Loading...

Jumat, 09 Desember 2011

METAFISIKA

Ibnu Miskawaih & Ibnu Rusyd

Aristoteles merupakan filosof pertama yang meletakkan sains-sains kealaman, matematika, etika, sosial ataupun logika dan harus dilihat sebagai suatu sains yang terpisah. Aristoteles juga merupakan filosof pertama yang menemukan faktor yang menghubungkan persoalan-persoalan setiap sains, dan standar yang dengannya persoalan-persoalan itu dibedakan dari persoalan-persoalan sains lain- dengan kata lain, apa yang disebut sebagai subjek dari suatu sains.

Fakta ini tampak secara jelas saat melihat perbandingan antara metafisika Aristoteles dengan Ibn Sina, untuk tidak menyebut metafisika Mulla Shadra. Tapi Aristoteles adalah filosof pertama yang memperluas sains ini sebagai suatu lapangan yang independen, memberikannya tempat yang khusus di antara sains-sains yang lain.

Karya-karya Aristoteles yang dikumpulkan ke dalam sebuah ensiklopedia setelah meninggal. Salah satunya menyisakan persoalan mengenai filsafat alam, yang kemudian dikenal dengan metafisika yang berarti setelah (yang) fisik. Istilah itu diterjemahkan ke dalam bahasa arab dengan istilah ma ba’d al-thabi’ah. Nama ini diberikan pada sains tersebut karena  muncul setelah bab filsafat alam dalam karya Aristoteles. Diperkirakan karena melihat beberapa pertanyaan yang dilontarkan dalam sains ini, seperti tentang Tuhan dan inteligensi-inteligensi, berada di luar alam (fisik). Oleh karena itu, sejumlah filosof muslim seperti Ibn Sina, berpendapat bahwa sains ini tidak seharusnya dinamai metafisika, melainkan profisika; karena meliputi subjek-subjek tentang Tuhan yang ada sebelum alam bukan setelahnya.

Kesalahan verbal dalam penerjemahan ini kemudian membawa pada kesalahan dalam pemahaman di kalangan sejumlah pelajar modern yang mempelajari filsafat. Banyak orang Eropa menganggap metafisika sama dengan hiperfisika, dan bahwa subjek sains ini adalah fenomena eksternal alam. Kenyataannya, sains ini meliputi yang alami dan adi-alami, secara singkat semua yang wujud. Kelompok ini, secara salah mendefinisikan sains ini sebagai: “Metafisika adalah sains yang berkaitan semata-mata dengan Tuhan dan fenomena yang terpisah dari alam.”[1] Dalam hal ini banyak jug dari filosof-filosof muslim  yang mengangkat dalam pembahasan filsafatnya, antara lain Nashiruddin Al-Tusi dan Ibn Maskawaih.


Ibnu Maskawaih
Metafisika Maskawaih mencakup pembahasan tentang bukti adanya Tuhan Pencipta, jiwa dan kenabian (nubuwwah). Secara lengkap metafisika Maskawaih dituangkan dalam kitabnya Al-Fauz Al-Ashghar.

Bukti-bukti Adanya Tuhan Pencipta, Untuk membuktikan adanya Tuhan  Pencipta, dari satu segi dapat dikatakan mudah, tetapi dari segi lain dapat dikatakan sukar. Membuktikan adanya Tuhan Pencipta adalah mudah, karena kebenaran adaNya telah terbukti pada dirinya sendiri dengan amat jelas. Adapun segi kesukarannya karena keterbatasan akal manusia. Tetapi orang yang berusaha keras untuk memperoleh bukti ada-Nya, sabar menghadapi berbagai macam kesukaran, pasti akhirnya akan sampai juga, akan diperoleh bukti-bukti yang menyakinkan tentang kebenaran adaNya.

Maskawaih mengatakan bahwa sebenarnya tentang adanya Tuhan Pencipta itu telah menjadi kesepaAktan para filosof sejak dulu. Maskawaih berusaha membuktikan bahwa Tuhan Pencipta itu esa, azali (tanpa awal) dan bukan materi (jism). Tuhan dapat diketahui dengan cara menindakan (negatif), bukan dengan cara positif. Pembuktian secara positif berarti pembuktian secara langsung, sedang pembuktian secara negatif adalah secara tidak langsung dengan menolak suatu proposisi tentang Tuhan untuk menerima yang sebaliknya. Misalnya kita menolak proposisi yang mengatakan bahwa Tuhan adalah suatu badan, Tuhan adalah bergerak, Tuhan adalah tidak esa, Tuhan adalah diciptakan, dan sebagainya, yaitu Tuhan bukan suatu badan, Tuhan tidak bergerak, Tuhan adalah esa dan Tuhan tidak diciptakan dan sebagainya.[2]

