Showing posts with label Kesehatan Mental. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Mental. Show all posts

Sakit dan Sehat; Nikmat Tuhan dengan Rasa Jiwa Berbeda




Bismillahirrahmanirrahiem., Segala Puji bagi Allah yang dengannya kita memohon bantuan pada setiap saat, dalam hidup ini. Sungguh, “tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah” (Q.S. Ath Taghaabun: 11)., Serta, tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S. Al Hadid: 22).

Sesungguhnya menyendiri dengan diri sendiri dan larut pada sudut ketersendirian merupakan nikmat dan cara yang ditempuh guna menghindari hiruk-pikuk kehidupan. Mengenyahkan kegelisahan, melumat waktu guna merenung dan membaca diri. Kepada sang pemilik raga-penggerak jiwa, ku bawa permohonan ampunan kepada-Mu, atas segala kekeliruan, kesalahan, kekhilafan menjalani firman-Mu dalam bentuk tindakan.  Sehingga, dengan sangat begitu cepatnya (Wallahu syari’ul hisab) Kau baringkan aku dalam beberapa pekan ini. 

Allah, malikin naas. Atas ke-Maha Kuasa-annya mengistirahatkanku sejenak dari rutinitas dunia. Dalam larut, kucoba kembali mengumpulkan kepingan-kepingan kesadaranku, rupanya Dia sedang mengingatkanku karena telah abai dengan sifat ar-Rahim-nya, dengan ayat-ayatnya tentang kesehatan. Kenyataan ini juga, mengingatkanku dari nasehat Jim Rohn yang menuturkan “Jagalah tubuhmu dengan baik, karena itu satu-satunya tempatmu hidup”. Seraya Qalbu terus meminta petunjuk (hikmah) atas kejadian ini, ternyata memang tiada yang sia-sia dalam hidup ini, Allah memberikan nikmat sehat dan sakit kepada manusia sebagai siklus hidup yang pasti akan dilaluinya. Ya, sehat dan sakit bagai dua sisi mata uang, merupakan nikmat Tuhan dengan rasa jiwa yang berbeda. Dengan adanya nikmat sakit, mengajak kesadaran kita untuk mengamini bahwa begitu berharganya nikmat Tuhan yang berbentuk kesehatan, yang tentunya harus di rawat dengan menjalani kehidupan yang terpola. 

Selain itu, ada hal menarik dari tulisan M. Quraish Shihab yang mengganggu nalarku malam ini, dia menuturkan bahwa di dalam Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali ditemukan teks yang berbicara tentang penyakit dan cara mengobatinya. Yang sangat populer adalah firmanNya, yang membenarkan ucapan nabi Ibrahim as; “Wa Idza Maridtu Fahuwa Yasyfin”, Bila aku sakit, maka Allah yang menyembuhkanku. (Q.S. Asy Syu’ara [26]:80). Dari firmanNya ini, menurut Quraish Shihab mengisyaratkan dua hal.

Pertama, “bila aku sakit” mengandung makna bahwa penyakit yang diderita terjadi karena kesalahan manusia, baik langsung maupun tidak. Kesalahan itu antara lain karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan sistem yang ditetapkanNya. Dari sini, ditemukan tuntunan yang berkaitan dengan aneka kegiatan yang fungsinya pencegahan. Misalnya pemeliharan kebersihan, memasak air yang akan di minum, kadar makanan yang dikonsumsi serta perlunya makanan secara proporsional dan bergizi.

Kedua, “Allah yang menyembuhkan”, menunjuk penyembuh yang sebenarnya. Tangan dokter, obat atau aneka cara penyembuhan, hanyalah satu dari sekian sebab. Allah adalah pencipta aneka sebab dan yang Maha Kuasa menghimpunnya, bahwa Allah penyembuh bukan berarti manusia boleh berpangku tangan. Manusia harus berusaha menemukan sebab-sebab penyembuhan. Nabi SAW, berkali-kali memerintahkan berobat dan mencari cara pengobatan yang tepat. Sabda beliau :  “Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan obatnya. Obat itu diketahui yang ‘berhasil’ mengetahuinya, dan tidak diketahui oleh yang gagal menemukannya.” Bentuk pengobatannya, dari zaman Rasul SAW, tidak baku atau mutlak harus di ikuti sepenuhnya pada zaman sekarang, karena dapat berkembang seiring pengalaman baru dan penelitian. Selain itu, perkembangan modern dalam pengobatan selama tujuannya adalah memelihara kehidupan, adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, Allah memerintahkan kita untuk tolong menolong dalam kebaikan. (Q.S. Al Maidah [5]: 2)

