimu di dalam Tanah yang Dalam

Tanamlah wujud dirimu di dalam tanah yg dalam, segala yg tumbuh dari yg tidak ditanam, pertumbuhannya tidak akan menjadi sempurna (Syarah Al Hikam).

Rahasiakanlah segala amal perbuatan yg kita lakukan dari pandangan manusia yaitu ingin dipuji, disanjung, diakui, dihormati, merasa berjasa, merasa paling benar, pura-pura tawadhu, pura-pura merendah, ingin terlihat beda dari yg lain, berpakaian yg katanya seperti Nabi supaya disebut sebagai orang alim.

Ingatlah! Segala amal yg kelihatan di permukaan ibarat buih yg akan hilang tak berharga, ibarat fatamorgana yg tak nyata. Ruh dari segala amal adalah ikhlas yg ditanam & dirahasiakan dalam hati. Oleh sebab itu tanamlah niatmu di dalam hati yg paling dalam jangan sampai terlihat oleh pandangan manusia.

Terkadang hati manusia tidak bisa diajak diam ketika kebaikannya dilihat orang. Hati cenderung pengen ngomong "ini karena aku, lihat aku telah menolong, lihat aku nih rajin dzikir, rajin sholat, rajin puasa, ahli ma'rifat, ahli tasawuf, rajin menulis ilmu, rajin ceramah, rajin khotib, aku ga susah-susah dapet rizki, beragama ikutin aku, lihat pakaianku sederhana, aku bulak balik haji & umroh, apa gua kata, lihat aku yg berjasa, kalau bukan karna aku...., dan lain sbagainya". Orang seperti ini akan menguji orang lain supaya ia terlihat lebih dibandingkan yg lain, dia akan kecewa hatinya kalau tidak ada yg memperhatikan amalnya. Karena hatinya sudah kluar dari tempat yg semestinya.

Tanamlah ikhlas dalam hati yg paling dalam sebab itu yg akan bermanfaat di dunia & akhirat. (di ambil dari tulisan ustdz. Sarohman Asmuni, 2 Feb 2016).

TAQDIR DALAM AL-QUR’AN*

Takdir berasal dari bahasa Arab “Qadara” yang berarti ukuran, batas atau kadar. Semua makhluk telah ditentukan takdirnya oleh Allah Swt. dan tidak dapat melampauinya. Allah memberikan tuntunan dan petunjuk arah yang seharusnya manusia tuju. Sebagaimana tersurat dalam (QS. Al A’la: 1-5, Yasin: 38-39, Al Furqon: 2, Al Hijr: 21, Ath Thalaq :3). Namun ada perbedaan mendasar antara takdir manusia dan takdir alam, (QS. Fushsilat: 11). Apa yang membedakannya?, yang membedakannya manusia dianugrahi akal untuk berpikir sehingga bisa memilih takdir baik dan buruk.

Manusia diberikan kebebasan untuk memilih pekerjaan yang dikehendakinya. (QS. Al Kahfi: 29). Allah menciptakan manusia dan apa yang mereka lakukan (QS. Ash Shaffat: 96). Dan apa yang dikehendaki manusia tidak dapat terlaksana kecuali atas kehendak Allah Swt. (QS. Al Insan : 30). Ayat pertama menjelaskan bahwa manusia memiliki kebebasan, sementara kedua ayat berikutnya menegaskan, bahwa Allah-lah yang mempunya keputusan. Lalu pertanyaannya, untuk apa ada takdir ?

Takdir termasuk rukun iman? (QS. Al Baqarah : 285, an Nisa : 136).
Di dalam surat Al Baqarah (285) diterangkan; Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka mengatakan: "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". 

Pada asbabun nuzul ayat sebelumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan lainnya dari Abu Hurairah, berkata, “tatkala turun ayat, Dan jika kamu melahirkan apa yang terdapat dalam dadamu atau menyembunyikannya, pastilah akan dihisab oleh Allah (QS. Al Baqarah 284), sungguh terasa berat oleh para sahabat. Mereka datang kepada Rasulullah, lalu bersimpuh di atas kedua lutut mereka, kata mereka “ayat ini telah diturunkan kepada baginda, tetapi kami tidak sanggup memikulnya”, maka Rasulullah Saw bertanya, “apakah kalian hendak mengatakan seperti yang diucapkan oleh ahli kitab yang sebelum kalian, ‘kami dengar dan kami langgar’? hendaklah kalian ucapkan, kami dengar dan kami patuhi.

Ampunilah kami wahai tuhan kami dan kepadamu kami akan kembali. Setelah orang itu berusaha membacanya hingga lidah-lidah merekapun menjadi lunak karenanya, maka Allah pun menurunkan dibelakangnya, “Rasul telah beriman.. (QS. Al Baqarah 285). Sesudah itu, ayat tadi dinashkan oleh Allah dengan menurunkan “Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya (QS. Al Baqarah 286). Muslim dan lain-lain meriwayatkan pula seperti di atas dari Ibnu Abbas. 

