Loading...

Selasa, 25 Oktober 2011

KUMPULAN TAFSIR TARBAWI

BAGIAN I (Al-Alaq: 1-5. Al-Ghasyiyah: 17-20)
Pada surat al-Alaq ayat1-5 merupakan ayat yang pertama diturunkan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw, merupakan ayat yang berisi kewajiban belajar bagi manusia sebagai makhluk ciptaannya yang mulia dikarenakan diberikannya akal dan juga hina jikalau tidak berilmu oleh karena itu dalam ayat ini Allah menyuruh Muhammad sebagai utusannya untuk membaca, membaca dan membaca sehingga mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka dengan membaca manusia dapat mengasah otak dan menjadikannya manusia yang pandai dan mampu mengoptimalkan akalnya yang telah diberikan kepadanya, oleh karena itu manusia wajib belajar untuk mengoptimalkan fungsi akalnya.
Pada surat al-Ghasyiyah ayat 17-20, Allah menciptakan segala sesuatu seperti unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung-gunung ditegakan dan bagaimana bumi dihamparkan memiliki maksud dan tujuann. Oleh karena itu kita sebagai makhluk ciptaannya yang telah dimuliakan dengan diberikan akal kepada kita hendaklah berpikir tentang apa-apa yang disebutkan Allah didalam ayat ini untuk itulah Allah mewajibkan kita untuk belajar menuntut ilmu agar dapat mengetahui maksud dari yang telah Allah umpamakan pada ayat ini. Maka dari itu hendaklah kita terus dan terus belajar sepanjang hayat yang merupakan kewajiban kita sebagai hambanya.
BAGIAN II (Al-Imran: 190-191. At-Taubah: 122. Al-Ankabut: 19-20)
Pada surat al-Imran ayat 190-191, menegaskan kepada orang-orang yang berakal yaitu manusia untuk terus belajar dalam hidupnya baik melalui alam semesta seperti yang tersirat di ayat ini maupun dari sumber yang lainnya dan sebagai makhluk ciptaannya yang telah diberikan akal oleh Allah untuk berpikir hendaklah kita senantiasa berasa di bawah ajarannya dan selalu mengingat kepada dzat yang memberi kita kenikmatan akal untuk berpikir.
Pada surat attaubah 122,  walaupun dalam keadaan darurat sepeti peperangan hendaklah menuntut ilmu harus tetap dilakukan oleh sebagian orang, ini menunjukan berjihad dalam menuntut ilmu sama dengaan berjihad melawan musuh Allah, jadi menuntut ilmu sama pentingnya dengan perang melawan musuh Allah Swt.
Surat al-Ankabut ayat 19-20, adalah Allah menyerukan kepada manusia untuk memperhatikan bagaimana penciptaan manusia yang menurut manusia itu sangat sulit sedangkan bagi Allah adalah hal yang mudah baginya, jadi manusia sebagai makhluk ciptaannya haruslah berusaha belajar melalui makhluk ciptaannya sehingga manusia menjadi lebih berguna hidup dimuka bumi dengan terus belajar dan mengamalkan apa-apa yang ia dapati dari makhluk ciptaan Allah yang maha segala-galanya.