GANGGUAN KEPRIBADIAN

Kita semua memiliki gaya berprilaku dan cara tertentu dalam berhubungan dengan orang lain. Beberapa dari kita adalah tipe teratur, yang lain ceroboh. Beberapa dari kita lebih memilih mengerjakan tugas sendiri, yang lain lebih sosial. Beberapa dari kita tipe pengikut, yang lain memimpin. Beberapa dari kita terlihat kebal terhadap penolakan dari orang lain, sementara yang lain menghindari inisiatif sosial karena takut dikecewakan.

Saat pola prilaku menjadi begitu tidak fleksibel sehingga dapat menyebabkan distres personal yang signifikan atau mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan, maka pola prilaku tersebut dapat di diagnosis sebagai gangguan kepribadaian. Berikut adalah pembahasan tentang gangguan kepribadian yang ditandai oleh beberapa prilaku yang ada.

Gangguan Kepribadian (personality disorder) adalah pola prilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal, sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating. Trait-trait kepribadian yang terganggu menjadi jelas di masa remaja atau masa awal dewasa dan terus berlanjut di sepanjang kehidupan dewasa, semakin mendalam dan semakin mengakar sehingga semakin sulit untuk diubah.[1]

Gangguan-gangguan dalam kategori ini bersumber dari perkembangan  kepribadian yang tidak masak dan menyimpang. Karena mengalami proses perkembangan yang tidak semestinya, individu-individu tertentu memiliki cara memandang, berfikir  dan berhubungan dengan dunia sekelilingnya yang bersifat maladaptif. Akhirnya, mereka tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan dalam kasus-kasus tertentu mereka menjadi menderita. Penderita jenis gangguan ini memiliki ciri-ciri berikut.
a.                   Hubungan pribadinya dengan orang lain terganggu, dalam arti sikap dan prilakunya cenderung merugikan orang lain.
b.                   Memandang bahwa semua kesulitannya disebabkan oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain. Dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah memiliki rasa bersalah.
c.                   Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain: bersikap manipulatif atau senang mengakali, mementingkan diri, tidak punya rasa bersalah, dan tidak mengenal rasa sesal bila mencelakakan orang lain.
d.                   Celakanya, orang ini tidak pernah dapat melepaskan diri dari pola tingkah lakunya yang maladiptif itu.
e.                   Selalu menghindari tanggung jawab atas masalah-masalah yang mereka timbulkan.[2]

A. Gangguan Kepribadian yang ditandai oleh prilaku aneh atau eksentrik.
Kelompok gangguan kepribadian ini meliputi gangguan paranoid, skizoid, dan skizotipal. Orang dengan gangguan ini sering memiliki kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, atau mereka menunjukkan sedikit atau tidak adanya minat dalam mengembangkan hubungan sosial.

Gangguan Paranoid
Trait penentu dalam gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder) adalah perasaan curiga yang pervasif-kecenderungan untuk menginterpretasikan prilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan. Orang dengan gangguan ini sangat tidak percaya pada orang lain, dan hubungan sosial mereka terganggu karenanya.

Orang yang memiliki kepribadian paranoid cenderung terlalu sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Mereka marah pada ketidakhormatan yang sangt kecil. Mereka mudah marah dan tidak terima bila mereka pikir mereka telah diperlakuakn dengan buruk. Mereka cenderung tidak mempercayakan rahasia pribadinya pada orang lain karena mereka yakin bahwa informasi pribadi akan dipergunakan untuk menyerang mereka.

Gangguan Skizoid
Isolasi sosial adalah ciri utama dari gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder). Seringkali digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, orang dengan kpribadian skizoid kehilangan minat pada hubungan sosial. Emosi dari orang dengan kepribadian skizoid  tampak dangkal atau tumpul.mereka nampak jauh dan menjaga jarak. Pola kepribadian skizoid umumnya dapat dikenali saat awal masa dewasa.[3]

Kepribadian skizoid memiliki ciri-ciri khas:  tidak mampu dan menghindari menjalin hubungan sosial, terkesan dingin dan tidak akrab atau tidak ramah, tidak terampil bergaul  dan suka menyendiri.