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya As-Sa’di menuliskan, dalam ayat ini menuntun manusia agar beriman dengan meniru rasul yang beriman kepada kitab suci al-Qur’an yang telah diturunkanNya, beriman kepada malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya agar kita termasuk golongan orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mempunyai pengaruh positif dalam jiwa, salah satu pengaruh iman dalam jiwa mereka adalah jiwa mereka menjadi bersih, berhati suci, dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Menurut Quraish Shihab, dari sudut pandang study Al Qur’an, kewajiban mempercayai adanya takdir tidak secara otomatis dinyatakan sebagai satu di antara rukun iman yang enam. Al Qur’an tidak menggunakan istilah “rukun” untuk takdir. Bahkan tidak juga nabi Muhammad Saw. Memang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan banyak pakar hadits, melalui sahabat nabi Umar bin Khathab dinyatakan bahwa, “suatu ketika datang seorang yang berpakaian sangat putih, berambut hitam teratur, tetapi tidak nampak pada penampilannya bahwa dia seorang pendatang, namun ‘tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya’. Demikian Umar ra. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta tanda-tandanya, nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kemudian, dan percaya tentang takdirnya yang baik dan yang buruk.” Setelah sang penanya pergi, nabi menjelaskan bahwa : Dia itu Jibril, datanng untuk mengajar kamu, agama kamu. Dari hadits ini banyak ulama yang merumuskan rukun iman.

Seperti dikemukakan di atas, Al Qur’an tidak menggunakan kata rukun, bahkan Al Qur’an tidak pernah menyebutkan kata takdir dalam satu rangkaian ayat yang berbicara tentang kelima perkara lain di atas. Perhatikan firman Allah surat Al Baqarah 285. (baca Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an hal. 65) 

Di dalam Qur’an Surat Annisa [4] : 136 disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. Kedua ayat di atas tidak menyebutkan perkara takdir, bukan berarti takdir tidak wajib dipercayai. Yang ingin dikemukakan ialah Al Qur’an tidak menyebutkannya sebagai rukun, tidak pula merangkainya dengan kelima perkara lain, yang disebut dalam hadits Jibril di atas. (baca Wawasan Al Qur’an hal: 66).

Ketika kita melakukan diskursus tentang takdir, pembahasan ini erat kaitannya (disandingkan) dengan sunatullah. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan sunatullah?. Al Qur’an menjelaskan dalam  (QS. Al Ahzab: 38, 62. Fathir 35, 43. Ghafir 40, 48).

Sunnatullah (Arab:سنة الله) berarti tradisi Allah, dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Secara umum, para ulama membedakan sunnatullah dalam dua bentuk, yaitu sunnah kauniyah (hukum alam) dan sunnah ijtima’iyyah (hukum kemasyarakatan). Sunnah kauniyah adalah hukum Allah yang berlaku di alam semesta, sedangkan sunnah ijtima‘iyyah adalah hukum Allah yang diberlakukan bagi manusia dalam kehidupan sosial. Kedua sunnah ini, menurut sejumlah ulama, memiliki kesamaan karakter, yaitu senantiasa berlaku konsisten dan tidak akan  pernah mengalami penyimpangan, berlaku bagi semua manusia, muslim maupun non-muslim.

Nurcholish Madjid, mendefinisikan bahwa sunnatullah adalah hukum sejarah terkait dengan kehidupan sosial manusia yang tidak akan pernah berubah. Pendapat yang sedikit lebih menukik dikemukakan Mahmud Syaltut. Menurutnya, sunnatullah pada hakikatnya merupakan hukum Allah yang terkait dengan bangkit dan runtuhnya suatu bangsa.

Disamping itu, pemaknaan terhadap takdir dan sunatullah, juga harus selaras dengan memahami Qodo. Apa yang dimaksud dengan qodho?, mengenai qodho, Al Qur’an menjelaskan dalam (QS. Al Baqarah, 117, Ali Imron 47, Al An’am 2, Al Is’ra 23, Maryam 35, Al Qoshosh 15, 29, Al Ahzab, 23, 36, 37, Az Zumar 42, Ghofir, 68).

Selanjutnya, takdir bisa di tolak dengan takdir, maka dalam hadits disebutkan “khoiri wasyarrihi”, manusia dianugrahi pikiran supaya bisa memilih takdir. Sementara qodho ketentuan Allah yang sudah pasti tidak bisa di rubah. Kemudian, jika ajal seseorang, apakah proses kematiannya itu disebut takdir /nasib?. Mengingat ada keterangan yang mengatakan saat masih di kandungan, umur, rezeki, jodoh sudah ditentukan. 

Ajal makhluk itu merupakan qodho, sebagaimana diterangkan, sudah pasti setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran: 185). Di dalam usia kandungan 4 bulan, jasad sudah sempurna dan sudah bernyawa, maka otomatis segala hal yang berkaitan dengan makhluk hidup sudah ditentukan secara umum.

Ketentuan Allah secara umum di dalam ayat Quran banyak  dijelaskan tentang setiap makhluk hidup pasti diberikan rezeki, jodoh, dan ajal. Contohnya, surat Hud : 6, An Nisa :1, Al Munafiqun: 11. Itu semua disebut qodho dan qodar, nanti manusia dianugrahi kemampuan untuk mencari rezeki, jodoh dan sampai kepada ajal. Pertanyaannya kemudian, kenapa qodho dan qodar tidak diperlihatkan ?, supaya manusia berusaha atau berlomba, kalau sudah diperlihatkan semua, manusia akan berlaku seenaknya.



** tulisan ini disarikan dari diskusi forum indahnya berbagi; semoga bermanfaat bimbingan ustd Syarohman Asymuni.


The views H.A.R. Tilaar on Multicultural Education in terms of the aspect of the teachings of Islam.

Education is a process for producing output that leads to the development of Human Resources (HR) of high quality. So that people can live maintaining its presence in the growing community. Conditions pluralistic society becomes a challenge for education in the entire accommodate these differences. In this thesis will explore the idea of ​​multicultural education by HAR Tilaar, then viewed from the perspective of Islamic teachings. This thesis is intended to explore the main points of HAR Tilaar thinking about multicultural education. Associated in Islamic doctrine is actually no difference between ethnic, racial, and so on. This study formulates the subject matter, namely; (1). How multicultural education in the view of HAR Tilaar ?, (2). How multicultural education in Islamic perspective ?.

In writing this essay, the author uses descriptive-analytic approach, so that the results are not in the form of numbers, but in the form of interpretation and words. Being data collection was done by using library research (literature review) by making books by HAR Tilaar as the primary data, and literature related to the object of this study as a secondary data. Then the data were analyzed by using content analysis that is by way of sorting the collected data to be analyzed in accordance with the required contents so it can be concluded.

Some basic ideas which can writer formulated after studying the problems are: (1). Social unrest arising in society are the implications of attitude panatisme one group against another group, or a lack of appreciation of all cultural differences (culture) are nearby. Proposed the idea of ​​multicultural education HAR Tilaar This is in order to answer all the problems that often occur in the body of society. H.A.R. Tilaar see the opportunity of an education system, due to the multicultural education, national education is deemed able to introduce the values ​​of cultural diversity. (2). H.A.R. Tilaar view that in multicultural education programs, the focus is no longer directed solely at racial group, religion, and culture of the dominant or mainstream course, which focuses on the increased understanding and tolerance of individuals who come from minority groups against mainstream culture that ultimately minorities integrated. According to him, multicultural education is actually a caring attitude and want to understand (difference), or political recognition of minority groups (Politics of recognition). (3). In fact Islam does not discriminate against ethnic, racial, and others in education. Humans are actually the same, but the difference is ketaqwaannya to God. Multicultural education in Islam the same opportunity to all students to compete in doing good for the sake of high achievement (iman and taqwa). (4). The fundamental difference between multicultural education HAR Tilaar with the teachings of Islam are located on the theological foundation (religion / faith)

Menggagas Madrasah Ideal*


Oleh : DR. KH. Asep Saefuddin Chalim, MA**

dokumentasi http://amanatul-ummah.org/statis-6-katasambutan.html
Pendahuluan
Tema tentang penyelengaraan sekolah yang kredibel saat ini cukup menarik dan relevan ditengah konstelasi sistem pendidikan yang kian mengglobal. Relevansi tersbut makin beralasan manakala kajian “Menggagas Madrasah Ideal” ini diletakan sebagai titik tolaknya, karena idealisme sebuah madrasah yang harus dikongkritkan pada sebuah sistem dan model pendidikan yang penuh pengharapan, sekaligus kredibel merupakan sesuatu yang mendesak diupayakan dewasa ini.

Untuk menjawab kebutuhan itu, maka mencermati demokratisasi dalam dunia pendidikan agaknya mendesak untuk dilakukan. Demokratisasi penyelenggaraan pendidikan dewasa ini bukan menjadi sebatas gagasan akademik belaka, namun lebih dari itu telah menjadi sebuah keputusan politis dengan dukungan landasan legal formal dan konseptual, bahkan telah didukung oleh landasan teoritis yang memadai. Kondisi itu memungkinkan dan menjadi sebuah keniscayaan, karena praktek penyelengaraan pendidikan di Indonesia telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sekolah dan madrasah pada beberapa hal dimaknai sebagai sebuah organisasi atau unit sosial yang sengaja dibentuk oleh beberapa orang dalam ikatan koordinasi untuk mencapai tujuan bersama (Carlisle, 1987: 3). Sehingga, sekolah bisa dikatakan sebagai unit sosial yang di dalamnya terdiri atas sekelompok individu yang bersatu secara sengaja meski dengan tugas yang berebeda, namun memiliki satu tujuan untuk mendidik anak-anak dan mengantarkannya menuju tahap kedewasaan, baik secara fisik maupun non fisik, agar anak-anak itu mewakili kemandirian pribadi dan sosial.

Berbicara pendidikan yang berkualitas dan ideal, akan sejalan dengan resolusi UNESCO terkait pendidikan bagi seluruh anak di dunia., bahwa pendidikan harus memenuhi empat aspek, yakni transfer keahlian dan pengetahuan (transfering skill and knowledge), penanaman berpikir logis (mastering logis), pembangunan karakter (character development), dan ketahanan dalam menjalani berbagai arena pelatihan (trainning endurence). Empat hal ini menyiratkan tiga aspek kompetensi; yaitu kognisi, afeksi dan psikomotorik. Dari ketiga aspek tersebut, aspek afektif memungkinkan untuk dikedepankan. Penanaman ajaran agama selanjutnya menjadi prioritas. Agama memiliki pandangan dan bahkan mewajibkan ummatnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya dengan bermodalkan al akhlaqul karimah.

Berangkat dari telaah awal tersebut, kebutuhan pendidikan yang berkualitas dan ideal yang mampu bersaing di era global bagi masyarakat tidak saja penting tetapi juga merupakan kebutuhan mutlak. Oleh karena itu, dalam konteks ini konsep “madrasah ideal” menduduki konsep yang penting bagi dunia pendidikan kita. Madrasah ideal sesungguhnya merupakan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam pasal 5:

                “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu Serta kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan guna memperoleh Pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan Tamatan pendidikan dasar”.

Rencana pemerintah untuk memajukan kualitas pendidikan sudah sepatutnya didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Munculnya madrasah ideal ini diharapkan bisa membantu rencana pemerintah untuk mewujudkan niat baik tersebut. Tingginya disparitas pendidikan di Indonesia, baik dilihat dari pemerataan, kualitas, relevansi dan efisiensi manajemen, secara langsung menjadi pendorong terhadap perlunya penelitian-penelitian pendidikan termasuk penelitian tentang menggagas madrasah ideal di negeri ini.

Pendeknya, sistem pendidikan yang standard yang telah dikembangkan dewasa ini belum mampu menjawab harapan individu siswa, stakeholders maupun shareholder, sekaligus belum mampu memenuhi tantangan zaman yang kian terus bergerak dinamis menuju harapan kualitas. Untuk itu, perlu inovasi tiada henti berkaitan dengan penyelenggaraan madrasah yang berkualitas dan ideal ini. Ide yang inovatif dan ideal tentunya mendesak untuk dipersiapkan dari sekarang.

KONSEP MADRASAH IDEAL

Konsep Pendidikan
Wilayah kajian pendidikan, awalnya didominasi oleh filsafat. Namun sejurus dengan perannya, psikologi menjadi arena bagi perkembangan disiplin pendidikan. Disiplin lain seperti antropologi, ekonomi, politik dan sosiologi belakangan ikut meramaikan kajian pendidikan. Namun, hal yang cukup menyulitkan adalah status pendidikan sebagai ilmu terapan yang membuat kesulitan pada metode dan wilayah konseptualnya. Bagi kalangan peneliti, study pendidikan dimasukan dalam kegiatan yang terkait dengan investigasi pada proses belajar dan dalam konteks sekolah.

Berbicara aspek pendidikan, semua orang tidak boleh melupakan istilah “intelektual”. Makna yang tersirat dari kata intelektual adalah “mereka yang secara serius terlibat dalam proses pewarisan dan penyebarluasan pengetahuan, serta mengartikulasikan nilai-nilai dalam sebuah masyarakat”. Oleh karenanya, setiap masyarakat memiliki cendekiawan atau intelektualis termasuk masyarakat primitif yang diperankan oleh kepala suku atau petinggi agama sebagai penjaga dan pewaris agama.

Pendidikan yang dijalani manusia sesugguhnya mencitrakan percepatan pencapaian kedewasaan. Kedewasaan memberi arti bahwa ada saat-saat tidak dewasa sebelumnya. Masa kanak-kanak tumbuh secara gradual menjadi dewasa memungkinkan terjadi dalam sebuah proses. Namun sayangnya, penentuan kapan seseorang dipandang tidak tergantung dari derajad usia. Sehingga, secara umum makna dewasa disepakati para ahli psikologi sebagai datangnya sikap dari perilaku tertentu pada masa antara pubertas dan tercapainya masa kematangan (maturity). Kedewasaan, yang sepntas mirip gagasan Aristoteles dan Plato lebih dari 2000 tahun silam, dengan meminjam istilah strum und drang (storm and stress) dari literatur Jerman dan menerapkannya untuk menyebut periodesasi kedewasaan.

Krisis identitas, dengan meminjam konsep psikoanalis, atau kesenjangan generasi antara pemuda-pemudi dengan kedua orang tuanya, adalah konsepsi lain yang dipakai untuk mengidentifikasi kedewasaan. Dua hal ini, krisis identitas dan kesenjangan generasi, selanjutnya semakin memperluas cakrawala bagi dipahaminya makna kedewasaan secara ilmiah. Singkatnya, kedewasaan dianggap sebagai masa ketika seseorang atau tepatnya anak-anak memasuki masa di mana mereka berada dalam kondisi tekanan dan serba tidak menentu, yang berlanjut kepada kebingungan yang mengemuka sebagai krisis identitas dan menimbulkan kesenjangan mereka terhadap orang tuanya.

Jarak yang tajam ini dianggap sebagai pintu gerbang sebuah kedewasaan, ihwal mana sang anak dianggap dewasa bila mampu mengatasi masalahnya dengan baik. Dan sebaliknya, kedewasaan tidak kunjung datang ketika sang anak masih belum mampu melewati krisis identitas dan cenderung berada dalam tekanan psikologis yang memungkinkan mereka berada dalam tingkat kesenjangan yang makin jauh dengan orang tuanya.

Konsep Pendidikan Ideal
Pada mulanya menentukan kualitas di sekolah itu sulit, sesulit memperolah daftar yang sempurna dari penilai-penilai mutu program akademik di sekolah. Akan tetapi berdasarkan beberapa referensi serta pedoman yang digunakan oleh institusi resmi. Penilaian mutu itu dapat ditemukan dan ditetapkan. The Higher Education Council (HEC) Australia melihat mutu dalam konteks sebagai berikut : the council sees the focus on outcome, the fitness for purpose, as fundamental to understanding how each of the processes within institutions are organized and evaluated in order to ensure the quality of outcome. Di sini, prinsip utama adalah bahwa mutu di lembaga pendidikan diukur dengan pendekatan fitness for purpose.

Pada umunya tujuan sekolah meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian, atau yang dikenal sebagai tridarma sekolah. Sehubungan dengan hal ini, Porter (1994) mengindikasikan akan adanya kesulitan dalam mengukur mutu sekolah hanya dengan menggunakan pendekatan fitnessfor purpose. Selanjutnya, porter menambahkan pendekatan lain yang sifatnya interrelated dengan pendekatan fitness for purpose, yaitu konsep exeptional di mana mutu dapat dipandang sebagai passing a set of requirement  or minimum standard.

Dalam konteks pendidikan internasional, glonal alliance for transnational education (GATE) mendefinisikan mutu sebagai as meeting or fulfilling requirement, often referred to as fitness for purpose (GATE) 1988., dan dalam hubungannya dengan pendekatan pemenuhan standar minimum, standar diartikan sebagai a level or grade of goodness of something, and in an education context may be defined as an explicit level of academic attainment. Jelaslah, bahwa fngsi standar antara lain as means of measurements of the criteria by which quality may be judged (GATE, 1998)

Dalam konteks nasional di Indonesia, kualitas dan idealisme sebuah madrasah diarahkan pada penyiapan dan pembekalan kompetensi akademis dan moral sebagai dua pilar penting pada sebuah lembaga pendidikan yang bernafaskan islami. Seluruh proses yang diselenggarakan pada sebuah lembaga seyogyanya diarahkan pada pembentukan pribadi siswa yang memiliki kualitas sekaligus idealisme pada kedua dimensi kompetensi akademik dan moral itu.

Kongkritisasi Menggagas Madrasah Ideal
Menyiapkan madrasah ideal yang berkualitas sangatlah tidak mudah. Banyak sekali ukuran yang bisa dijadikan indikator. Banyak yang terjadi pada penilaian kualitas sebuah madrasah hanya berdasarkan klaim semata. Madrasah yang berkualitas dan ideal tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sarana dan prasarana. Madrasah yang baik juga belum boleh dikatakan baik jika hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah siswa yang bersekolah. Madrasah yang baikpun belum  layak dikatakan baik bila ditunjukan oleh lokasi di mana madrasah itu bertempat.

Untuk menilai sebuah madrasah berkualitas, sampai hari ini masih ada perdebatan. Untuk menyebut sebuah madarasah yang memiliki kualifikasi tinggi saja masih banyak perbedaan. Ada yang mengidentifikasi sebagai madrasah efektif, madrasah unggulan, madrasah terpadu, madrasah integral, dan berbagai sebutan lainnya.

Dengan demikian, dewasa ini sulit menentukan indikator madrasah unggul dan ideal. Untuk memudahkannya, madrasah unggul boleh saja disetarakan dengan pelaksanaan madrasah yang mengaplikasikan manajemen berbasis madrasah (MBS). Tujuan utama penerapan implementasi visi, misi dan komitmen di madrasah pada intinya adalah untuk penyeimbangan struktur kewenangan antara madrasah, pemerintah daerah dan pusat, sehingga manajemen menjadi lebih efisien.

Kewenangan terhadap pembelajaran diserahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri, yaitu madrasah. Di samping itu, penyerahan kewenangan itu adalah untuk memberdayakan madrasah, agar madrasah dapat melayani masyarakat secara maksimal sesuai dengan keinginan masyarakat.

Untuk menggagas madrasah ideal, sebagaimana kaidah lembaga yang memadai, maka sebuah lembaga harus menentukan visi, misi, dan program unggulan serta sejumlah perangkat kualitas lainnya. Dalam hal ini visi madrasah Amanatul Ummah adalah “terwujudnya manusia yang unggul, utuh dan berakhlaqul karimah untuk izzil Islam wal muslimin dan untuk keberhasilan cita-cita kemerdekaan”. Kemudian, misi madrasah Amanatul Ummah adalah “melaksanakan secara ketat sistem pengelolaan pendidikan yang diterapkan di madrasah” ini. Tujuan dan peruntukan kami menyelanggarakan madrasah adalah untuk membekali siswa menjadi insan yang siap terjun di tengah masyarakat kelak, di antaranya menyiapkan mereka menjadi :

1.       Ulama-ulama besar yang bisa menerangi dunia dan Indonesia;
2.       Konglomerat-konglomerat besar yang akan memberikan kontribusi maksimal terhadap terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia;
3.       Para pemimpin dunia dan pemimpin bangsanya yang akan mengupayakan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan; serta
4.       Para profesionalitas yang berkualitas dan bertanggung jawab

Selanjutnya, yang paling menarik dari tiga ikhwal antara visi, misi atau penentuan itu, maka menelusuri peruntukan menjadi relevan, karena peruntukan ini menjadi kristalisasi visi dan misi madrasah. Peruntukan ini adalah dalam rangka membangun kader bangsa melalui empat pilar, yakni ulama, pemimpin bangsa, konglomerat serta profesionalis. Mempersiapkan kader menjadi empat profesi tersebut bukanlah upaya mudah. Keberhasilan ini memang masih menunggu sepuluh sampai dua puluh tahun akan datang.

Untuk melihat keberhasilan itu, perlu diurai yang menjadi pola perilaku (pattern of behavior) yang mencuat akan menunjukkan sisi sulit dan gigihnya perjuangan kami dalam mengelola lembaga secara sistematis. Dalam mencapai tujuan pendidikan, semua kegiatan tergantung kepada visi, misi, dan tujuan sebuah lembaga. Namun dari semua itu, titik tekan pada proses adalah sesuatu yang sangat determinan. Artinya, proses yang dilakukan secara sistematis merupakan upaya kongkrit dari sistem pengelolaan lembaga pendidikan berdasarkan visi,misi, dan tujuan peruntukan yang telah dicanangkan. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat tabel preskripsi berikut :

Tabel I
Paterrn of Behavior / visi
Madrasah Amanatul Ummah Surabaya

INPUT
PROSES
OUTPUT-OUTCOME
Anak-anak bangsa yang dengan segala potensi diri yang dimilikinya (minat bakat dan kemampuan) :
-          Sense of interest
-          Sense of courisity
-          Sense of reality
-          Sense of inqury
-          Sense of discovery
Modal/ investasi moral ini dimantapkan sejak dini dan diproses di madrasah untuk menumbuhkan kreatifitas.
Internalisasi


 




Karakter (akhlaqul karimah)


 




Nasib baik
Ulama, Pemimpin, Konglomerat, dan Profesionalis.

Dari tabel di atas, tampaklah bahwa proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya dapat dibangun  dengan meminjam penjelasan sistem dengan mekanisme input-output. Dari wilayah input, proses pembelajaran pada madrasah ini diideasikan dengan menyiapkan sumberdaya peserta didik yang berpotensi diri dengan segala kemampuan untuk berminat, ingin tahu, membuktikan, menyelidiki, serta menemukan hal baru yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dan kemanusiaan pada umumnya.

Modal dan investasi sumber daya peserta didik ini selanjutnya, di proses untuk menanamkan akhlaqul karimah, sehingga melahirkan nasib baik, sehingga teraihlah apa yang disemangatkan dalam peruntukan madrasah untuk mencetak ulama, pemimpin, konglomerat, dan profesional. Oleh karenanya, pendekatan budaya dan perilaku yang bermartabat hendak dikedepankan. Sasaran akhir dari proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya di arahkan untuk mewujudkan intelektual muda yang tangguh sebagai investasi moral bangunan masyarakat Indonesia masa depan.

Setelah landasan ideal ini dicermati secara sistematis, lalu kita akan masuk dengan bagaimana membangun upaya-upaya secara kongkrit menerapkannya secara praktis. Untuk itu, perangkat konsep yang telah ditentukan dalam pattern of behavior yang idealis itu wajib diwujudkan ke dalam tindakan yang realistis empiris (pattern of behavior). Selanjutnya, mari kita lihat tabel berikut :

INPUT
PROSES
OUTPUT-OUTCOME
Unsur-unsur yang harus ada dalam proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya :
-          Pengelola (manajerial)
-          Metode andragogis
-          Berbasis kompetensi
-          Sumber daya siswa yang kritis-etis
Kognitif:  
Pemahaman nilai budaya, kemampuan verbal, logika dasar dan kecakapan.

Lulusan madrasah yang kompeten (Beasiswa dalam dan luar negeri, PMDK, SNMPTN)


 



Intelektual yang cerdas, beriman dan berakhlakul karimah
Afektif :
Pemahaman etika dan estetika yang berbasis nilai-nilai religius

Dari tabel di atas, dalam konteks perwujudan ideasi proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya secara empiris realistis sangat dekat dengan upaya sinergis antara semua elemen pendidikan yang terdiri atas kemampuan manajerial pengelola lembaga pendidikan, pemilihan metode pengajaran yang berwawasan lokalitas, mementingkan basis kompetensi dalam setiap kurikulum pengajarannya, serta tersedianya sumber daya siswa yang kritis-etis.

Realisasi proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya diarahkan pada tergalinya kemampuan kognisi dan afeksi dari input yang tersedia. Pola ini dikembangkan sedemikian rupa agar tercapai apa yang dicita-citakan, yaitu intelektual muda yang cerdas dan beriman (lulusan yang kompeten dengan mendapatkan beasiswa dalam dan luar negeri, PMDK, atau SNMPTN).

Dengan demikian, ada hubungan relasional yang saling memajukan antara lembaga penyelenggara pendidikan dengan siswa sebagai investasi moral. Proses pembelajaran di madrasah Amanatul Ummah Surabaya (berbasis kognitif-afektif, logis, etis, religius) merupakan salah satu pilar tercapainya visi, misi, dan peruntukan, serta tujuan madrasah Amanatul Ummah Surabaya).

Dalam realisasinya, pencapaian tujuan penyelenggaraan pendidikan Islami di lembaga Amanatul Ummah Surabaya, sangat bertumpu pada proses yang diselenggarakan secara sistematis, yakni diupayakannya sistem pengelolaan yang optimal.

Menggagas madrasah ideal, tentu membutuhkan idealisme yang kuat, dan itu ditekankan kepada proses yang inovatif. Titik tekan proses itu di antaranya bergantung kepada beberapa dimensi keberhasilan yang terdiri atas beberapa atribut yakni penyiapan guru yang baik, adanya sistem yang dapakai sebagai acuan, tersedianya sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang memadai.

Dari keempatnya, penyaiapan guru yang baik adalah yang paling utama. Pepatah di lembaga kami untuk mengkondisikan para guru adalah ‘ jadilah guru yang baik atau tidak sama sekali’. Penyiapan guru yang baik tentu saja sangat determinan dalam rangka tercapainya keberhasilan. Azas tiada rotan akarpun jadi nampaknya, berlaku jika memang prasarana dan pembiayaan tidak bisa disiapkan secara optimal, maka penyiapan guru yang terus menerus dalam pengkondisiaan ditujukan untuk mengawal sistem pengelolaan yang berorientasi pada pemrosesan anak didik yang akan berimbas pada tercapainya kualitas madrasah yang ideal.

Idealisme yang dikawal dengan penyediaan guru yang berkualitas ini tentu dimuarakan pada terwujudnya dimensi keberhasilan, yakni menjadi anak didik memiliki kompetensi dalam al akhlaqul karimah, serta menjadikan anak didik memiliki kompetensi akademik. Pada saat atribut guru dan sistem pengelolaan di elaborasi, maka tak satupun bisa menyangsikan betapa sinergitas ini akan membuahkan hasil yang maksimal bagi pencapaian kualitas dan idealisme. Di lembaga (madrasah) Amanatul Ummah memberlakukan sistem yang dikenal dengan sistem “dauroh”.

Sistem ini adalah sesungguhnya sistem pengelolaan yang dipandegani oleh guru yang berkualitas melalui sebuah proses kepada anak didik dengan harapan anak didik bisa menguasai kompetensi akademik sekaligus kompetensi moral. Secara akademis, guru mengelola anak didik dengan memberlakukan model pengulangan kembali (review/dauroh) terhadap seluruh mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik.

Pada prinsipnya, sistem dauroh ini adalah pengulangan/review terhadap materi pelajaran yang pernah diberikan dengan mekanisme tertentu dengan pemberian materi secara konfirmatif atau penegasan disertai pemberian soal sekaligus secara bersama dilakukan penyelesaian soal antara guru dan siswa. Sistem dauroh diselenggarakan secara sistematis dengan periodesasi dan leveling. Maksudnya adalah sistem dauroh diberikan kepada semua tingkatan kelas dan periode yang telah ditetapkan.

Intinya adalah, sistem merupakan sistem pengelolaan melalui pemprosesan kepada anak didik oleh guru yang profesional dan bertanggung jawab demi tercapainya pemahaman anak didik terhadap seluruh materi yang disampaikan sehingga anak didik berdaya dalam kompetensi akademik dengan indikator berhasil tuntas dalam mengerjakan soal-soal ujian, serta anak didik dibekali kompetensi moral selama anak didik menempuh proses di lingkungan madrasah.