TUJUAN PENDIDIKAN
BAGIAN  I (Al-Imran 138-139. Fath: 29)
Pada surat al-Imran 138-139, tujuan dari pendidikan islam adalah insan kamil yakni sebagai penerang dalam kegelapan bagi yang lainnya seperti yang tersurat pada ayat ini yakni al-Quran sebagai penerang umat manusia, itulah tujuan pendidikan dalam islam yakni orang yang sudah terdidik hendaklah mendidik orang lain yang masih tersesat, dan juga tujuan pendidikan Islam adalah beriman yang merupakan bagian dari insan kamil yang mana pada ayat ini orang yang beriman adalah memiliki derajat yang paling tinggi.
Pada surat fath ayat 29, salah satu tujuan pendidikan adalah memiliki manfaat bagi orang lain, walaupun hanya sedikit saja yang merupakan salah satu bagian dari insan kamil yang merupakan tujuan umum atau lazim dalam Islam selain bermanfaat hendaklah orang yang terdidik saling mengasihi, menyayangi, dan toleran terhadap orang yang seiman maupun yang tidak, terhadap orang yang berbeda suku ras dan bahasa hendaklah saling bertoleransi dalam kehidupan agar tercipta kedamaian yang abadi di alam semesta. 
BAGIAN II (Al-Hajj: 41. Al-Zarriyat: 56. Hud: 61)
Pada surat al-Imran ayat 138-139 adalah tujuan pendidikan yang terdapat pada ayat ini adalah bahwasannya manusia sebagi makhluk Allah senantiasa menjalankan perintahnya yakni menjalankan perintah yang telah ditetapknya dalam al-Quran dan senantiasa menjauhi larangannya yakni senantiasa menjadi insan kamil dalam segi aqidah dan akhlak.
Pada surat ad-Zariyat ayat 56, bahwasanya semua makhluk dimuka bumi baik yang berwujud maupun yang tidak hendaklah mengabdi kepadanya yang merupakan kewajiban kita sebagai makhluk ciptaannya. Hal ini merupakan perwujudan dari semua pengabdian kita sebagai hambaNya dan merupakan ajaran kepada semua makhluk hidup yag berakal yang merupakan makhluk yamg lemah dihadapanNya. Hal ini juga merupakan tujuan dari pendidikan Islam yakni supaya kita lebih mengabdi kepada Allah jikalau kita telah mengerti semua kewajiban hak kita kepadaNya.
Pada surat Hud ayat 61, Allah telah memenuhi hak kita sebagai mahkluk ciptaannya sehingga kita harus menunaikan kewajiban kita sebagai makhluk ciptaannya, yakni mengakui kebesaran dan keesaannya yang ia tunjukkan melalui semua ciptaannya dimuka bumi yang kita tinggali, jadi tujuan pendidikan disini adalah kita harus mengesakan Allah dan menjalani semua kewajibannya sebagai makhluk yang telah terpenuhi semua hak-haknya.