Gangguan Skizotipal
umumnya menjadi jelas saat awal masa dewasa. Diagnosis tersebut dikenakan pada orang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan dekat dan yang prilakunya, sikapnya, serta pola pikirnya aneh atau ganjil. Gangguan skizotipe memiliki ciri-ciri khas: suka menyendiri, suka menghindari orang lain, egosentrik, dihantui oleh pikiran-pikiran autistik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain selain oleh dirinya sendiri, dan takhayul-takhayul, dan amat perasa.[4]

B. Gangguan Kepribadian yang ditandai oleh Prilaku Dramatis, Emosional dan Eratik.
Kelompok gangguan kepribadian ini mencakup tipe antisosial, histrionik dan narsisitik. Orang dengan gangguan ini memiliki kesulitan untuk membentuk dan membina hubungan.

Gangguan Antisosial
Orang dengan gangguan antisosial secara persisten melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering melanggar hukum, mereka melanggar norma dan konvensi sosial, impulsif serta gagal membina komitmen interpersonal  dan pekerjaan.
Para penderita gangguan ini memiliki beberapa ciri berikut:
  1. Perkembangan moral mereka terhambat
  2. Mereka tidak mampu mencontoh perbuatan-perbuatan yang diterima masyarakat
  3. Kurang dapat bergaul dan kurang tersosialisasikan dalam arti tidak mampu mengembangkan kesetiaan pada orang, kelompok, maupun nilai-nilai sosial yang berlaku, maka mereka sering bentrok dengan masyarakat.

Gangguan ini sering disebut pula kepribadian sosiopatik atau psikopatik, dan meliputi misalnya, orang-orang yang menjalankan bisnis dengan curang, pengacara, dokter dan politikus yang curang, para penipu, pengedar dan atau pengguna obat bius, pelacur, dan para pelaku tindak delinkuen atau kriminal.

Gangguan Histrionik
Melibatkan emosi yang berlebihan dan kebutuhan yang besar untuk menjadi pusat perhatian. istilah ini berasal dari bahasa latin histrio yang berarti “aktor”. Orang dengan gangguan kepribadian histrionik cenderung  dramatis dan emosional, namun emosi mereka tampak dangkal, dibesar-besarkan, dan mudah berubah.

Orang dengan kepribadaian histrionik bisa merasa kecewa dalam pengertian yang tidak umum karena kabar mengenai suatu kejadian yang menyedihkan dan membatalkan rencana untuk sore hari, membuat teman-temanya menjadi tidak nyaman. Mereka cenderung self-centered dan tidak toleran terhadap penundaan kesenangan , mereka ingin apa yang mereka inginkan saat mereka menginginkannya, mereka cepat bosan dengan rutinitas dan haus akan hal-hal yang baru dan stimulasi. Ciri umum lainnya adalah:
  1. Berprilaku dramatik atau penuh aksi
  2. Serba menonjolkan diri
  3. Emosional
  4. Eratik atau aneh-aneh.
Dan ciri khususnya adalah:
  1. Tidak matang
  2. Haus akan hal-hal yang serba menggairahkan
  3. Penyesuaian seksual dan hubungan pribadinya kacau
  4. Tergantung, tak berdaya dan mudah ditipu
  5. Egois, congkak, sangat haus akan pengukuhan orang lain
  6. Sangat reaktif, dangkal atau picik dan tidak tulus.[5]

Gangguan Narcisistik
Orang dengan gangguan kepribadian narsisistik memilki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian. Merea berharap orang lain melihat kualitas khusus mereka, bahkan saat prestasi mereka biasa saja. Selain itu kepribadian ini juga merasa diri penting dan haus akan perhatian dari orang lain, selalu menuntut perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain, sangat peka pada pandangan orang lain terhadap dirinya (harga dirinya rapuh), bersikap eksploitatif, memikirkan kepentingannya sendiri, mengabaikan hak dan perasaan orang lain.