Yang kedua, setelah atribut guru, adalah tersedianya sistem pengelolaan yang kongkrit dan berorientasi pada pelayanan yang harus dikawal ketat dalam pelaksanaannya sekaligus dipertnggung jawabkan keberhasilannya. Dan yang menjadi ihwal lainnya adalah atribut sarana dan prasarana serta pembiayaan yang sejauh ini masih bisa disiasati sedemikian rupa, artinya atribut ini memang bukanlah atribut yang determinan, karena berdasarkan pengalaman kami di lapangan, menunjukan betapa atribut sarana dan prasarana serta pembiayaan masih bisa dijadikan prasayarat yang berada pada batas toleransi.

Dari beberapa atribut di atas, penyediaan guru dan sistem pengelolaan relatif paling mudah dijangkau, sehingga penyelenggaraan madrasah yang inovatif dan ideal masih bisa dikembangkan secara optimal meski atribut sarana dan prasarana serta pembiayaan berada dalam keterbatasan. Pada saat penyediaan atribut guru dan sistem pengelolaan diupayakan dengan baik, idealisme akan dapat dicapai, tetapi sebaliknya meski sarana dan prasarana sudah tersedia secara memadai tanpa penyediaan guru dan sistem pengelolaan yang baik, maka niscaya apalah artinya sebuah lembaga pendidikan diselenggarakan. Yang terjadi justru kemunduran dan menjauhkan penyelenggaraan pendidikan dari idealisme dan kualitas.

PENUTUP
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan mengenai menggagas madrasah yang ideal, maka madrasah Amanatul Ummah Surabaya adalah salah satu contoh madrasah yang layak diperhitungkan sebagai madrasah yang menyelenggarakan proses pembelajaran dengan mekanisme sekolah ideal dan berkualitas, karena seluruh input madrasah sedang dan telah diproses menjadi output dan outcome yang memiliki benefit dan impact yang memadai. Lulusan madrasa Amanatul Ummah yang memperoleh beasiswa dalam dan luar negeri adalah realisasi keberhasilan proses yang dikembangkan dengan mengedepankan penyiapan guru yang mampu mengkongkritkan penyelenggaraan sistem pengelolaan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1987. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Al-Abrasy, Muhammed Athiyah. 1994. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Terj. Jakarta: Bulan Bintang

Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Pustaka Cendekia

Arifin, Imron. 1998. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar Berprestasi (Study Multi Kasus pada MIN I Malang, MI Mamba’ul Ulum, dan SDN Ngaglik I Batu Malang. Malang: Disertasi Program Pasca Sarjana IKIP Negeri Malang (tidak diterbitkan).

Asrin. 2006. Kepemimpinan Kepala Seklah pada Budaya Mutu Seklah (Study Multi kasus di SMAN Agung dan SMAI Kartini di Kota Bunga). Malang: Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang (tidak diterbitkan).

Beeby, C.E. 1981. Pendidikan di Indonesia: Penilaian dan Pedoman Perencanaan. (terjemahan oleh BPK dan YIIS). Jakarta : LP3ES.

Cooper, J.M. 1986. The Teacher as a Decision Maker. Dalam J.M. Cooper (ed). Classroom Teaching Skills. (3th ed.) Toronto: D.C. Heath and Company

Diknas. 2001. Pedoman Penciptaan Suasana Sekolah yang Kondusif dalam Rangka Pembudayaan Budi Pekerti Luhur Buku II. Jakarta: Ditjen Dikdasmen

Dhofir, Zamakhsyarie, 1994. Tradisi Pesantren: Study tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES

Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Presentasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional

Djojonegoro, Wardiman, 1996. Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan di Indonesia. Jakarta. Depdikbud

Hamalik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara

Nasution, Harun. 1991. Pembaruan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Nasution, Prof. Dr. S. MA. 1983. Sosiologi Pendidikan. Bandung: Jemmars

Pidarta, M. 1996. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar
PP No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah

Raho, Bernard. 2002. Teori Sosiologi Modern. Maumere: STFK

Rozikin, Zainur. 2005. Pergeseran Pola Interaksi Guru-Murid di Sekolah NU (Study Kasus di SMA Bunga Mawar Kota Malang dan SMA Bunga Melati di Kabupaten Malang. Malang : Disertasi Program Pasca sarjana Universitas Merdeka Malang. (tidak diterbitkan)

Soetjipto. 1999 Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta

UU RI No.20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya, Jakarta: sinar Grafika.








*Tulisan ini disampaikan pada acara Lokakarya Peningkatan Mutu Kualitas Madrasah (Syahidda Inn UIN Syahid Jakarta)
**Penulis adalah pengasuh PP Amanatul Ummah Surabaya

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...