Teori Berpikir Filsafat

AKSIOLOGI
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung,” melainkan faust yang menciptakan Goethe.”
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap; keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?)

EPISTEMOLOGI
Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan

a.      Empirisme

    Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
     Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. 
b.      Rasionalisme
          Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c.       Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d.      Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.

ONTOLOGI

Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
1.      Objek Formal
    Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
2.      Metode dalam Ontologi
          Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :            Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P)
              Badan itu sesuatu yang lahiri                 (S-Tt)
              Jadi, badan itu fana’                                     (S-P)
         Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:
Contoh :             Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus                    (Tt-S)
               Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan            (Tt-P)
                Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                     (S-P)
          Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan




INSTITUSI SOSIAL


Sebagaimana telah dikemukakan oleh Emile Durkheim bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari institusi. Yang dimaksud dengan Institusi adalah suatu struktur status dan peran yang di arahkan kepemenuhan keperluan dasar anggota masyarakat (Korn Blum).  Terdapat sejumlah insititusi utama dalam institusi sosial, yaitu : Institusi keluarga, Pendidikan dan Agama.
A.     Insitusi Keluarga
1.      Tipe Keluarga
Dalam kerangka sosiologi dikenal pembedaan antara keluarga bersistem konsanguinal dan konjugal. keluarga yang bersistem konsanguinal menekankan pada pentingnya ikatan daerah, sedanngkan konugal menekankan pada pentingnya hubungan perkawinan.
Pembedaan tipe keluarga dikenal juga dengan terminologi keluarga orientasi dan pro kreasi. keluarga orientasi ialah keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan, sedangkan keluarga pro kreasi ialah keluarga yang dibentuk seseorang dengan jalan menikah dan mempunyai keturunan.
Selain itu, tipe keluarga yang lain dikenal juga dengan istilah keluarga batih dan luas. Keluarga batih merupakan satuan keluarga terkecil yang terdiri dari Ibu, ayah dan anak. sedangkan keluarga luas terdiri dari beberapa keluarga batih.
2.      Bentuk Perkawinan
Terdapat dua bentuk perkawinan (perkawinan antara laki-laki & Perempuan) dan poligami (perkawinan antara laki-laki dan beberapa perempuan). Poligami sendiri di bagi kedalam beberapa bentuk, yaitu : Poligini, Poliandri dan Perkawinan Kelompok.
Aturan lain yang berlaku dalam perkawinan adalah eksogami dan endogami. Eksogami yaitu sistem yang melarang perkawinan antara anggota kelompok, sedangkan, endogami ialah sistem yang mewajibkan perkawinan dengan anggota kelompok.
3.      Aturan Mengenai Keturunan
Dalam garis keturunan seringkali kita mendengar tentang aturan patrilineal, bilateral, matrilineal,  dan keturunan rangkap.
4.      Fungsi Keluarga
Para ahli sosiologi mendefinisikan berbagai fungsi keluarga (Horton & Hunt:1984) dengan beberapa identifikasi , diantaranya : fungsi pengaturan seks, reprodiksi, sosialisasi, afeksi, definisi status, perlindungan dan ekonomi.

B.     Institusi Pendidikan
1.      Pokok Bahasan Sosiologi Pendidikan
Ahli sosiologi pendidikan membagi pokok bahasan pada sosiologi pendidikan kedalam jenjang makro, meso, dan mikro. Makrososiologi Pendidikan mempelajari tentang hubungan antara pendidikan dan institusi lain dalam masyarakat. sedangkan Mesosiologi Pendidikan mempelajari antara hubungan satu institusi/organisasi pendidikan. Kemudian, Mikrososiologi Pendidikan membahas interaksi sosial yang berlangsung dalam institusi pendidikan.
2.      Fungsi Pendidikan
Mengenai fungsi institusi pendidikan (Horton&Hunt: 1984) membagi fungsi pendidikan kedalam fungsi manifest dan latent.
Fungsi manifest institusi pendidikan adalah mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, mengembangkan bakat perseorangan, demi kepuasan pribadi maupun bagi kepentingan masyarakat dalam melestarikan kebudayaan, menanamkan keterampilan yng perlu bagi partisipasi dalam demokrasi, sedangkan fungsi latent itu berupa pemupukan keremajaan, pengurangan pengendalian orang tua, dan dipertahankannya sistem kelas sosial.