SUBYEK PENDIDIKAN
BAGIAN I (Ar-Rahman: 1-4. Najm: 5-6)
Pada surat ar-Rahman ayat 1-4 ditegaskan disini bahwa yang menjadi subjek pendidikan adalah seorang manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena diberikan olehnya seseuatu yang tidak ia berikan kepada makhluk ciptaannya yang lain yakni akal yang mengangkat derajat manusia sehingga manusialah yang berhak menjadi subjek pendidikan baik bagi sesama ataupun bagi makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Pada surat Najm ayat 5-6 ditegaskanya klasifikasi seorang pendidik atau siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan yakni seperti yang tersurat dalam ayat ini adalah seperti halnya seorang malaikat jibril yang mana beliau digambarkan sebagai berikut:
a.    Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu memecahkan masalah.
b.     Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah memiliki akal yang mumpuni dalam bidangnya yakni berkompeten dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai seorang subyek pendidikan.
c.   Menampakan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subyek pendidikan hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik dari dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya.
BAGIAN II (An-Nahl: 43-44. Al-Kahfi: 66)
Pada surat an-Nahl ayat 43-44 Allah Swt mengutus utusannya dengan terlebih dahulu memberikannya wahyu kepada utusannya, ini dikarenakan agar segala bentuk pertanyaan yang mungkin diajukan kepada utusannya dapat dijawab dan dipecahkan sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah dan tidak mungkin terjadi kedzaliman dalam hal ini.
Di karenakan semua jawaban yang diberikan oleh utusannya adalah datang dari tuhan, oleh karena itu, sebagai subyek pendidikan yang merupakan salah satu sumber pendidikan hendaklah memiliki segala pengetahuan yang sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan itu sendiri. Yakni sebagai seorang pendidik hendaklah mempersiapkan segala sesuatu sebelum mengadakan proses pembelajaran yang mana jikalau terdapat kasus-kasus pendidik dapat menyelesaikan apa yang muncul didalam proses pembelajaran. Maka tidak salah jika salah satu syarat sebagai seorang pendidik adalah memiliki kecerdasan pikiran mental dan juga spiritual yang digambarkan pada ayat ini.
Pada surat al-Kahfi ayat 66, subjek pendidikan bisa siapa saja yang berkompeten di dalam bidangnya tanpa terkecuali dan tanpa pandang bulu seperti pada ayat ini, ketika nabi Musa berguru kepada Khidir walaupun Khidir merupakan salah satu nabi sedangkan Musa merupakan nabi dan rasul tetapi Allah menyuruhnya untuk berguru atau menuntut ilmu kepada Khaidir dikarenakan Khaidir merupakan orang yang berkompeten dalam rangka mengajarkan Musa. Jadi sebagai seorang pendidik atau sebagai subjek pendidikan hendaklah menguasai seluk beluk bidang yang digelutinya dalam hal yang akan diajarkannya kepada peserta didik.
OBJEK PENDIDIKAN
BAGIAN I (At-Tahrim: 6. As-Syu’ara: 214)
Pada surat at-Tahrim ayat 6, menyuruh kepada manusia agar menjaga keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, dan penjaganya juga malaikat yang kasar dan keras yang tidak akan membantah perintah Allah Swt, jadi objek pendidikan yang tersurat pada ayat ini adalah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt,walaupun manusia sudah diberikan akal tetapi jikalau nafsunya yang lebih dominan maka akalnya akan terpengaruh ke arah yang negatif, oleh karena itu Allah Swt mewanti-wanti kepada makhluknya agar menjauhi segala sesuatu yang dapat menjerumuskannya kedalam api neraka oleh karena itu manusia perlu di didik agar tidak terjerumus dan melakukan hal-hal yang negatif melalui pendidikan.       
Pada surat as-Syu’ara ayat 214, manusia sebagai subjek pendidikan hendaklah memberi peringatan atau mengajak sesama manusia kepada kebaikan dikarenakan manusia selain sebagai subjek pendidikan merupakan objek pendidikan juga. 
BAGIAN II (At-Taubat: 122. An-Nissa: 170)
Pada surat at-Taubah ayat 122, Allah menyeru kepada kaum yang hendak berperang untuk tidak semuanya pergi untuk berperang melainkan sebagian dari mereka hendaknya menuntut ilmu agar mereka yang menuntut ilmu memberi peringatan kepada yang lain, dalam hal ini yang menjadi objek pendidikan adalah manusia dan manusia yang notabene merupakan makhluk yang berakal yang harus dididik dan dilatih agar tidak terjerumus kehal yang negatif jikalau akalnya tidak digunakan untuk hal yang positif.
Pada surat an-Nissa ayat 170, nabi Muhammad Saw diutus dengan membawa kebenaran kepada manusia, jadi manusia disini merupakan objek yang hendak dituju oleh Allah melalui rasulnya untuk diberikan kebenaran. Manusia sebagai tujuan dari dakwah Muhammad yang diutus oleh Allah merupakan objek dari dakwah Muhammad, dalam pendidikan manusia jugalah yang menjadi objek dikarenakan akal yang dimiliki manusia hendaklah dioptimalkan dan diberdayakan sehingga menjadi sesuatu yang baik dan terhindar dari kedzaliman .
METODE PENDIDIKAN
BAGIAN (Al-Maidah: 67. An-Nahl: 125)
Pada surah al-Maidah ayat 67, salah satu dari metode untuk menyampaikan ilmu dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan metode ceramah atau tabligh semua ilmu yang diturunkan Allah dimuka bumi ini. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dalam penyampaian informasi ilmu pengetahuan kepada semua objek pendidikan.
Pada surat-Nahl ayat 125, cara menyampaikan suatu pengetahuan hendaklah dilakukan dengan bijaksana dan terbuka bagi semua pendapat dan cara yang tersurat dalam ayat ini adalah dengan metode Tanya jawab dan juga menggunakan metode diskusi yang mana dapat membuka semua bentuk pemikiran yang berkembang agar tidak terjadi perbedaan yang mencolok dalam hasil dari pemikiran yang berkembang dalam suatu hal.
BAGIAN (Al-Araf: 176. Ibrahhim: 24-25
Pada surat al-Araf ayat 176, metode untuk menyampaikan suatu ilmu biasa mengunakan metode perumpamaan atau yang menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang memiliki akibat yang sama-sama buruknya sehingga darinya dapat dipetik pelajaran yang dapat memproteksi untuk melakukan tindakan tersebut sehingga terhindar darinya, metode ini umum digunakan agar objek pendidikan dapat berfikir dan dapat berempati terhadap akibatnya sehingga menjadi antipati terhadapnya.
Pada surat Ibrahim ayat 24-25, metode perumpamaan yang hendaklah digunakan harus merupakan perumpamaan yang baik dalam segala hal seperti yang diisyaratkan oleh ayat ini yaitu hendaklah membuat perumpamaan yang baik-baik saja agar mendapakan contoh yang baik sehingga objek pendidikan dapat menirunya dikarenakan perumpamannya baik-baik.


1 komentar:

  1. Terima kasih artikelnya.Minta izin untuk sumber di makalah saya boleh ?. saya akan cantumkan web anda. Terima kasih....

    BalasHapus