Orang yang berkepribadian sehat kadang menunjukkan bentuk narsisme lunak, yakni ketertarikan terhadap tubuhnya sendiri. Dalam bentuk yang berbahaya, narsisme menghalangi persepsi yang objektif terhadap realitas, sehingga segala sesuatu yang dimiliki menjadi sangat berharga, sebaliknya yang dimiliki orang lain kurang berharga.
Individu yang narsis asik dengan dirinya sendiri, bukan hanya terbats mengagumi dirinya di depan kaca. Keasikan dengan tubuh sendiri sering mengkibatkan hipokondriasis (merasa sakit meski secara medis tidak ada gangguan fisik), atau memberi perhatian yang obsesif terhadap kesehatan sendiri.[6]
           



DAFTAR BACAAN




Nevid, Jeffrey S. dkk. Psikologi Abnormal Jilid 1 edisi ke 5   Erlangga: Jakarta, 2005

Supratiknya. A. Mengenal Prilaku Abnormal  Kanisius: Yogyakarta, 1995



[1] Jeffrey S. Nevid “Psikologi Abnormal” Jilid 1 edisi ke 5 (Erlangga: Jakarta, 2005) h. 273.
[2]  A. Supratiknya “Mengenal Prilaku Abnormal” (Kanisius: Yogyakarta, 1995) h. 54.
[3] Op cit. h. 273-275.
[4] Op cit,…, h. 55.
[5] “Mengenal Prilaku Abnormal” (Kanisius: Yogyakarta, 1995) h. 55.
[6] http://www.acehforum.or.id/jenis-jenis-gangguan-t23256.html

Mentalitas Jiwa Beragama dalam Membentuk Kepribadian

Setting kondisi bangsa arab sebelum islam hadir ketengah masyarakatnya, dikenal dengan zaman zahiliyah ( kebodohan ), bukan karena mereka tidak pandai membaca dan menulis atau tidak terampil dalam mengolah daya kreatifitasnya, melainkan ditengah-tengah kondisi sosial masyarakatnya mereka masih menyembah berhala (patung-patung yang di buat oleh tangan manusia), membunuh bayi wanita, menjalankan praktek riba dalam perdagangan, mabuk minuman keras, judi,dan zina adalah bagian dari tradisi atau praktek yang biasa dilakukan dan terjadi pada waktu itu. Inilah yang dimaksud dengan tradisi zahiliyah pra-islam datang.
Kemudian dengan hadirnya islam ketengah-tengah bangsa arab yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW telah merubah segala tatanan hidup yang biasa terjadi, sehingga bangsa arab pada akhirnya dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi oleh dunia. Keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran islam untuk membangun peradaban tinggi tersebut, tidak terlepas dari misi kerasulan itu sendiri yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Tentunya, peradaban tinggi tidak tercapai apabila pribadi-pribadi masyarakatnya masih buruk, dalam hal ini pribadi/perangai/akhlak nabi yang tercermin dalam bersikap dan tingkah laku dengan realitas sosial yang ada menjadi penopang seutuhnya atas risalah yang di bawa oleh beliau.
Dalam konteks ke-kinian, persaingan arus global yang hadir ditengah-tengah masyarakat telah menjadi sebuah tantangan dan kenyataan yang harus di hadapi dan di jalani oleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan persoalan hidup yang akan muncul di kemudian hari, agar tidak terjadi ketimpangan-ketimpangan moral atau krisis moralitas, maka dibutuhkan pribadi-pribadi manusia unggul dengan mentalitas yang sehat, selalu memberikan dampak positive terhadap lingkungan sosialnya, hal ini akan dapat terwujud apabila masing-masing sumber daya manusia yang ada mampu mereflesikan nilai-nilai ajaran agamanya dalam keseharian, karena agama selalu mengajarkan ummatnya untuk menciptakan kemaslahatan.
A.    Kesehatan Mental
Manusia mempunyai sifat yang holistik, dalam artian manusia adalah makhluk fisik, psikologis, sekaligus rohani, dan aspek-aspek ini kemudian saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi karena merupakan satu kesatuan dari unsur manusia. Hal ini menandakan bahwa kondisi fisik manusia adalah bagian integral dari kondisi psikologis dan rohaninya.  Apabila fisik (jasmaninya) sakit, akan berdampak pada kondisi psikologis dan rohaninya, begitupun juga sebaliknya.
Untuk itu, perawatan jasmani menjadi penting karena kondisi fisik mempunyai pengaruh langsung terhadap kesehatan emosi manusia, misalnya penyakit-penyakit tertentu sekaligus penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengobati problema-problema fisik dapat menimbulkan gejala-gejala atau simptom depresi.[1]
Seseorang dikatakan sehat secara jasmani apabila memiliki energi, daya tahan yang cukup, dan kekuatan untuk menjalankan aktivitas dengan kondisi badan terasa nyaman dan sehat. Selanjutnya, menurut Dr. Kartini Kartono mental yang sehat memiliki sifat-sifat yang khas, antara lain mempunyai kemampuan untuk bertindak secara efisien, memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas, memiliki konsep diri yang sehat, memiliki koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian  dan memiliki batin yang selalu tenang.
Menelaah pernyataan tersebut, dapat di sarikan bahwa jika seseorang manusia sehat secara jasmani dan mental, selain akan terhindar dari gejala penyakit kejiwaan dengan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwanya, akan mampu menempatkan pribadinya secara harmonis dan baik untuk dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya.
Keselarasan fungsi jiwa dan menempatkan pribadi dengan baik di tengah realitas sosial tersebut akan terfleksi dengan menjalankan ajaran agama, norma, hukum, dan moral yang terdapat dikomunitas sosial yang ada. Sehingga akan tercipta suasana bathin yang tenang, jauh dari kegelisahan dan akan mencapai kebahagiaan pada diri orang tersebut.  
Kesehatan mental apabila ditinjau dari sisi etimologi, kata ‘’mental’’ berasal dari bahasa latin, yaitu ‘’mens’’ atau ‘’mentis’’ yang berarti roh, sukma, jiwa, atau nyawa. Dalam bahasa yunani, kesehatan terkandung dalam kata ‘’hygience’’ yang berarti ilmu kesehatan. Maka kesehatan mental merupakan bagian dari hygience mental ( ilmu kesehatan mental).[2] Mengutip beberapa definisi dari dari para pakar (Burhanudin:1999) yang dimaksud dengan kesehatan mental adalah :
1.      Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala jiwa (neorose) dan gejala penyakit jiwa (psychose).
2.      Kesehatan mental adalah adanya kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk meyesuaikan dirinya sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungannya.
Sejalan dengan definisi diatas, untuk sampai pada mental yang sehat, seseorang harus terlebih awal mengenal dirinya sendiri, memahamai atau sadar akan potensi kekurangan dan kelebihannya, kemudian bertindak sesuai dengan kemampuannya untuk menciptakan kemaslahatan.
B.     Krisis Mental Dan Peran Agama
Secara umum setiap orang potensinya senantiasa memiliki mental yang sehat, namun karena beberapa faktor orang akan terjangkit mentalitas yang  tidak sehat. Seseorang yang tidak sehat secara mental akan mengalami tekanan-tekanan bathin, dengan suasana bathin tersebut akan mengganggu ketenangan hidupnya.
Pada era modern saat ini yang ditandai dengan kemudahan tekhnologi informasi serta  peralatan canggih yang memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya, ternyata selain  membawa manfaat positive, juga tidak sedikit meninggalkan efek negative bagi pelaku kehidupannya di dalamnya, manusia lebih cenderung berprilaku konsumtif yang pada akhirnya berpikir hanya bagaimana untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Namun, perkembangan tersebut tidak dapat membawa kebahagiaan bagi manusia, bahkan menyebabkan kehidupan manusia menjadi sukar. Kesukaran material berubah menjadi kesukaran mental. Demikanlah dengan jiwa manusia yang membawa beban semakin berat sehingga timbul kegelisahan, ketegangan dan keresahan bahkan tekanan perasaan yang mengurangi kebahagiaan.