C.     Insitusi Agama
Agama merupakan suatu institusi penting yang mengatur kehidupan manusia, sehingga menurut Durkheim agama ialah suatu sistem tepadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci menyangkut kepercayaan dan praktek yang mempersatukan semua orang beriman kedalam suatu komunitas moral yang dinamakan masyarakat.
Kesukaran mendefinisikan konsep agama, mejadikan Light, Keller, dan Calhoun (1989) memilih untuk memusatkan pada unsur dasar yang dijumpai pada agama yaitu kepercayaan agama, simbolis agama, praktek agama, ummat agama, dan pengalaman agama. Setiap agama memiliki kepercayaan, misalnya kepercyaan reikarnasi pada agama hindu.
Fungsi Agama sendiri menurut Durkheim terbagi kedalam du tingkat, yaitu : tingkat mikro dan makro. pada tingkatan mikro fungsi agama ialah untuk menggerakan kita dan membantu kita untk hidup, sedangkan dari segi makro agamapun menjalankan fungsi positivenya memenuhi masyarakat secara berkala menegakkan dan memperkuat perasaan dan ide kolektif yang menjadi ciri dan inti persatuan masyarakat tersebut. Melalui upacara yang dilakukan secara berjama’ah maka persatuan dan kebersamaan ummat di pupuk dan dibina.


Subjek Pendidikan


  Ar-Rahman. Dialah yang telah mengajarkan al-Qur’an”. (Ar-Rahman:1-4)
Surah ini dimulai dengan menyebut sifat rahmat-Nya yang menyeluruh, yakni Allah  Swt mencurahkan rahmat (ar-Rahman) kepada seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini, baik manusia atau jin baik yang taat dan durhaka dan lain sebagainya. Setelah menyebutkan rahmat dan nikmatNya secara umum, Allah Swt juga menunjukkan kuasa-Nya melimpahkan sekelumit dari sifat-Nya kepada Hamba-hambaNya agar mereka Meneladani-Nya yakni dengan Menyatakan Dialah yang telah mengajakan al-Qur’an kepada siapa saja yang dia kehendaki.  Dan unsur pendidikan yang ada dalam ayat ini ialah yaitu Allah Swt. Menunjukan keMahakuasaan dan Maha pengasih-Nya yaitu dengan memberikan Rahmat kepada seluruh alam tanpa memandang bagaimana keadaan makhluk beriman atau tidak, binatang maupun tumbuhan. Dan selanjunya Allah Swt Juga memberikan pengetahuan kepada manusia tentang Al-Qur’an yang dibawa oleh Malaikat Jibril yang Diajarkan Kepada Nabi Muhammad sebagai Manusia Utusan Allah Dimuka bumi yang tujuannya sebagai pedoman untuk seluruh manusia yang ada dimuka Bumi.
  “Dialah Yang menciptakan manusia, mengajarkan ekspresi”.
 Allah ar-Rahman yang mengajarkan al-Qur’an  itu Dialah yang Menciptakan Manusia makhluk yang paling membutuhkan tuntunan-Nya dan yang paling berpotensi memanfaatkan tuntunan itu dan mengajarnya ekspresi yaitu kemampuan menjelaskan apa yang ada dalam benaknya, dengan berbagai cara utamanya adalah bercakap (berbicara) dengan baik dan benar. Dalam arti lain kata bercakap dengan baik dan benar yang dipahami Thabathaba’i dalam arti “potensi mengungkap” yakni ucapan yang dengannya dapat terungkap apa yang terdapat dalam benak. Dan pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini ialah yaitu Allah Swt menciptakan manusia yang juga mengajarkannya ekspresi (bercakap)  itu manusia harus mengilhami apa yang ada di dalam benaknya dalam arti manusia harus menggali potensi yang dimiliki yang harus selalu diasah potensi tersebut akan dapat melahirkan aneka pengetahuan.
Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan. (Q.S. An-Najm; 43-44)
            Surah ini dimulai dengan anjuran mengikuti tuntunan Nabi Saw. Yang membawa al-Qur’an. Pada ayat diatas Allah Swt berfirman: Demi bintang ketika hendak terbenam atau turun guna melontar jin dan setan-setan, tidaklah sesat yakni keliru dalam menempuh jalan kebenaran dan menyampaikannya Nabi Muhammad Saw, yang merupakan sahabatmu yakni orang yang sangat kamu kenal bagaikan sahabat yang selalu menyertai kamu dan tidak pula ia melenceng dari kebenaran dan tiadalah ia berucap menyangkut al-Qur’an dan penjelasan yang disampaikannya menurut kemauan hawa nafsunya, yakni yang disampaikannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
            Kata [النجم] dipahami oleh mayoritas ulama dalam arti bintang secara umum, yakni yang memiliki cahaya dan Nampak bagi penghuni bumi. Kata [هوى]  ada yang memahami dalam arti terbenam yakni tidak terlihat kecemerlangan cahayanya.
            Melalui ayat diatas, Allah secara langsung yang menafikan kesesatan Nabi Muhammad saw. Kata [غوى] yaitu penyimpangan dari jalan yang benar. Kata [ما ينطق] tiadalah ia berucap dari segi redaksional mencakup ucapan apaun yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. Kata [الهوى]  berarti kecenderungan hati kepada sesuatu tanpa pertimbangan akal yang sehat. Thabathaba’I berpendapat bahwa karena ayat ini ditujukan kepada kaum musyrikin yang menuduh al-Qur’an dan risalah yang beliau sampaikan adalah bohong, maka yang dimaksud dengan apa yang dia ucapkan itu adalah al-Qur’an dan ajaran keagamaan yang beliau sampaikan.
Kata [وحي] isyarat yang cepat, banyak ulama mendefinisikannya dengan : “informasi yang disampaikan Allah Swt kepada seorang Nabi Saw tentang ajaran agama atau semacamnya, baik secara langsung maupun tidak.” Kata [هوى] hawa pada ayat diatas oleh sementara ulama difahami sebagai mencakup al-Qur’an dan hadist. Sumpah pada awal surah ini menunjukkan kejujuran Rasulullah Saw mengenai kabar wahyu yang beliau ucapkan dan sampaikan. Beliau tidak sesat maupun salah dalam menyampaikan wahyu itu.
Allah Swt berfirman bahwa: ia yakni wahyu yang diterimanya itu diajarkan kepadanya yakni kepada Nabi Muhammad Saw oleh malikat Jibril yang sangat kuat, pemilik potensi akliah yang sangat hebat, lalu malaikat Jibril itu tampil sempurna dan menampakan diri dengan rupanya yang asli. Sedang dia yakni malaikat itu berada di ufuk langit yang tinggi berhadapan dengan orang yang menengadah kepadanya. Kata [علمه] diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Menyampaikan atau menjelaskan sesuatu secara baik dan benar adalah salah satu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menyampaiknnya secara baik dan benar kepada Nabi Saw, dan itulah yang dimaksud dengan pengajarannya disini. Ada lagi ulama yang memahami ayat diatas sebagai berbicara tentang Nabi Muhammad Saw, yakni Nabi agung itu adalah seorang tokoh yang kuat kepribadiannya serta matang pikiran dan akalnya lagi sangat tegas dalam membela agama Allah.
Allah Swt berfirman: Kemudian dia yakni malaikat Jibril itu mendekat lalu turun sehingga bertambah mendekat lagi, maka jadilah dia karena demikian dekatnya kepada Nabi Muhammad Saw sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi dari itu. Lalu dia yakni malaikat itu mewahyukan yakni menyampaikan secara cepat dan rahasia kepada hambanya yakni nabi Muhammad Saw apa yang telah dia yakini Allah wahyukan. Al-Biqa’I menggarisbawahi bahwa kedekatan dimaksud harus dipahami sesuai dengan kewajaran alam kudus. Kedekatan dan turun tersebut dapat diartikan sebagai gambaran tentang betapa mudah dan lancarnya komunikasi itu.
Allah Swt. Tentulah Maha Mengetahui secara pasti dan akurat jarak antara Nabi Saw dengan malaikat Jibril as. Atau ia difahami dalam arti seandainya ada yang melihat mereka itu, maka dia akan berkata bahwa kedekatan Nabi Saw. dengan Jibril adalah sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat. Umar r.a pernah menguraikan kedatangan Jibril menanyakan tentang Islam, Iman dan Ihsan, malaikat Jibril ketika itu begitu dekat, sehingga menyandarkan kedua lututnya ke kedua lututnya. Begitulah dalam mencari ilmu kita harus mau berdekatan dengan guru. firmanNya [ما أوحي] mengisyaratkan bahwa wahyu yang disampaikan itu adalah sesuatu yang sangat agung, yang dampaknya terhadap umat manusia bahkan alam semesta amatlah besar.
·         Surat an-Nahl 43-44
Artinya: dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,
            Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kepada umat manusia kapan dan di mana pun, kecuali orang-orang lelaki, yakni jenis manusia pilihan, bukan malaikat yang kami beri wahyu kepada mereka antara lain melalui malaikat Jibril maka wahai orang-orang yang ragu atau tidak tahu bertanyalah kepada ahl adz-Dzikr, yakni orang-orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Para ulama menjadikan kata [رجال] pada ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa semua manusia yang diangkat Allah sebagai rasul adalah pria, dan tidak satu pun yang wanita.
            Kata [أهل الذّكر] pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti para pemuka agama Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para rasul yang diutus Allah Swt. Ada juga yang memahami istilah ini dalam arti sejarawan, baik muslim maupun non-muslim.
            Kata  in/ jika  pada ayat diatas yang biasanya digunakan menyangkut  sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan yang dipaparkan oleh Nabi saw. Dan Al-Quran sudah demikian jelas, sehingga diagukan adanya ketidaktahuan, dan dengan demikian penolakan yang dilakukan kaum musryikin itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tapi sikap keras kepala.
            Di sisi lain,perintah untuk bertanya kepada Ahl al-Kitab yang dalam  ayat ini mereka digelari ahl adz-Dzikr menyangkut apa yang tidak  diketahui, selama mereka  dinilai berpengetahuan  dan objektif, menunjukan betapa Islam sangat terbuka dalam perolehan pengetahuan, seperti sabda Nabi Saw. : “Hikmah adalah sesuatu yang didambakan seorang mukmin, dimanapun dia menemukannya, maka dia yang lebih wajar mengambilnya.” Demikian juga dengan ungkapan yang popular dinilai sebagai sabda Nabi Saw. walaupun bukan, yaitu “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri cina.” itu semua merupakan landasan untuk menyatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam bersifat universal, terbuka, serta manusiawi dalam arti harus dimanfaatkan oleh dan untuk kemaslahatan seluruh  manusia.
            Ayat diatas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi persona kedua yang ditunjukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw. agaknya hal ini mengisyaratkan penghormatan kepada beliau dan bahwa beliau termasuk dalam kelompok para rasul yang diutus Allah, bahkan kedudukan beliau tidak kurang jika enggan berkata lebih tinggi dari mereka sebagaimana dikesankan oleh ayat berikut.
Artinya : Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu alQuran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,
            Para rasul yang kami utus sebelummu itu semua membawa keterangan-keterangan, yakni mukjizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul, dan sebagian membawa pula kitab-kitab , yakni kitab yang mengandung ketetapan hukum dan nasihat yang seharusnya menyentuh hati ,dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, yakni al-Quran, agar engkau menerangkan kepada seluruh manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka yakni al-Quran  itu, semoga dengan penjelasanmu mereka mengetahui dan sadar dan supaya mereka senantiasa  berpikir lalu menarik pelajaran utuk kemaslahatan hidup duniawi dan uhkrawi mereka.
            Salah satu nama al-Quran adalah adz-Dzikr yang dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. al-Quran dinamai demikian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia apa yang dia berpotensi melupakannya dari kewajiban, tuntunan an peringatan yang seharusnya dia selalu ingat, laksanakan dan indahkan. Di sisi lain, tuntunan dan petunjuk-petunjuknya harus pula selau ingat dan dicamkan.
            Ayat diatas menggunakan dua patron yang berbeda menyangkut turunnya al-Quran. Terhadap Nabi Saw. digunakan kata anzalna yang menurut beberapa ulama mengandung makna turun sekigus, sedang kata turun yang digunakan untuk manusia adalah nuzilla yang mengandung makna turun berangsur-angsur. Hal ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa manusia secara umum mempelajari dan melaksanakan tuntunan al-Quran secara bertahap sedikit demi sedikit dan dari saat ke saat.
·         Al-Kahfi 65-70
Artinya : Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?. "Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?". Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".
            Setelah sebelumnya Nabi Musa diperintahkan oleh Allah Swt untuk mencari hambaNya yang lebih pandai dari dirinya (Nabi Khidir a.s) di tempat bertemunya 2 buah lautan bersama muridnya Yusa bin Yusya bin Nun a.s. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diatara hamba-hambaku Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Orang ini adalah Khidir a.s sebagaimana ditunjukkan oleh hadist-hadist shohih dari Nabi Saw.
            Allah Ta’ala memberitahukan perkataan Musa kepada Khidir yang diberi ilmu tertentu oleh Allah, ilmu yang tidak deberikan kepada Musa, sebagaimana Allah pun memberi Musa ilmu yang tidak diberikan kepada Khidir. “Musa berkata kepada Khidir ‘Bolehkah aku mengikutimu?’sebagai permintaaan belas kasihan, bukan untuk memaksa. Inilah adab seorang pelajar terhadap gurunya. Adapun ucapan Musa, ”Agar engkau mengajariku sebagaian ilmu yang benar di antar ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” merupakan permintaaan bimbingan terhadap ilmu bermanfaat dan amal sholeh yang telah diajarkan Allah kepada Khidir. Pada saat itulah Khidir menjawab kepada Musa, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” Maksudnya, kamu tidak akan sanggup menyertaiku lantaran kamu akan melihat tindakan-tindakanku yang bertentangan dengan syariatmu. Masing-masing kita memiliki ilmu Allah yang tidak saling kita kuasai. “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” kamu tidak akan menyukaiku lantaran apa yang tidak kamu ketahui. Sebenarnya apa yang aku perlihatkan itu adalah sesuai dengan hikmah dan kemaslahatan dari Allah. Namun, hal itu hanya diketahui oleh aku.
“Musa berkata, Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar” terhadap tindakan-tindakanmu. Dan aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apa pun. Pada saat itulah, Khidir member syarat kepada Musa, “Khidir berkata, Jika kamu mengikuti aku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang apa pun sampai aku sendiri menerangkaannya kepadamu, yakni sebelum aku menjelaskan tindakanku jangan kamu bertanya kepadaku.”

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A.     Pendahuluan

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B.     Mendorong Tindakan Belajar

             Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).
1.   Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.
2.   Faktor Psikologis
     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar      
     jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
     terpisah.
Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
2.1.   Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
2.2.  Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
2.3.  Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.
2.4.  Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
2.5.  Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

Surah Al-Fatihah, menjadi pembuka & Kunci kehidupan di Dunia & Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم Asma Alloh harus digunakan dalam kehidupan (bukan sekedar dibaca/dijadikan wiridan saja) الحمد لله رب العالمين...