Berbicara tentang Tuhan Pencipta, Al-Jisri mengemukakan bahwa jika kamu yakin benda itu baru kamu akan meyakini wujud Tuhan Pencipta. Dan setelah memperhatikan yang beraneka itu, kamu mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan benda serta segala macamnya. Kamu tidak susah menyatakan segala macam itu timbul dari benda yang bergerak secara otomatis tanpa ada maksud, pengetahuan dan pemikiran.[3]

Miskawaih menggunakan berbagai macam argumen untuk menetapkan adanya Tuhan. Yang penting ditonjolkan adalah adanya gerak atau perubahan yang terjadi pada alam. Memperhatikan bahwa segala macam benda mempunyai sifat gerak atau berubah sesuai dengan watak pembawaan masing-masing (sifat gerak itu berbeda-beda yang berbeda), maka adanya gerak yang berbeda-beda itu membuktikan adanya yang menjadi sumber gerak, penggerak Pertama yang tidak bergerak yaitu Tuhan. Argumen gerak ini diambil dari argumen Aristoteles.[4]
 
Jiwa (An-Nafs),Maskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan berpikir yang menjadi sumber pertimbangan tingkah laku yang selalu mengarah kepada kebaikan. Menurut Maskawaih, jiwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat, Dari tingkat yang paling rendah disebutkan urutannya sebagai berikut:[5]

a.    An-Nafs al-bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk.
b.    An-Nafs al-sabu’iah (nafsu binatang buas) yang sedang.
c.    An-Nafs an-nathiqah (jiwa yang cerdas) yang baik.
Sehubungan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan yang tiga macam tersebut, Maskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk (an-nafs al-bahimiyah, nafsu kebinatangan) mempunyai sifat-sifat, ujub (pongah), sombong, pengolok-olok, penipu, dan hina dina. Sedangkan jiwa yang cerdas (an-nafs an-nathiqah) mempunyai sifat-sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar dan cinta.[6]

Kenabian (An-Nubuwwah), dalam membicarakan hal kenabian, Maskawaih menyajikan banyak hal yang sepintas lalu tidak lazim digolongkan sebagai topik kenabian. Maskawaih membicarakan masalah tingkatan-tingkatan wujud dalam alam dan hubungannya satu sama lain. Dibicarakannya pula manusia yang merupakan mikrokosmos di bandingkan dengan alam semesta yang merupakan mikrokosmos. Dibicarakannya macam-macam kapasitas daya manusia yang mengalami perkembangan panca indera meningkat menjadi kekuatan bersama seperti perkembangan dari tingkat yang rendah kepada tingkat yang lebih tinggi, seperti perkembangan panca indera meningkat menjadi kekuatan bersama (common sensibility), dan dari sini berkembang lagi kepada yang lebih tinggi atas rahmat Allah. 

Kemudian dibicarakan pula perihal wahyu dan cara di perolehnya; juga tentang akal yang dibicarakan sebagai raja yang di taati sesuai pembawaannya; juga tentang perbedaan antara nabi yang diutus dan nabi yang tidak diutus; akhirnya tentang perbedaan antara nabi yang sungguh-sungguh dan orang yang mengaku sebagai nabi (mutanabbi). 

Miskawaih mengemukakan betapa tinggi kedudukan para Nabi dibanding dengan manusia lainnya, dengan jalan terlebih dulu mengungkapkan proses evolusi. Jadi bukan evolusi sebagai suatu teori sebagaimana yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern, melainkan sebagai jembatan untuk dapat memahami kemungkinan adanya berbagai macam tingkat wujud di alam ini, dengan menyebut manusia sebagai yang paling tinggi martabatnya di banding dengan martabat wujud-wujud lain. Sebagai yang bermartabat paling tinggi, manusia supaya berusaha meningkatkan martabat hidupnya dengan jalan berpikir manusia hendaknya berusaha untuk sampai pada tingkat setinggi mungkin. Yang memang berbakat, hendaknya berusaha untuk sampai pada tingkat bijaksana (hikmah), hingga berhak disebut hakim. 

Selain itu, Maskawaih menetapkan adanya tipe manusia yang memang sanggup sampai ke tingkat kemanusiaan yang paling tinggi, yang yang memperoleh kebenaran-kebenaran yang hakiki tidak dengan jalan berpikir, tetapi dengan jalan wahyu, yaitu para Nabi. Nabi tingkatannya lebih tinggi dari filosof. Kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh para Nabi lebih meyakinkan dari pada kebenaran-kebenaran yang diperoleh para filosof, karena para Nabi memperoleh kebenaran langsung dari Tuhan sedangkan para filosof memperolehnya lewat pemikiran. Hal senada telah diungkapkan oleh filosof Muslim perintis.[7]