Di tambah lagi, beberapa tahun kebelakang dalam konteks Indonesia, kita di akrabkan dengan istilah krisis multidimensi. Keterpurukan ekonomi, ketidakstabilan politik, ancaman disintegrasi dan sebagainya hampir menjadi santapan setiap harinya.
Namun, sadarkah kita bahwa sesungguhnya yang kita alami saat ini adalah krisis akhlak. Akhlak sangat berkaitan dengan pola pikir, sikap hidup, dan perilaku manusia. Jika akhlak seorang individu buruk, maka sangat mungkin ia akan melahirkan berbagai perilaku yang dampaknya akan merugikan orang lain. Dalam konteks ini, keterpurukan bangsa kita bisa jadi diakibatkan oleh keterpurukan akhlak dari individu-individu di dalamnya.[3]
 Melihat kondisi ini, seakan kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. Adapun penyebab terjadinya krisis moral itu sendiri adalah :
1.      Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang  menyebabkan paradoks antar nilaimisalnya etika dan estetika
2.      Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan  kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya
3.      Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral
4.       Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral
Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali kepada jalan agama, karena ajaran agama akan memberikan bimbingan hidup dari masa kecil hingga dewasa, baik melingkupi pribadi, keluarga, masyarakat atau hubungan dengan Allah. Maka bimbingan dan pendidikan agama akan memberikan jaminan kebahagiaan dan ketentraman bathin dalam hidup ini.[4] Sebagaimana yang tertulis dalam al-qur’an yang artinya berbunyi “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)
C.    Akhlak Dalam Kehidupan
Akhlak adalah nilai pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural, dan refleks. Jadi, jika nilai islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu.[5]
Dalam Islam akhlak dapat di bagi menjadi dua yaitu :
1.      fitriyah, yaitu sifat bawaan yang melekat dalam fitrah seseorang yang dengannya ia diciptakan, baik sifat fisik maupun jiwa.
2.      Muktasabah, yaitu sifat yang sebelumnya tidak ada namun diperoleh melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman
Yang pada puncaknya tertuju kepada akhlak Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki individu manusia dan merekonstruksi visi dalam membangun mentalitas, serta membentuk akhlak dan karakternya. Demikianlah, Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki masyarakat manusia dan mereformasi sistem, serta membangun budaya dan mengembangkan peradabannya.
Walaupun islam merinci satuan akhlak terpuji, namun dengan pengamatan mendalam, kita menemukan satuan tersebut sesungguhnya mengakar pada induk karakter tertentu. Sedangkan akhlak tercela seperti penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa, adapun hal tersebut dapat dilihat faktor-faktor yang membentuk perilaku antara lain meliputi :
Faktor internal :
1.      Instink biologis, seperti lapar, dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya
2.       Kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri
3.       Kebutuhan pemikiran, yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos, agama, dan sebagainya
Faktor eksternal :
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan sosial
3. Lingkungan pendidikan
Dalam konsep Islam, karakter ( Kepribadian ) tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis.
Selanjutnya, perlu di perhatikan akan tahapan perkembangan perilaku dari manusia itu sendiri, yang diantaranya terdiri dari beberapa tahap :
·         Tahap I (0 – 10 tahun); Perilaku lahiriyah, metode pengembangannya adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman), indoktrinasi.
·         Tahap II ( 11 – 15 tahun);Perilaku kesadaran, metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog, pembimbingan, dan pelibatan
·         Tahap III ( 15 tahun ke atas);Kontrol internal atas perilaku, metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup, dan penguatan tanggung jawab kepada Allah.
Kemudian yang harus diperhatikan adalah tentang ambivalensi kejiwaan manusia  , yaitu dua garis jiwa yang berbeda bahkan berlawanan, namun saling berhadapan yang mana fungsinya adalah untuk :
1.      Merekatkan sisi-sisi kepribadian manusia tetap agar utuh
2.      Memperluas wilayah kepribadian manusia dengan tetap menjaga pusat keseimbangannya
3.      Menjaga dinamika perkembangan jiwa manusia
Seseorang akan memiliki tingkat kesehatan mental yang baik, jika garis jiwa yang ambivalen berjalan dan bergerak secara harmonis, seakan simfoni indah orkestra handal. Maka langkah yang harus ditempuh agar simfoni tersebut mengalun indah dan harmonis adalah :
1.      Atur posisi dan komposisi garis jiwa itu secara benar, dan hilangkan semua kecenderungan jiwa yang salah
2.      Berikan atau tentukan arah kecenderungan jiwa secara benar dan natural.
3.      Lihat ekspresinya dalam bentuk sikap dan perilaku kesehariannya
Garis jiwa yang ambivalen ada dalam diri manusia sejak ia lahir sampai ia mati, melekat, dan mewarnai semua sisi kehidupannya. Walaupun demikian, tetap ada perbedaan mendasar tentang objek dan alasan yang melahirkan garis jiwa menjadi perilaku, pada tahapan usia yang berbeda pula.
Kepribadian yang sehat memiliki pengaturan (regulasi) dan penyesuaian (integrasi) yang baik dan harmonis. Dengan demikian, jika seseorang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri, maka ia akan mengalami gangguan jiwa atau mental. Dalam upaya membangun kepribadian seseorang, kepribadian dapat terbentuk setelah seseorang melalui proses :
1.      Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideologi, dan sebagainya
2.      Nilai membentuk pola pikir seseorang yang secara keseluruhan ke luar dalam bentuk rumusan visinya
3.      Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas
4.      Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap
5.      Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian

Selanjutnya, yang harus difahami juga adalah bagaimana melakukan perubahan karakter, tentunya perubahan karakter dalam rangka membentuk pribadi yang bernilai positive, mengingat dalam islam sendiri karakter (Kepribadian) tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Adapun tiga langkah merubah karakter, diantaranya adalah :
1. Terapi kognitif
Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir.
Langkah :
Pengosongan, berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah, menyimpang, tidak berdasar, baik dari segi agama maupun akal yang lurus
Pengisian, berarti mengisi kembali benak kita dengan nilai-nilai baru dari sumber keagamaan kita, yang membentuk kesadaran baru, logika baru, arah baru, dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah
Kontrol, berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita, sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh
Doa, berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita

2. Terapi mental
Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis
Langkah :
Pengarahan, berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita
Penguatan, berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan.
Kontrol, berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita
Doa, berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan pengendalian bagi mental kita

3. Perbaikan fisik
Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur :
1.   Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan
2.   Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup
3.   Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh
Dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad : Rasulullah bersabda, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?”
Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya rasulullah ! ” Lalu rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.”











Manusia ideal dalam konteks agama adalah manusia yang mampu menjalankan potensinya dengan menyelaraskan hubungannya secara vertikal kepada Tuhannya dan berinteraksi sosial secara horizontal terhadap sesamanya dalam rangka membangun kemaslahatan atau kebahagian secara kolektif, dengan saling memberikan manfaat bagi sesamanya.
Untuk itu, dibutuhkan sosok manusia cerdas yang sehat secara fisik, psikologis dan rohaninya, atau dalam termonologi lainnya adalah sehat secara jasmani dan rohaninya, karena dengan faktor-faktor tersebutlah yang akan melahirkan pribadi-pribadi yang dalam konteks sosial kehidupannya dapat member nilai manfaat untuk dirinya, orang lain, masyarakat dan lingkungannya.
Tentunya, kepribadian dari sumber daya manusia tersebut tidak akan lahir jika didalam diri mereka tidak terdapat mentalitas yang kokoh yang pada awalnya di bentuk dari ajaran dan doctrinal agama, karena mengingat agama adalah jalan yang akan membawa seseorang kepada keselamatan yang di dalamnya terdapat aturan-aturan yang disediakan untuk mengatur tatanan hidup manusia menuju kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan semu.
Karena manusia adalah makhluk dinamis, maka kepribadian tidak serta merta hadir dengan sendirinya, akan tetapi dapat di bentuk dengan penggemblengan mental atau penyadaran  dengan bersandar kepada normatifitas ajaran agama.






DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin, Yusak, Kesehatan Mental, Pustaka Setia, Bandung;1999
Gymnastiar, Abdullah, Refleksi Untuk Membangun Nurani Bangsa, MQS. Publishing, Bandung; 2004
Daradjat, Zakiah, Kesehatan Mental, Haji Masagung, Jakarta;1990

http://c3i.sabda.org/penyebab_masalah_kejiwaan










[1] http://c3i.sabda.org/penyebab_masalah_kejiwaan

 

[2] Drs. Yusak Burhanudin, Kesehatan Mental, Pustaka Setia, Bandung, 1999. hl.9
[3]Abdullah Gymnastiar,Refleksi Untuk Membangun Nurani Bangsa,MQS Publishing, bandung 2004.h.36
[4]  Ibid. h. 105
[5] http://pustaka-ebook.com/membentuk-karakter-cara-islam/

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...