Ibn Rusyd
Ibn Rusyd membicarakan filsafat ketuhanan diberbagai karangannya, antara lain pada Tahafut al Tahafut dan Mana-hij al Adillah, filsafat ini membahas tentang wujud Tuhan, sifat-sifat-Nya dan hubungan-Nya dengan alam. Dalam Fashl Al Maqal Ibnu Rusyd menyatakan, bahwa mengenal pencipta itu hanya mungkin dengan mempelajari alam wujud yang diciptakan-Nya, untuk dijadikan petunjuk bagi adanya pencipta. Allah memberikan dua dalil dalam kitab-kitabNya yang diringkas oleh Ibnu Rusyd sebagai dalil ‘inayah dan dalil cipta atau ikhtira’, ayat-ayat yang mewujudkan dalil ‘ikhtira’ adalah seperti: Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakannya (Q.S. Al-Hajj: 73). Dan ayat-ayat yang mewujudkan dalil inayah adalah seperti: Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak. (Q.S. An-Naba: 6-7).[8]

Dalam membuktikan adanya Allah, Ibn Rusyd menolak dalil-dalil yang pernah di kemukakan oleh beberapa golongan sebelumnya karena tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Syara, dalam berbagai ayatnya Ibn Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai dengan al-Qur’an,  Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang di pandangnya sesuai tidak saja bagi orang awam, tapi juga bagi orang–orang khusus yang terpelajar.

Dalil ‘inayah (pemeliharan). Dalil ini berpijak pada tujuan segala sesuatu dalam kaitan dengan manusia. Artinya segala yang ada ini dijadikan untuk tujuan kelangsungan manusia. Pertama segala yang ada ini sesuai dengan wujud manusia. Dan kedua, kesesuaian ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang sengaja diciptakan demikian oleh sang pencipta bijaksana.[9]

Dalil ‘inayah ini mempunyai kelebihan atas dalil-dalil golongan Asy’ariyah karena dalil ‘inayah itu mengajak kita kepada pengetahuan yang benar, bukan sekedar ada argumentasi, tapi mendorong kita untuk memperbanyak penyelidikan dan menyingkap rahasia-rahasia alam, bukan untuk menimbulkan kesulitan dan kejanggalan. Dalil ‘inayah juga mempunyai kelebihan atas dalil golongan tasawuf yang membawa kita baik cepat maupun lambat, kepada kemajuan kreatifitas dan tawakal yang bukan pada tempatnya.[10]

Dalil Ikhtira’ (penciptaan). Dalil ini didasarkan pada fenomena ciptaan segala makhluk ini, seperti ciptaan pada kehidupan benda mati dan berbagai jenis hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Menurut Ibn Rusyd, kita mengamati benda mati lalu terjadi kehidupan padanya,sehingga yakin adanya Allah yang menciptakannya. Demikian juga berbagai bintang dan falak di angkasa tunduk seluruhnya kepada ketentuannya. Karena itu siapa saja yang ingin mengetahui Allah dengan sebenarnya, maka  wajib mengetahui hakikat segala sesuatu di alam ini agar ia dapat mengetahui ciptaan hakiki pada semua realitas ini.[11]

Dalil ini memberikan dorongan untuk mengikuti jalan keilmuan sedalam-dalamnya. Hal ini berarti sama dengan dalil ‘inayah. Dalil ‘ikhtira’ lebih berguna daripada dalil atom atau dalil wajib mungkin, dan lain-lain. Kelebihan dalil ini karena dipakai oleh syara’ sendiri dan menguatkan adanya kebijaksanaan Tuhan. Sebagaimana contoh ayat di atas.[12]

Dalil Gerak. Dalil ini berasal dari Aristoteles dan Ibn Rusyd memandangnya sebagi dalil yang meyakinkan tentang adanya Allah seperti yang digunakan oleh Aristoteles sebelumnya. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap dalam suatu keadaan, tetapi selalu berubah-ubah. Dan semua jenis gerak berakhir pada gerak pada ruang, dan gerak pada ruang berakhir pada yang bergerak pad dzatnya dengan sebab penggerak pertama yang tidak bergerak sama sekali, baik pada dzatnya maupun pada sifatnya.[13]

Dalil gerak atau Penggerak Pertama yang diambilnya dari Aristoteles menurut Ibn Rusyd bahwa alam semesta ini bergerak dengan suatu gerakan yang abadi, dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan tidak berbenda yaitu Tuhan. Namun Ibnu Rusyd tidak mengikuti pemikira Aristoteles yang mengatakan bahwa gerakan benda-benda langit adalah qadim, karena Ibn Rusyd mengatakan bahwa benda-benda langit gerakannya dijadikan oleh Tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman, karena zaman tidak mungkin mendahului wujud perkara yang bergerak, selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran gerakannya. Jadi gerakan menghendaki adanya penggerak pertama atau sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi wujud.[14]
 
Sifat-sifat Allah. Adapun pemikiran Ibn Rusyd tentang sifat-sifat Allah berpijak pada perbedaan alam gaib dan alam realita. Untuk mengenal sifat-sifat Allah, Ibn Rusyd mengatakan, orang harus menggunakan dua cara: tasybih dan tanzih (penyamaan dan pengkudusan). Berpijak pada dasar keharusan pembedaan Allah dengan manusia, maka tidak logis memperbandingkan dua jenis ilmu itu.

Selain keempat teori di atas Ibnu Rusyd pula mengemukakan pendapatnya tentang Kebangkitan Jasmani dan Kerasulan Nabi dalam beberapa kitabnya.
Kebangkitan Jasmani. Menurut Ibnu Rusyd, keimanan terhadap kebangkitan jasmani adalah  suatu keharusan bagi terwujudnya keutamaan akhlak, keutamaan teori dan amalan lahir, karena seseorang tidak akan memperoleh kehidupan yang sebenarnya dalam dunia dan akhirat, tidak bisa tercapai kecuali dengan keutamaan-keutamaan teori. Baik amalan-amalan lahir maupun batin keutamaan-keutamaan teori tidak bisa terwujud dan tercapai, kecuali dengan keutamaan-keutamaan akhlak, sedang keutamaan akhlak tidak bisa tercapai kecuali dengan jalan mengetahui Tuhan dan memuji-Nya dengan ibadah yang telah ditentukan untuk masing-masing agama, seperti: berkorban, shalat, dan ucapan-ucapan lain yang diucapkan untuk memuji Allah dan malaikat-malaikat serta nabi-nabi-Nya.

Kerasulan Nabi. Pembuktian kerasulan para ulama kalam menyatakan apabila orang berbicara dan berkehendak dapat mengutus hamba-hambanya, maka bagi Tuhan juga apabila berbicara dan beriradah dapat mengutus rasulnya. Pembuktian ini adalah melalui jalan kias, namun jalan tersebut hanya bisa membawa kesimpulan yang mungkin saja, sehingga tidak bisa disebut kias burhani (kias yang meyakinkan). Bagi golongan Asy’ariyah dalam memperkuat kias itu adalah “bahwa orang yang mengaku menjadi utusan tuhan, maka harus menunjukan benar-benar bahwa ia diutus tuhan untuk hamba-hamba-Nya, dan tanda ini dinamakan mukjizat.

Pembuktian sepert itu menurut Ibnu Rusyd hanya bersifat memuaskan hati, tetapi tidak meyakinkan, namun ia menyadari bahwa pembuktian itu sesuai dengan kebanyakan orang. Apabila diteliti dengan seksama pembuktian mengandugn berbgai kelemahan. Diantaranya yaitu dari mana kita mengetahui bahwa mukjizat yang nampak pada seseorang yang mengaku nabi itu adalah tanda dari Tuhan yang menjukkan bahwa ia benar-benar rasul-Nya. Keadaan demikian tidak bisa ditetapkan oleh syara. Karena syara belum dapat ditetapkan, sebaba menunggu penetapan kerasulannya itu. Akal pikiran pun tidak bisa menetapkan bahwa tanda tersebut adalah khusus untuk para rasul, kecuali apabila memang tanda itu telah diketahui wujudnya berkali-kali dari orang yang mengaku menjadi rasul dan tidak terjadi pada orang lain.[15]

DAFTAR BACAAN
Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd dan Averroisme, Jakarta, 2004,
Aboebakar, H. Sejarah Filsafat Islam, Solo-
Al-Jisri, Nadim. Wujud dan Ma’rifah, Jakarta, 1992.
Mustofa, H.A. Filsafat Islam, Bandung; 1997.
Muthahhari, Murtadha. Tema-Tema Penting Filsafat Isalm, Bandung, 1993




[1] Murtadha Muthahhari, Tema-Tema Penting Filsafat Islam, (Bandung, 1993), Hlm 19-21.
[2] H.A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, Hlm 170-17.
[3] Nadim Al-Jisri, Wujud dan Ma’rifah, Jakarta, 1992, Hlm 7.
[4] H.A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, Hlm 171.
[5] H. Aboebakar, Sejarah Filsafat Islam, Solo-, Hlm…
[6] H.A.Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, Hlm 174
[7] H.A.Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, Hlm 175.
[8] H.A.Mustofa, Filsafat Islam,… Hlm 289-292.
[9] Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd dan Averroisme, Jakarta, 2004, h. 21-25.
[10] H.A.Mustofa, Filsafat Islam,… Hlm 292.
[11] Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd dan Averroisme,… Hlm 22.
[12] H.A.Mustofa, Filsafat Islam,… Hlm 292,
[13] Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd dan Averroisme,… Hlm 24
[14] H.A.Mustofa, Filsafat Islam,… Hlm 294
[15] H.A.Mustofa, Filsafat Islam,… Hlm 301-304

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar